Pernah tidak, kamu menyampaikan pendapat di suatu tempat dan responnya biasa saja, bahkan terkesan diabaikan? Lalu beberapa menit kemudian, orang lain menyampaikan hal yang hampir sama dengan mu dan semua orang langsung mengangguk setuju. Bedanya cuma satu. Orang yang menyampaikan hal itu adalah laki-laki. Kalau kamu perempuan dan pernah mengalami ini, kamu tidak sendirian. Dan ini bukan kebetulan.
Ada pola yang sudah lama berjalan di masyarakat kita, mungkin tanpa banyak orang sadari. Ketika laki-laki berbicara, entah itu di forum diskusi, di rapat, di obrolan keluarga, atau bahkan di media sosial, suaranya diterima sebagai sesuatu yang layak didengar. Ia dianggap percaya diri, tegas, dan tahu apa yang ia bicarakan. Tapi ketika perempuan melakukan hal yang persis sama, label yang muncul berbeda. Ia disebut terlalu banyak bicara, sok tahu, cari perhatian, atau yang paling sering terdengar yaitu tidak tahu diri. Padahal yang mereka lakukan sama persis yaitu berpendapat.
Inilah yang disebut standar ganda. Satu perilaku dinilai dengan dua cara berbeda hanya karena jenis kelaminnya berbeda. Dan standar ganda ini tidak hanya hidup di tempat-tempat formal. Ia ada di mana-mana, di meja makan, di grup WhatsApp keluarga, di kolom komentar media sosial, di percakapan sehari-hari yang kita anggap sepele.
Coba perhatikan bagaimana orang bereaksi ketika perempuan berani mengungkapkan pendapatnya dengan lantang. Tidak jarang, reaksi pertama yang muncul bukan tentang isi pendapatnya tapi tentang cara ia menyampaikannya. Kok galak banget. Perempuan itu harusnya lebih kalem. Ngomongnya jangan keras-keras. Seolah ada aturan tidak tertulis bahwa perempuan boleh punya pendapat, asal disampaikan dengan cara yang tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Sedangkan laki-laki yang berbicara dengan nada yang sama, tegas dan tidak basa-basi, justru dipandang sebagai sosok yang berwibawa dan berpendirian kuat. Tidak ada yang menyuruhnya bicara lebih pelan. Tidak ada yang mempertanyakan caranya.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika penghakiman itu datang bukan dari orang asing, tapi dari orang-orang terdekat. Dari keluarga yang berkomentar saat perempuan terlalu banyak bicara di acara keluarga. Dari teman yang berbisik saat perempuan berani menyuarakan pendapatnya. Dari lingkungan yang sudah lama terbiasa dengan perempuan yang diam, sehingga perempuan yang bicara terasa seperti sesuatu yang perlu dikoreksi.
Lama-lama, tanpa disadari, banyak perempuan yang mulai menyesuaikan diri. Bukan karena mereka tidak punya pendapat. Bukan karena mereka tidak tahu. Tapi karena mereka sudah terlalu lelah untuk terus-menerus membuktikan bahwa suara mereka layak untuk didengar. Mereka memilih diam, bukan sebagai pilihan yang mereka inginkan, tapi sebagai cara untuk bertahan dari penghakiman yang tidak ada habisnya.
Dan di sinilah ironinya. Perempuan yang diam pun tidak luput dari penghakiman. Ia dianggap pasif, tidak punya pendirian, tidak berani. Mau bicara salah, mau diam juga salah. Perempuan selalu berada di posisi yang serba tidak bisa menang. Lalu dari mana semua ini bermula?
Jawabannya tidak jauh. Ia bermula dari cara kita dibesarkan. Sejak kecil, anak perempuan diajarkan untuk tidak terlalu menonjol, untuk berbicara secukupnya, untuk tidak terlihat terlalu pintar karena nanti dianggap menakutkan. Sementara anak laki-laki didorong untuk berani mengambil ruang, untuk bersuara, untuk tidak takut salah. Ketika keduanya tumbuh dewasa, pola itu tidak hilang. Ia ikut terbawa ke dalam cara mereka berinteraksi, cara mereka diperlakukan, dan cara dunia memandang mereka.
Hasilnya adalah apa yang kita lihat sekarang. Perempuan yang harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mendapat setengah dari kepercayaan yang diberikan begitu saja kepada laki-laki. Perempuan yang harus memilih antara dianggap terlalu pendiam atau terlalu berisik, tanpa pernah ada titik tengah yang dianggap pas oleh semua orang.
Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapapun. Karena sejujurnya, banyak dari kita termasuk perempuan sendiri melakukan penghakiman ini tanpa menyadarinya. Kita sudah terlalu lama hidup dalam sistem yang menganggap suara perempuan sebagai sesuatu yang perlu dibatasi, sehingga ketika ada perempuan yang melampaui batas itu, reaksi kita adalah rasa tidak nyaman, bukan dukungan.
Tapi justru karena itu, perubahan perlu dimulai dari kesadaran. Dari kemauan untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apakah saya menilai pendapat ini berdasarkan isinya, atau berdasarkan siapa yang mengucapkannya? Apakah saya memberi ruang yang sama kepada semua orang untuk berbicara, atau ada standar berbeda yang saya terapkan tanpa sadar?
Perempuan yang berani berbicara bukan sedang mencari perhatian. Ia tidak sedang sok tahu. Ia hanya sedang melakukan hal yang paling manusiawi, yaitu berpikir dan berani mengungkapkan pikirannya.
Dunia yang adil bukan dunia di mana perempuan harus meminta izin untuk bersuara. Dunia yang adil adalah dunia di mana suara dinilai dari bobotnya, bukan dari jenis kelamin orang yang mengucapkannya.
Dan perubahan itu dimulai dari kita. Dari cara kita mendengarkan. Dari cara kita merespons. Dari keputusan kecil setiap hari untuk tidak lagi menghakimi perempuan yang berani bicara, melainkan benar-benar mendengarkannya.
Referensi:
Ningsih, P. S. (2023). Wacana Otonomi Seksualitas Perempuan: Sisilism Menolak Standar Ganda. Calathu: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(2), 93–108. https://doi.org/10.37715/calathu.v4i2.3316
Penulis: Nadiyah Pratama Syofyan adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Padang yang tertarik pada isu kesetaraan gender dan keadilan sosial. Ia percaya bahwa setiap perempuan berhak untuk bersuara dan didengarkan tanpa syarat apapun.
Editor: Hamimie
