Kalau bicara soal ketidakadilan gender, kita terlalu jauh mendalaminya. Pembicaraan kita biasanya langsung melompat ke urusaan yang jauh lebih besar seperti kuota perempuan di parlemen, kesenjangan upah kerja, atau sekedar fomo (fear of missing out) terhadap kasus pemukulan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sayangnya, ada yang luput dari pandangan kita. Ketimpangan yang paling nyata justru tumbuh subur di tempat yang paling terdekat dengan kita sendiri yaitu di bawah atap rumah kita. Keluarga yang selalu di gambarkan sebagai tempat paling aman, nyaman, dan penuh kasih sayang dalam realitasnya sering kali menjadi panggung utama dalam dominasi kekuasaan itu dipraktikkan secara absolut.
Kesadaran pahit ini tidak saya temukan di dalam ruang kelas atau dari lembaran buku pelajaran yang kaku. Saya menemukannya langsung di rumah kakek dan nenek saya dari pihak ibu. Walaupun kejadiannya telah lewat beberapa tahun yang lalu, namun ketika mengingat interaksi mereka memberikan sebuah tamparan yang cukup menyakitkan bagi keluarga besar dan saya terutama sebagai seorang mahasiswa. Di sana saya melihat bagaimana sebuah relasi yang beracun bisa saja langgeng dalam puluhan tahun. Bukan hanya perihal pelakunya yang dominan, tetapi juga karena sistem budaya di masyarakat kita berhasil memaksa korbannya untuk memaklumi rasa sakitnya sendiri. Walaupun kejadiannya telah lewat beberapa tahun yang lalu
Kakek saya adalah bukti nyata dari maskulinitas kuno yang keras kepala, sifat egois ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anaknya di masa lalu, tetapi tetap konsisten beliau tunjukkan kepada nenek bahkan di usia mereka yang sekarang sudah senja. Di rumah itu posisi kakek adalah penguasa tunggal. Semua perkataannya adalah sebuah hukum mutlak yang tidak boleh didebatkan oleh siapapun. Hal-hal sepele seperti terlambat menyajikan segelas teh hangat atau salah menaruh barang pribadi kakek, sudah lebih dari cukup untuk membuat seisi rumah tegang akibat kemarahan beliau yang meledak-ledak.
Sialnya, kemarahan kakek sering kali tidak berhenti pada kata-kata, melainkan berujung pada kekerasan fisik. Dimulai dari bentakan bernada tinggi, kakek tidak akan segan melemparkan benda apa saja yang ada di jangkuannya mulai dari gelas, asbak rokok, hingga tongkat jalannya sendiri. Bicara masalah tongkat, tongkat itu adalah pengingat sebuah kecelakaan masa lalu yang mereka alami saat pulang bersama dari kebun karena jalanan yang sangat licin, sehingga membuat kaki kakek pincang.
Sebelum kecelakaan tersebut, kakek adalah sosok yang memegang kendali penuh karena kekuatan fisiknya. Namun, begitu ruang geraknya dibatasi oleh tongkat, beliau tampaknya mengalami gejala post-power syndrome. Kehilangan kekuatan fisik dan otoritas masa mudanya justru memicu rasa frustasi yang mendalam. Alih-alih melunak karena keadaan tersebut, keterbatasan fisik itu sama sekali tidak menurunkan egonya. Kakek justru melampiaskan kendali kuasanya lewat tindakan yang bisa di bilang agresif yang sangat tidak menghargai nenek sebagai pasangan hidupnya.
Tentu saja kami sekeluarga besar tidak akan tinggal diam melihat fisik dan psikologis nenek terus menerus terancam. Kami berulang kali menegur kakek dan membujuk nenek untuk terus berbicara agar berani bersuara dalam menolak perlakuan kasar tersebut, atau setidaknya mencari perlindungan dari perlakuan tersebut. Namun di sinilah letak frustasinya. Nenek selalu menolak untuk di selamatkan. Beliau memilih untuk bertahan, menutup mata dari rasa sakitnya, dan membungkus perlakuan kasar itu dengan kalimat pasrah, ibarat ini semua adalah nasib dan kodrat nenek sebagai istri. Semua itu beliau lakukan demi menjaga keutuhan rumah tangga nya.
Mengapa seorang korban kekerasan justru menolak ukuran tangga penolong untuk diselamatkan ketika kesempatan itu ada?
Melihat dari kacamata sosiologi gender, apa yang dialami nenek adalah sebuah potret sempurna dari bagaimana hegemoni patriaki bekerja dengan sangat rapi. Hal ini sangat berbahaya karena tidak lagi menindas dengan cara memaksa dari luar, melainkan menyusup dan menguasai pikiran korbannya sendiri. Akibatnya, korban merasa bahwa penderitaan yang ia alami adalah hal yang wajar dan memang sudah semestinya diterima begitu saja.
