​Anestesi Sosial: Mengapa Kita Nyaman dalam Kebisingan yang Mengabaikan?

​“Jangan pernah mengira kesunyian adalah tanda menyerah! Di balik sunyinya suara yang tidak didengar, ada gemuruh ombak perubahan yang sedang bersiap menghantam dinding ketidakpedulian. Bangkit, bersuara, dan biarkan dunia tahu bahwa kepakan sayap dari pinggiran mampu menciptakan badai keadilan yang takkan bisa dibendung oleh siapa pun!”

​Setiap kali membuka lini masa media sosial belakangan ini, saya selalu disergap oleh rasa bising. Semua orang seolah memiliki panggung, mimbar, dan pelantang suaranya masing-masing. Ada kesan kuat yang melintas di kepala saya bahwa di era digital ini, tidak ada lagi manusia yang terabaikan. Namun, paradoksnya, begitu saya mematikan layar ponsel dan berjalan melihat realitas di sekitar, sebuah kesadaran yang mengusik batin justru muncul: riuh ternyata tidak selalu berarti didengar. Kemudahan teknologi hari ini nyatanya hanya menciptakan ilusi kesetaraan bersuara, sementara esensi untuk benar-benar dipahami justru makin terkikis oleh algoritma yang dangkal. Kita terlalu sibuk melihat siapa yang paling nyaring, hingga melupakan mereka yang bicaranya lirih di sudut sepi.

​Keresahan ini terus berputar di pikiran saya, terutama saat berpapasan dengan realitas di pinggiran. Saya sering mengamati buruh informal yang peluhnya tak pernah masuk dalam hitungan statistik, anak-anak muda di kota kecil dengan mimpi besar yang terbentur dinding keterbatasan akses, hingga komunitas akar rumput yang ruang hidupnya perlahan menyempit. Mereka tidak bisu. Mereka berbicara, mereka mengeluh, dan mereka terus bertahan hidup dengan caranya sendiri. Sayangnya, saya menyadari bahwa frekuensi suara mereka sering kali dianggap terlalu rendah, atau sengaja diredam oleh narasi-narasi besar di permukaan yang dianggap lebih populer dan memiliki nilai jual.

​Sebagai seseorang yang mendalami bidang kesehatan masyarakat, lensa berpikir saya otomatis melihat fenomena “suara yang tidak didengar” ini secara lebih spesifik. Bagi saya, suara-suara laten dari pinggiran ini adalah representasi nyata dari ketimpangan determinan sosial kesehatan. Mereka adalah ibu-ibu di pelosok desa yang kesulitan mengakses jaminan kesehatan dasar, pekerja sektor informal yang rentan tanpa perlindungan hukum, hingga anak-anak yang tumbuh dengan pemenuhan gizi seadanya karena kemiskinan struktural. Saya sering merenungkan bahwa program promosi kesehatan atau kebijakan publik kerap kali gagal di lapangan justru karena ego para perancangnya yang enggan mendengar dari bawah. Kita terlalu terbiasa menggunakan pendekatan top-down—merasa paling tahu apa yang sehat bagi masyarakat tanpa mau menyelami apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Ketika suara komunitas akar rumput ini diabaikan, maka derajat kesehatan yang setinggi-tingginya hanyalah akan menjadi sekadar slogan di atas kertas kerja.

​Dampak dari abainya kita terhadap suara-suara sunyi ini tidak hanya berhenti pada lingkaran fisik dan struktural, melainkan sudah menjalar menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental komunitas kita. Lihat saja bagaimana fenomena perundungan (bullying) dan cyberbullying terus memakan korban di sekitar kita. Di mata saya, korban perundungan adalah manusia-manusia yang dipaksa hidup dalam kesunyian yang mencekam. Di dunia nyata, suara ketakutan mereka sering kali terabaikan oleh lingkungan yang menganggapnya sekadar lelucon antar remaja. Sementara di dunia digital, melalui cyberbullying, serangan datang bertubi-tubi dari balik akun anonim hingga suara korban yang meminta pertolongan tenggelam dalam kebisingan caci maki. Dari sudut pandang public health, perundungan bukan lagi sekadar kenakalan interpersonal biasa. Ini adalah penyakit sosial yang jika kita biarkan tanpa adanya ruang aman untuk melapor, perlahan tapi pasti akan merusak fondasi kesejahteraan generasi masa depan.

​Dari seluruh perenungan mendalam tersebut, saya mencatat beberapa pilar penting mengapa efek “anestesi sosial” ini begitu berbahaya bagi kehidupan kita hari ini:

  • Paradoks Panggung Digital: Kita hidup di era di mana akses teknologi menciptakan ilusi kebebasan berpendapat, namun di saat yang sama, ia mengikis kedalaman makna untuk benar-benar didengar secara manusiawi.
  • ​Penyakit Ketidakpedulian Struktural: Mengabaikan keluh kesah pekerja informal dan jeritan korban perundungan bukan sekadar abai secara moral, melainkan sebuah kegagalan sistemik dalam menjaga derajat kesehatan mental dan fisik komunitas secara menyeluruh.
  • ​Krisis Empati Akibat Kecepatan: Budaya modern yang memuja validasi visual dan angka popularitas instan telah membius kepekaan kita, membuat manusia enggan memperlambat tempo kehidupan untuk menengok mereka yang terpinggirkan.
  • ​Menulis sebagai Intervensi Sosial: Mengangkat kisah dari sudut-sudut sunyi bukanlah sekadar aktivitas literasi yang estetis, melainkan sebuah kewajiban etis untuk memulihkan kemanusiaan yang mulai mati rasa.

Pertanyaan besar yang kemudian tersisa di benak saya adalah: mengapa kita bisa sepeduli dan se-abai ini secara bersamaan? Bagi saya pribadi, jawabannya terletak pada krisis empati akibat kecepatan hidup kita sendiri. Kita cenderung dipaksa oleh sistem untuk bergerak cepat, mengejar validasi visual, dan memuja angka popularitas yang instan. Cerita-cerita personal yang menuntut empati mendalam—seperti jeritan minta tolong seorang korban bully atau keluh kesah pekerja paruh waktu—perlahan-lahan kita sisihkan karena dianggap mengganggu kenyamanan. Saya merasa, mendengarkan mereka membutuhkan satu hal yang mulai langka di dalam diri kita hari ini: kerelaan untuk menurunkan ego, menajamkan kepekaan, dan memperlambat tempo kehidupan.

​Jika teknologi hari ini diciptakan untuk menghubungkan semua orang, mengapa mereka yang berada di pinggiran justru merasa makin terisolasi di dalam sunyi? Jawabannya, menurut saya, bukan karena mereka tidak bersuara, melainkan karena kita telah membiarkan algoritma modern mendikte arah empati kita. Kita terlalu sibuk menengok ke atas, mengagumi riuhnya panggung popularitas, hingga lupa menunduk untuk mendengarkan cerita-cerita jujur yang ada di bawah kaki kita sendiri. Lalu, mau sampai kapan kita membiarkan jeritan minta tolong korban perundungan atau keluh kesah pekerja informal dianggap sebagai angin lalu dalam pembangunan? Kita tidak bisa lagi menunggu sampai angka statistik korban depresi melonjak atau indeks kesejahteraan sosial kita merosot tajam. Merawat sebuah bangsa tidak bisa dilakukan hanya dengan mengobati fisik yang sakit secara medis, melainkan harus dimulai dengan menyembuhkan penyakit sosial yang paling berbahaya: yaitu ketidakpedulian yang struktural.

​Pada akhirnya, mengangkat kisah-kisah yang terabaikan ini bukan sekadar urusan merangkai estetika bahasa di atas kertas. Efek “anestesi sosial” yang sedang melanda harus kita lawan dengan kesadaran penuh. Ketika kita memilih untuk meluangkan waktu, menurunkan ego, dan mendengarkan mereka yang terpinggirkan, kita sebenarnya sedang melakukan intervensi kesehatan masyarakat yang paling mendasar: yaitu memanusiakan manusia. Kebenaran yang paling murni tidak selalu berada di panggung yang megah, melainkan sering kali tersimpan rapat di dalam sunyinya suara-suara yang selama ini dipaksa—atau memilih—untuk diam.

​Mendengar mereka bukan lagi sebuah pilihan moral yang opsional, melainkan sebuah keharusan mutlak jika kita ingin tetap merawat akal sehat, memulihkan empati, dan menjaga kemanusiaan kita tetap utuh di tengah dunia yang kian hari kian bising ini. Melalui tulisan, melalui aksi nyata di bidang kesehatan masyarakat, dan melalui keberpihakan pada korban perundungan, mari kita buktikan bahwa sunyi bukanlah tanda kekalahan, melainkan awal dari sebuah kebangkitan yang takkan bisa dibendung.

​“Dunia ini sudah terlalu bising dengan kepura-puraan! Saatnya kita menyalakan api kepedulian, meruntuhkan sekat ketimpangan, dan menjadi pelantang bagi mereka yang dibungkam. Jangan biarkan empati kita mati rasa; bakar keraguanmu, tajamkan penamu, dan jadilah pahlawan kemanusiaan yang berani menyuarakan kebenaran di garis depan!”

Referensi

Paradoks Media Sosial & Isolasi: Turkle, Sherry. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. MIT Press. (Mendukung argumen mengenai ilusi konektivitas digital yang justru mengikis kedalaman hubungan manusiawi).

    Krisis Empati Era Digital: Konrath, S. H., O’Brien, E. H., & Hsing, C. (2011). Changes in Dispositional Empathy in American College Students Over Time: A Meta-Analysis. Personality and Social Psychology Review, 15(2), 180-198. (Mendukung pilar krisis empati akibat budaya modern yang serba cepat).

    Determinan Sosial Kesehatan (Public Health):World Health Organization. (2008). Closing the Gap in a Generation: Health Equity Through Action on the Social Determinants of Health. Report of the Commission on Social Determinants of Health. Geneva: WHO. (Mendukung analisis ketimpangan struktural, buruh informal, dan kritik pendekatan top-down).

    Perundungan sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat: Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Bullying as a Public Health Problem. National Center for Injury Prevention and Control. (Mendukung argumen bahwa bullying dan cyberbullying adalah penyakit sosial yang berdampak sistemik pada public health).

    Peran Intelektual bagi Kaum Pinggiran (Etika Menulis): Gramsci, Antonio. (1971). Selections from the Prison Notebooks. Lawrence & Wishart. (Mendukung landasan filosofis mengenai konsep “Intelektual Organik” yang wajib menyuarakan kaum terabaikan/subaltern).

    Penulis: Haerul Fadli, SKM

    Editor & Ilustrasi: Hamimie

    Share Artikel Ini

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Lainnya