Ironi Perempuan Terpelajar yang Dipaksa Menjadi ‘Pilar Tanpa Cacat’

Perempuan Indonesia saat ini hidup dengan lebih banyak kesempatan, salah satunya menempuh Pendidikan tinggi, berbeda dengan zaman kolonial. Pada penelitian Ardiansyah, M.Syahran Jailani, dan As’ad Isma menyatakan bahwa pada masa kolonial, perempuan memang sangat sulit sekali mengakses pendidikan, perempuan hanya dituntut menjadi manusia yang hanya berkutat di dapur atau pekerjaan domestic saja. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, terutama setelah kemerdekaan Indonesia pandangan masyarakat sudah mulai berubah, perempuan mulai memperoleh  akses Pendidikan dan ruang yang lebih luas dalam kehidupan publik. Bahkan saat ini mereka tidak lagi hanya menjadi saksis perubahan, melainkan actor utama yang membentuk masa depan melalui Pendidikan.

Berdasarkan data BPS Indonesia terbaru tahun 2025 , tingkat partisipasi sekolah penduduk perempuan usia 7-23 tahun telah mencapai angka 76,41%, melampaui laki-laki yang berada pada angka 74,47%. Dominasi akademik ini semakin nyata terlihat pada jenjang pendidikan tinggi, di mana persentase perempuan yang telah menempuh bangku kuliah hingga memiliki ijazah Perguruan Tinggi tercatat lebih tinggi, yakni sebesar 11,98%, dibandingkan laki-laki yang berada di angka 10,02%  (Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2025). Angka-angka ini menunjukkan bahwa perempuan saat ini memiliki peluang dan pencapaian akademik yang lebih besar dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Sayangnya, perubahan itu juga diiringi oleh ekspetasi atau tuntutan baru terhadap Perempuan modern, muncul sebuah realitas yang sunyi dan menekan.

Pendidikan, yang semestinya menjadi jalan kebebasan, perlahan bergeser menjadi standar baru yang membebani. Sebagaimana pada penelitian oleh Ayesha Khurshid , perempuan kini terjebak dalam tuntutan untuk menjadi ‘perfect domestic subjects’ (subjek domestik yang sempurna). Mereka dituntut cerdas secara akademik dan produktif dalam karier, namun di saat yang sama harus membuktikan bahwa pendidikan tersebut tidak merusak peran mereka sebagai pilar domestik yang sempurna tanpa cela.

Dalam penelitian Ayesha Khurshid juga mempaparkan bagaimana seorang perempuan yang bernama Bilquise yang meras bahwa setiap kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab domestik akan dianggap sebagai akibat dari pendidikan dan ia merasa bertanggung jawab menjaga citra perempuan parhi likhi (perempuan berpendidikan tinggi) sebagai ibu rumah tangga ideal.

Pendidikan tinggi akhirnya tidak lagi dipandang semata sebagai ruang pengembangan diri atau kebebasan menentukan pilihan hidup, melainkan perlahan berubah menjadi syarat tambahan untuk dianggap sebagai “perempuan berhasil” versi modern.

Media sosial dan budaya digital turut memperkuat standar ini melalui berbagai narasi tentang perempuan hebat yang mampu sukses di ruang publik sekaligus tetap sempurna dalam mengurus rumah tangga. Akibatnya, banyak perempuan mengalami tekanan untuk selalu berhasil di semua aspek kehidupan secara bersamaan. Padahal, setiap perempuan memiliki kondisi, kapasitas, dan pilihan hidup yang berbeda. Tekanan terhadap perempuan modern yang berpendidikan tinggi ini semakin terlihat dalam fenomena Mommy Wars di media sosial.

Dikutip dari artikel BP4PUSAT, 2026, perdebatan mengenai pilihan perempuan, apakah menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, sering kali berkembang menjadi ajang saling menghakimi antarperempuan. Fenomena ini sebetulnya bukanlah hal yang baru. Hal ini sudah pernah dibahas pada buku Mommy Wars, Leslie Morgan Steiner yang menjelaskan tentang perempuan yang memiliki pendidikan tinggi dan kondisi ekonomi mapan, itu bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Buku tersebut berisi esai dari 26 ibu, yang sebagian besar merupakan perempuan berpendidikan tinggi dan berasal dari kalangan menengah atas.

Steiner menulis bahwa kehidupan sebagai ibu dipenuhi rasa defensif, kebingungan, dan penilaian mengenai pilihan pengasuhan yang dianggap paling benar. Ia juga melihat bagaimana ibu bekerja dan ibu rumah tangga sering kali saling salah paham, bahkan diam-diam saling iri terhadap pilihan hidup satu sama lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan berpendidikan tinggi seolah dihadapkan pada tuntutan yang saling bertabrakan, tuntutan pun hadir tidak hanya datang dari masyarakat secara umum, tetapi juga muncul dari standar sosial antarperempuan mengenai sosok “ibu ideal. Ketika seorang perempuan memilih menjadi Ibu bekerja seringkali distigma “egois” karena meninggalkan anak demi karier.

