Mengapa Masih Dipersalahkan?

”Makanya suami itu harus dihargai, jangan karena kamu ikut mencari uang malah merasa lebih dominan. Lihat kan sekarang malah ditinggalin sama suaminya.” Kalimat seperti itu pernah saya dengar langsung dari para tetangga yang tengah membicarakan perceraian yang dialami oleh tante saya. Mendengar ucapan tersebut saya merasa sedih dan bertanya tanya kepada diri sendiri, mengapa perempuan yang telah bekerja keras membantu memenuhi kebutuhan keluarga justru lebih mudah disalahkan ketika terjadi masalah dalam rumah tangganya. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa ketidakadilan gender masih sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga saya sendiri.

Saat ini, perempuan memiliki kesempatan yang semakin luas untuk bekerja, berkarier, dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Kehadiran perempuan di ruang publik merupakan salah satu bentuk kemajuan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, masih banyak perempuan yang harus memikul beban ganda, yaitu menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus bertanggung jawab terhadap sebagian besar pekerjaan domestik.

Fenomena ini masih sering ditemukan di masyarakat dan sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Fenomena beban kerja ganda ini saya temui langsung dalam lingkungan keluarga saya sendiri. Tante saya bekerja sebagai penjahit di sebuah konveksi di bawah yayasan Pesantren yang ada di Sumatera Barat. Setiap hari, beliau berangkat bekerja dari pagi hingga sore dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Penghasilan yang diperolehnya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan keempat anaknya.

Sementara itu, suaminya bekerja sebagai tukang dengan penghasilan yang tidak menentu. Karena penghasilan tante saya lebih stabil, beliau menjadi pihak yang paling banyak berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Meskipun demikian, setelah pulang bekerja, beliau masih harus menyelesaikan sebagian besar pekerjaan rumah tangga tanpa adanya pembagian tugas yang seimbang.

Kondisi tersebut menyebabkan tante saya mengalami kelelahan fisik dan emosional. Tidak jarang, kelelahan yang dirasakan memengaruhi suasana hati dan hubungan dengan anggota keluarga lainnya. Sayangnya, situasi ini masih sering dianggap wajar karena dalam banyak keluarga, pekerjaan domestik masih dipandang sebagai tanggung jawab utama perempuan.

Jika ditelaah lebih dalam, persoalan ini tidak terlepas dari kuatnya budaya patriarki dalam masyarakat. Budaya tersebut menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan keluarga, sementara perempuan lebih sering dibebani tanggung jawab domestik. Akibatnya, meskipun perempuan turut bekerja di luar rumah, pembagian kerja di dalam rumah belum tentu berubah secara setara.

Selain itu, konstruksi sosial yang berkembang sejak kecil turut memengaruhi cara masyarakat memandang peran gender. Dalam banyak keluarga, anak perempuan lebih sering dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga, sedangkan anak laki-laki lebih banyak diarahkan untuk berfokus pada aktivitas di luar rumah. Pola tersebut bukanlah kodrat biologis, melainkan hasil konstruksi sosial yang dapat berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Fenomena beban ganda juga dapat memunculkan persoalan lain dalam keluarga. Dalam kasus yang dialami tante saya, penghasilan yang lebih besar justru memicu konflik rumah tangga. Suaminya merasa kehilangan kepercayaan diri dan merasa dirinya rendah karena tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial sebagai pencari nafkah utama. Akibatnya, hubungan mereka semakin memburuk hingga berakhir pada perceraian.

Hal yang memprihatinkan adalah sebagian masyarakat justru menyalahkan perempuan atas perceraian tersebut. Perempuan yang memiliki penghasilan lebih besar sering kali dianggap tidak menghormati suami. Jika situasi yang sama dialami oleh laki-laki, kemungkinan besar respons masyarakat akan berbeda. Perbedaan cara pandang ini menunjukkan bahwa stereotip gender masih sangat kuat dalam kehidupan masyarakat.

Padahal, stereotip gender tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga laki-laki. Tuntutan sosial yang mengharuskan laki-laki selalu menjadi pencari nafkah utama dapat menimbulkan tekanan psikologis ketika kondisi ekonomi keluarga berubah. Oleh karena itu, kesetaraan gender seharusnya dipahami sebagai upaya membangun hubungan yang saling mendukung dan berbagi tanggung jawab secara adil, bukan sebagai persaingan antara laki-laki dan perempuan.

Pembagian peran yang lebih setara dalam keluarga perlu mulai dibangun sejak dini. Anak laki-laki dan perempuan perlu diajarkan bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara suami dan istri juga menjadi kunci penting dalam menciptakan hubungan keluarga yang sehat dan harmonis. Ketika setiap anggota keluarga mampu menyampaikan keinginan, kebutuhan, dan kesulitannya dengan jujur, maka pembagian peran dapat dilakukan secara adil tanpa menimbulkan beban yang berat pada salah satu anggota keluarga.

Pada akhirnya, beban ganda yang dialami perempuan bukanlah sesuatu yang seharusnya dianggap wajar. Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang dan pola pikir terhadap peran gender dalam keluarga. Ketika laki-laki dan perempuan dapat berbagi tanggung jawab secara adil, keluarga tidak hanya menjadi lebih harmonis, tetapi juga menjadi ruang yang aman dan mendukung bagi seluruh anggota keluarganya. Kesetaraan dalam keluarga bukanlah ancaman terhadap nilai-nilai keluarga, melainkan fondasi penting untuk membangun keluarga yang lebih kuat, sejahtera, dan berkeadilan.

REFERENSI

Hidayati, N. (2015). Beban Ganda Perempuan Bekerja (Antara Domestic dan Publik). Muwazah, 7(2), 108–119.

Fitriani, H., Susanti, L. D., & Astuti, R. Y. (2020). Konflik Wanita Karir dengan Beban Ganda (Double Burden). SETARA: Jurnal Studi Gender dan Anak, 2(1), 153–171.

Ramadani, N. (2016). Implikasi Peran Ganda Perempuan dalam Kehidupan Keluarga dan Lingkungan Masyarakat. Sosietas, 6(2).

Chandra,K., & Fatmariza,F. (2020). Beban Ganda: Kerentanan Perempuan Pada Keluarga Miskin. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 3 (4), 430-439.

Al Firda, A.L., Diana, N. Z., & Yulianti, Y. (2021). Beban Ganda Perempuan Dalam Rumah Tangga Di Soka Gunungkidul: Pandangan Feminis Dan Islam. EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, 10 (1), 10-20.

Penulis: Mita Mutia Hati merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Padang. Ia memiliki minat pada isu sosial, pendidikan, dan kesetaraan gender, serta tertarik mengembangkan diri dibidang kepenulisan, khususnya mengenai isu kesetaraan gender. Ia percaya bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk menyuarakan pengalaman dan mendorong perubahan sosial.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya