“Ternyata Jakarta bukan soal gemerlap ibu kota, tapi tentang ikhlas mimpi digerus habis kejinya ibu kota.”
| Judul Buku | Sisi Tergelap Surga |
| Pengarang | Brian Khrisna |
| Tahun Terbit | 2024 |
| Kategori | Novel |
| Genre | Slice of Life |
| ISBN | 9786020674384 |
| Ukuran | 14 x 20 cm |
| Halaman | 301 |
Sinopsis Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna
Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan.
Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis tergerus kejinya ibu kota.
Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta.
Ulasan Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna
“Jadi, jangan hakimi cara bertahan hidup orang-orang ,ya, Tom,” pesan Juleha.
Dialog itu mewakili seluruh suara orang di kampung terpencil itu. Katanya, jika terbangun di pagi hari lagi, artinya mereka harus bertahan hidup setidaknya satu hari lagi sebelum malaikan mencabut nyawa mereka tanpa ampun.
Dari buku Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna, dosa itu bukan untuk dihakimi, bukan untuk ditatap remeh, dan bukan untuk diolok-olok. Berbicara dosa di cerita ini bukan menjadi hal yang tabu dan aneh lagi. Ini tentang bagaimana orang-orang berteman dengan dosa, tentang doa yang terus mengetuk pintu langit, tentang tangan yang menengadah meminta pengabulan atas setiap doa yang dilangitkan, tentang kebersamaan di dalam pos ronda, tentang mimpi yang digerus habis oleh ibu kota, dan tentang kehilangan yang mengajarkan ikhlas.
Jakarta yang dikenal sebagai pusat kebahagiaan orang-orang, yang katanya menjadi ibu kota paling mewah nan megah, ternyata juga turut menyimpan penderitaan orang-orang yang dicap bernasib sial. Kisah nyata dibungkus oleh novel dewasa ini menciptakan visual yang luar biasa dan suara-suara yang menggerogoti kepala adalah bagian kejeniusan penulis dalam berinspirasi dan menghayati tiap kisahnya.
Rangkaian kata demi kata menciptakan sensasi perasaan yang tak keruan. Rangkaian kalimat demi kalimat akan membuat pembaca hanyut dalam cerita. Emosi dan perasaan yang menyeruak menjadi satu gumpalan seakan membuat rollercoaster di tiap bab ceritanya.
Dalam novel ini, pembaca akan disuguhkan kenyataan yang benar-benar pahit, lebih pahit daripada pare sekalipun. Membuka prespektif dari segala sisi, memperdengarkan teriakan yang teredam dalam doa, menumbuhkan rasa empati dan simpati yang akan menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang sudah mati.
Namun, dengan narasi yang sangat syahdu, pembaca akan diajarkan untuk tidak membenci tiap kesalahan yang dilakukan oleh warga kampung di sana, sebab kalau kata Danang, “Tuhan itu urusannya vertikal. Ke atas. Jadi, Tuhan itu urusannya sama diri sendiri. Sedosa-dosanya kamu, tetaplah dirikan salat.”
Turun ke jalanan langsung, lalu merekam dalam benak yang paling dalam tentang kehidupan jalanan yang ganas dan terus menerus menggerus orang-orang buangan seperti mereka ternyata benar-benar pedih. Mereka yang terzalimi justru yang paling kuat suaranya menembus langit.
Dari novel Sisi Tergelap Surga, aku tahu kalau hati manusia itu cermin dari jati diri kita yang sebenarnya. Ketidakberdayaan membuat mereka tidak punya pilihan selain berteman dengan dosa.
Dari novel Brian Khrisna, aku tahu kalau semua orang sama-sama menahan sakit, tapi tak sampai menjerit. Konflik yang rumit, namun saling berkaitan benar-benar membuat pembaca selalu ketagihan dan penasaran dengan alur ceritanya. Penyelesaian masalah yang dialami tiap-tiap karakter ternyata begitu sederhana dan plot twist.
Hidup juga bukan hanya tentang bahagia atau menderita, tapi juga tentang bertahan agar setidaknya mati tidak menyusahkan orang.
Baca juga: Ulasan Novel Logika Asa: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri
Penutup
Karya Brian Khrisna yang satu ini termasuk salah satu buku best seller di Indonesia bahkan sampai tembus ke luar negeri. Salah satu buku yang direkomendasikan banyak orang untuk setidaknya dibaca sekali seumur hidup, sebab kemewahan dunia terkadang suka menipu sampai akhirnya kita menutup mata untuk orang-orang yang ingin makan sehari sekali saja susah.
Jadi, ayo turun ke jalanan langsung, menyaksikan langsung bagaimana dunia berputar dan berjalan begitu konyol untuk orang-orang seperti mereka. People watching itu ternyata menyenangkan, tetapi tangan yang di atas juga jauh lebih memuaskan daripada tangan yang di bawah.
