Layar ponsel itu bergeming, jam dinding di kamar lamaku berdetak bising, kontras dengan keheningan yang tiba-tiba merayap di sela-sela jari. Biasanya, jam-jam seperti ini dipenuhi oleh petikan suaramu di seberang telepon suara yang dulu menjadi obat paling ampuh untuk mengusir lelahku. Namun kini, malam terasa begitu hampa. Suaramu tak lagi menjadi penawar; ia telah bertransformasi menjadi hantu ingatan yang gemar mengetuk kepala saat sepi mulai merayap.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme dada yang mendadak menyempit, Anxiety itu datang lagi Labirin kecemasan dan riuh rendahnya overthinking kembali menyergap. Aku tahu, di sini akulah yang bersalah, ego, rasa ingin memiliki yang berlebihan, serta sikap posesifku yang dulu meledak-ledak telah mencekik ruang gerakmu.
Aku selalu didera ketakutan akan kehilangan namun ironisnya, ketidakpastian yang kau beri justru menjadi pupuk yang membuat cemas ini tumbuh subur di kepala, kita telah mengerahkan segala usaha aku bahkan mencintaimu dengan cara yang ugal-ugalan,tapi malam itu, kamar khayalan yang kita bangun runtuh seketika dalam semalam.
Hubungan kita terkuras habis oleh gengsi dan ketidakmampuan menurunkan ego di hadapan satu sama lain. Saat selisih paham meretakkan segalanya, kita memilih menyudahi ikatan ini,kekalahanku yang paling telak adalah ketika aku harus bersaing dengan bayang-bayang masa lalumu yang belum selesai kau makamkan.
Dipertahankan memang menyakitkan, namun melepaskan pun batin ini belum rela aku menyerah,” bisikku pada sunyi malam.Minggu-minggu berganti menjadi bulan dan ku belajar berjalan pincang, menyeret sisa-sisa kenangan yang berserakan. Sesekali, kabar tentangmu mampir di linimasa media sosialku.
Di sana, di bawah langit Turki yang indah, kamu terlihat luar biasa. Jas putih dokter yang dulu sering kita bicarakan kini selangkah lagi akan mendekap tubuhmu.Melihat senyum sumringahmu, ada titik getir yang mencubit dada, aku harus menerima kenyataan bahwa alasan di balik bahagiamu saat ini tak lagi melibatkan aku
Kamu berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih hebat setelah lepas dari kekanganku. Aku tersenyum, jujur aku bangga, doa-doa yang selalu aku langitkan untukmu ternyata dikabulkan oleh Tuhan, meskipun garis takdir-Nya harus memisahkan kita.
Aku cukup menjadi penonton di bangku paling belakang sekarang,berjuang sendirian dalam hubungan kemarin ibarat menggenggam pecahan kaca semakin erat aku mempertahankanmu, semakin dalam luka yang kau torehkan di telapak tangan dan dari luka sedalam samudra itu, aku memetik satu pelajaran mahal memberikan seluruh effort tanpa menyisakan ruang untuk mencintai diri sendiri adalah sebuah kekeliruan besar.
Hubungan yang sehat tidak akan pernah lahir dari dua orang yang belum selesai dengan masa lalunya kini, ketika anxiety itu datang menyergap, aku tidak lagi mencari suaramu sebagai obatnya,aku belajar memeluk kecemasanku sendiri, mengatur napas dengan tenang, dan membisikkan pada diri sendiri bahwa dunia belum berakhir hanya karena satu orang memilih pergi.
Aku memaafkan egoku, aku sedang belajar menjadi rumah bagi diriku sendiri, merawat setiap badai tanpa perlu merepotkan genggaman tanganmu lagi, menyayangimu secara ugal-ugalan adalah kesalahan terindah, tetapi belajar tahu kapan harus berhenti berjalan di jalan yang buntu adalah penyelamatan terbaik untuk jiwaku
Kita adalah dua garis yang sempat bersinggungan, menciptakan cerita yang hebat, sebelum akhirnya kembali menjadi dua garis sejajar yang berjalan sendiri-sendiri menuju masa depan yang berbeda. Lembaran baru telah kubuka.
Kamu sudah bahagia dengan duniamu di sana, dan sekarang adalah waktuku untuk menemukan bahagiaku sendiri di sini.Sebab pada finalnya, kita sama-sama menang. Kamu memenangkan mimpimu di langit yang baru, dan aku memenangkan kembali diriku yang sempat hilang di masa lalumu.