Tindakan kakek yang main tangan bukan sekadar luapan emosi spontan, melainkan instrumen kekuasaan untuk menegakkan kepatuhan mutlak. Di saat yang sama, nenek mengalami subordinasi dan marginalisasi sekaligus. Haknya untuk berpendapat atau sekadar merasa aman di rumah sendiri dilebur di bawah otoritas kakek. Lebih parah lagi, seluruh tenaga nenek untuk mengurus rumah tangga dianggap tidak berharga, menempatkan beliau layaknya seorang pelayan yang tidak punya hak untuk mengeluh.
Kenapa nenek bisa sepasrah itu? Karena ada stereotip masyarakat tradisional yang sudah telanjur mengakar di kepalanya bahwa istri yang “baik dan terhormat” adalah ia yang selalu sabar, pasrah, dan kuat menahan penderitaan demi menjaga nama baik keluarga. Stereotip inilah yang menjadi beban psikologis luar biasa berat, membuat nenek merasa bahwa melawan suami atau pergi dari rumah adalah sebuah dosa moral yang besar. Kakek bertindak keras karena tumbuh di zaman yang mengaitkan maskulinitas dengan dominasi fisik, sedangkan nenek bertahan karena proses internalisasi nilai sejak muda yang mengajarkan bahwa pengabdian kepada suami sifatnya mutlak, tanpa syarat.
Di sinilah perbedaan cara pandang itu terjadi. Bagi kami generasi muda, tindakan kakek adalah kriminalitas dan ketidakadilan yang harus dihentikan. Namun bagi nenek, bertahan dalam situasi menegangkan tersebut adalah bentuk kesetiaan, pengorbanan suci, dan bernilai ibadah. Melihat realitas ini terjadi di dalam keluarga sendiri memicu badai emosi yang campur aduk ada rasa kasihan yang mendalam, tapi juga rasa jengkel karena masukan kami selalu mentah. Namun, ilmu sosiologi gender menyelamatkan saya dari perilaku menyalahkan korban (victim blaming). Nenek bukanlah wanita tua yang keras kepala tanpa alasan. Beliau adalah manusia yang terjebak di dalam labirin konstruksi sosial masa lalu yang jalurnya terlalu kuat mengikat kepalanya.
Dampak dari normalisasi kekerasan ini sangat destruktif. Ia tidak hanya mengikis kesehatan mental nenek, tetapi juga merusak atmosfer psikologis seluruh keluarga besar. Jika tidak dikritisi, pola komunikasi yang opresif ini berbahaya karena bisa menjadi normalisasi intergenerasional di mana generasi berikutnya mengira bahwa kekerasan adalah bumbu yang lumrah dalam sebuah pernikahan.
Sebagai langkah nyata, hal pertama yang harus kami lakukan adalah tetap memberikan dukungan emosional tanpa menghakimi (non-judgmental support). Keluarga besar harus konsisten mendampingi dan menjaga nenek tanpa menyudutkan pilihan hidupnya, agar beliau selalu tahu bahwa dia memiliki ruang aman kapan pun dia butuh.
Langkah kedua yang paling krusial bagi saya sebagai mahasiswa adalah memutus siklus ini. Tugas terpenting generasi kita adalah memastikan bahwa pola hubungan yang timpang dan menggunakan kekerasan seperti ini tidak akan pernah diulang di masa depan. Pola yang tidak sehat ini harus berhenti di generasi kakek-nenek saya, dan tidak boleh mendapatkan tempat dalam hubungan pernikahan saya maupun generasi penerus keluarga saya kelak. Mengakhiri patriarki bukan berarti meruntuhkan institusi keluarga, melainkan merekonstruksinya menjadi kemitraan yang setara dan sehat. Karena pada akhirnya, menghormati pasangan tidak akan pernah sama dengan pasrah diinjak-injak, dan menjaga keutuhan rumah tangga tidak boleh ditukar dengan keselamatan fisik seorang perempuan.
Daftar Pustaka:
Alimi, R., & Nurwati, N. (2021). Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Jurnal Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (JPPM), 2(1), 20–27.
Badruddin, S., Halim, P., & Wulandari, F. T. (2024). Pengantar Sosiologi. Zahir Publishing.
Khoiriyah, I. M., Masngudi, & Mahardhikasih, Q. (2025). Paradoks keluarga sakinah: Relasi kuasa dan wacana patriarki. At-Thariq: Jurnal Studi Islam dan Budaya, 5(1), 1–15.
Penulis: Naila Amelia Putri merupakan seorang mahasiswi program studi PPKn yang memiliki ketertarikan mendalam pada isu sosiologi gender dan hak-hak Perempuan dalam institusi keluarga. Ia percaya bahwa tulisan refelektif bisa menjadi langkah awal generasi muda untuk memutus rantai hegemoni patriaki. Dapat di jumpai melalui akun Instagram @nailameliaptri
Editor: Hamimie