Sementara ibu rumah tangga juga tidak sepenuhnya terbebas dari tekanan dan mereka dianggap “kurang aktualisasi diri” meskipun memiliki gelar akademik tinggi. PenelitianSaraswaty & Wulandari, 2025 menujukkan bahwa ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan tinggi rentan mengalami intellectual loneliness atau kesepian intelektual, terutama ketika mereka merasa kehilangan ruang untuk menyalurkan kapasitas intelektual dan identitas dirinya di luar peran domestik. Kondisi tersebut dapat memicu stres, kelelahan emosional, hingga krisis identitas. Di sisi lain, media sosial semakin memperkuat standar mengenai sosok “ibu ideal”.

Media sosial akhirnya tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga arena validasi sosial mengenai siapa yang paling pantas disebut sebagai “ibu ideal.” Dalam situasi ini, perempuan kerap merasa harus membuktikan bahwa mereka mampu berhasil di semua ruang sekaligus. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tuntutan terhadap perempuan modern tidak hanya datang dari masyarakat secara umum, tetapi juga dapat muncul dari sesama perempuan melalui standar pengasuhan, gaya hidup, dan pencitraan di ruang digital.

Dalam hal ini kita bisa berbicara bahwa akses pendidikan tinggi yang didapat perempuan seharusnya perlu dikembalikan ke dalam makna pendidikan yang seharusnya, yaitu: Tidak ada lagi segala tuntutan  kesempurnaan terhadap mereka para perempuan berpendidikan tinggi, serta memberikan manusia kemampuan untuk mengenal jati dirinya dan menentukan jalan hidup yang paling sesuai, bukan mencetak standar hidup tunggal yang seragam.

Sehingga, menurut saya perempuan berpendidikan tinggi tidak wajib menjadi sosok paling produktif di setiap ruang hanya demi memuaskan ekspetasi sosial. Mereka berhak untuk memilih berjalan lebih pelan, focus sepenuhnya pada pengasuhan anak, mengejar karir setinggi langit atau bahkan berpindah jalur di tengah jalan tanpa harus dibayang-bayang oleh rasa bersalah atau label “gagal”. Pendidikan tiggo seharusnya memberikan keberanian bagi perempuan untuk menentukan ritmenya sendiri, memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa sempurna ia mememnuhui daftar tuntutan Masyarakat.

Fenomena ini bisa kita pelajari pada bunga Trilium yang mekar dengan tiga kelopaj uniknya. Trillium yang tumbuh perlahan dan membutuhkan waktu panjang untuk mekar. Ia tidak berkembang secara tergesa-gesa, tetapi bertumbuh sesuai ritmenya sendiri hingga akhirnya memperlihatkan keindahannya pada waktu yang tepat. Demikian pula perempuan, tidak semua pencapaian harus diraih sekaligus dalam satu fase kehidupan. Ada masa untuk belajar, membangun karier, mengasuh keluarga, beristirahat, bahkan menemukan kembali dirinya sendiri. Pendidikan seharusnya memberi perempuan kebebasan untuk tumbuh dalam ritme tersebut, bukan justru menuntut mereka menjadi sempurna di semua ruang dalam waktu bersamaan.

Daftar Pustaka

Ardiansyah, A., Jailani, M. S., & Isma, A. (2024). Pendidikan Telaah Kritis Paradigma dan Problematika Perempuan di Indonesia. EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 6(4), 4345–4355. https://doi.org/10.31004/edukatif.v6i4.7408

BP4PUSAT. (2026, April 8). Mamah Muda (Mahmud), Yuks Waspadai Mommy Wars di Media Sosial. Bp4pusat.or.Id.

Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat. (2025). Perempuan dan Laki-laki di Indonesia: 16 Tahun 2025. BadanPusatStatistikIndonesia.

Khurshid, A. (2016). Domesticated gender (in) equality: Women’s education & gender relations among rural communities in Pakistan. International Journal of Educational Development, 51, 43–50. https://doi.org/10.1016/j.ijedudev.2016.08.001

Saraswaty, R., & Wulandari, M. T. A. (2025). The Impact of Loneliness on Stress in Highly Educated Unemployed Housewives Post-Marriage: Social Support as a Moderator. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 16(03), 202–216. https://doi.org/10.26740/jptt.v16n03.p202-216

Penulis: Farah Choirunnisa., S.M,M.M, perempuan yang suka menulis, saya lahir dari lingkungan yang sangat mementingkan pendidikan dan mudah mengakses pendidikan ke jenjang universitas.

Editor & Ilustrasi: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya