Ulasan Novel Logika Asa: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri
Cover Novel Logika Asa Karya Valerie Patkar

“Jika hidup adalah sepasang kaki, hidup tidak harus selalu berlari. Hidup juga tidak harus selalu berjalan. Kadang hidup hanya perlu duduk dan beristirahat. Hidup juga bisa jatuh dan terluka. Dan hidup juga bisa sembuh untuk pelan-pelan menyusuri jalan yang sama lagi.” (Logika Asa, Valerie Patkar)

Novel Logika Asa merupakan karya dari Valerie Patkar yang mengangkat tema kehidupan, cinta, dan menemukan jati diri. Novel ini sudah masuk dalam daftar keinginanku sejak awal rilis, namun baru terealisasikan pada awal tahun 2025. Setelah Serangkai, ini menjadi salah satu karya Valerie Patkar yang paling kusukai.

Buku ini menceritakan tentang Milly, seorang beauty creator dan funeral make-up artist yang merasa kurang percaya diri, dan Dion, seorang anak pemilik perusahaan pertambangan terbesar yang kehilangan arah setelah berhenti dari pekerjaannya. Novel ini menyoroti pentingnya mencintai diri sendiri serta keberanian dalam mengambil keputusan hidup.

Meskipun seorang beauty creator, Milly tidak menyukai bentuk wajahnya sendiri. Ia merasa bahwa bentuk wajah dan tubuhnya kurang menarik. Ia bahkan takut menatap cermin tanpa riasan wajah. Milly rela melakukan diet ekstrem demi mendapatkan proporsi tubuh yang ideal. Saat kuliah, ia sampai membawa catokan untuk mengubah rambutnya yang keriting menjadi lurus. Ini semua ia lakukan untuk mendapat pengakuan dari orang-orang sekitarnya.

Di sisi lain, Dion juga memiliki kisah perjuangan dan pengorbanan yang tak kalah hebat dari Milly. Terlahir dari keluarga terpandang mengharuskan Dion untuk menjadi sempurna dan patuh kepada kedua orang tuanya. Sejak kecil ia selalu dituntut sempurna, karena sang ayah justru menggantungkan harapannya pada Dion meskipun ia memiliki kakak bernama Ardan. Ayahnya berpikir, Ardan terlalu membangkang sehingga ia lebih memilih untuk memanfaatkan Dion.

Seiring bertambahnya usia, Dion merasa semakin tertekan dengan tuntutan dari keluarganya. Apa yang diperintahkan oleh orang tuanya, seringkali tidak sejalan dengan keinginannya. Termasuk dengan mengorbankan hal-hal yang ia sukai seperti judo. Ia juga mengorbankan orang yang ia cintai, yaitu Milly. Akhirnya, setelah ia lelah dengan tuntutan orang tuanya, ia memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan membuka sebuah kedai kecil.

Di titik terendah Dion, Milly datang sebagai secercah harapan pada hidup Dion. Sosok yang menjadi penyeimbang ketika logikanya mulai pudar. Milly yang membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya.

“Remember that you are enough. Meskipun hari ini ada yang bilang kamu kurang, kamu nggak mampu, kamu nggak bisa. Please remember that you are enough. Please remember how hard you try to get where you are right now. And please look at yourself and say, you’re beautiful, you’re worth it. There is nothing except you who can say that louder dan clearly.” (Halaman 63)

Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang cara orang memandang dan meremehkan orang lain karena latar belakangnya. Tentang berjuang lebih keras dan melawan apa yang sepatutnya dilawan. Dan tentunya yang paling utama adalah tentang berdamai, mencintai, dan menghargai diri sendiri.

Mencintai diri sendiri bukan berarti membeli barang mahal atau memaksakan sesuatu yang belum sanggup kita raih hanya demi pembuktian. Mencintai diri sendiri dapat kita lakukan dengan hal yang paling mudah, yaitu tidak mudah iri atau insecure melihat pencapaian orang lain. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain, sehingga membuat diri kita sendiri merasa tidak cukup.

Aku sendiri sering kali membandingkan diriku sendiri dengan orang lain. Bukan iri harta, namun terhadap prestasi. Sering kali iri terhadap pencapaian mereka yang mampu melakukan banyak hal tanpa memikirkan beban. Namun, setelah membaca novel ini pikiranku semakin terbuka. Penting untuk menghargai diri sendiri atas pencapaian yang ada. Karena sebenarnya yang membuat kita iri hanyalah hasil akhir, tanpa tahu seberapa berat proses yang mereka jalani.

“Bagian tengah juga penting, terutama ketika perjalanan kita jauh. Saat saya mengantar kamu ke kos kamu dari Pasar Santa, saya tahu akan memakan perjalanan setidaknya setengah jam. Tapi ketika saya lihat ada air mancur di Bundaran HI… semua kelelahan itu berkurang karena setidaknya saya tahu sedikit lagi akan sampai. Saya tidak perlu selelah itu lagi— I wish you can find that point. Titik tengah di mana kamu bisa merasa kalau jalan yang kamu lewati akan ada ujungnya. Karena pasti ada. Pasti.” (halaman 259)

Dalam novel ini, pengarang juga piawai dalam meromantisasi hal-hal kecil. Seperti memaknai betapa tenangnya makan sendirian, yang seringkali dikaitkan dengan kesepian padahal bisa jadi bentuk damai. Juga menyentil bahwa seberapa sibuk pun manusia, ada keinginan dalam diri kita untuk tidak tertinggal, bahkan dari orang-orang terdekat.

Pesan moral dari novel ini adalah manusia pasti memiliki hambatan dalam hidup dan memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang besar untuk mencapai itu semua. Seperti Milly yang berjuang untuk mendapat privilege agar diakui oleh banyak orang. Sementara Dion mengorbankan privilege yang ia miliki untuk mendapatkan hidup yang bebas.

Jangan pernah merasa kurang dari orang lain, karena tiap manusia memiliki keistimewaannya masing-masing. Bisa saja, kelebihan yang kita miliki adalah hal yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jadi, kita harus mulai mencintai dan menghargai diri sendiri mulai sekarang.

“Kamu bisa makan apa pun yang kamu mau tanpa harus ketakutan itu akan menyakiti kamu. If people don’t give you the option, create that option, Milly.”

Logika Asa bukan hanya novel romansa, tapi juga sebuah perayaan untuk diri sendiri dan perjalanan menerima diri seutuhnya. Jangan lupa untuk mencintai diri sendiri, karena dari sanalah semuanya bermula.

Baca juga: Review Buku Tahun Penuh Gulma: Lika-liku Suku Adat Memperjuangkan Haknya

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya