Maskulinitas Toksik: Ketika Laki-Laki Juga Menjadi Korban Stereotip Gender

Sejak kecil, banyak anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti, “Anak laki-laki tidak boleh cengeng”, “Laki-laki tidak boleh terlihat lemah”, atau “Jangan menangis”. Kalimat-kalimat tersebut sering dianggap sebagai bagian dari proses pendewasaan. Laki-laki dipandang sebagai sosok yang harus selalu kuat, berani, dan perkasa. Namun, ketika standar maskulinitas dipaksakan secara berlebihan hingga membatasi ekspresi emosi, mendorong perilaku agresif, bahkan merendahkan sifat yang dianggap feminin, hal tersebut menjadi toxic masculinity atau maskulinitas toksik.

Secara umum, maskulinitas merupakan pandangan masyarakat mengenai bagaimana laki-laki seharusnya bersikap, berperilaku, dan menjalankan perannya dalam masyarakat. Pada dasarnya, maskulinitas bukanlah sesuatu yang salah. Namun, maskulinitas menjadi masalah ketika standar yang dibangun bersifat kaku sehingga laki-laki dipaksa memenuhi ekspektasi tertentu demi dianggap sebagai laki-laki “ideal”.

Salah satu tokoh yang mempopulerkan istilah toxic masculinity adalah Terry A. Kupers. Menurutnya, toxic masculinity bukan berarti seluruh bentuk maskulinitas itu bersifat negatif, melainkan mengacu pada karakteristik maskulin yang berkembang menjadi perilaku merugikan, seperti dorongan untuk mendominasi orang lain, merendahkan perempuan, menunjukkan sikap negatif terhadap laki-laki yang dianggap tidak maskulin, serta menggunakan kekerasan sebagai cara mempertahankan identitas maskulin.

Sejalan dengan itu, Hermawan dan Hidayah (2023) menjelaskan bahwa toxic masculinity merupakan konstruksi sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu tampil kuat, dominan, berani, dan tidak emosional. Konsep ini terbentuk melalui proses sosialisasi budaya yang mengharuskan laki-laki menekan emosi, tidak menunjukkan kelemahan, serta menghindari perilaku yang dianggap feminin.

Pembentukan maskulinitas toksik dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial. Ejekan, perundungan, dan pengucilan terhadap laki-laki yang dianggap tidak cukup maskulin menjadi salah satu pendorong utama. Selain itu, budaya patriarki turut memperkuat munculnya toxic masculinity melalui anggapan bahwa laki-laki harus menjadi sosok yang dominan, kuat, dan berkuasa. Akibatnya, aktivitas domestik seperti memasak, menyapu, atau mengasuh anak, serta ekspresi emosi seperti rasa sedih dan takut, sering kali dianggap sebagai bentuk kelemahan yang tidak sesuai dengan standar maskulinitas ideal.

Salah satu bentuk toxic masculinity yang paling sering dijumpai adalah anggapan bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Dalam banyak situasi, laki-laki dituntut untuk tetap tegar meskipun sedang mengalami kesedihan atau tekanan. Menunjukkan emosi sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan, sedangkan kemampuan memendam perasaan dipandang sebagai simbol kejantanan.

Bentuk lainnya adalah stigma terhadap laki-laki yang menggunakan produk perawatan diri (skincare). Di media sosial, tidak sedikit laki-laki yang menerima ejekan ketika menggunakan produk seperti lip balm, pelembap wajah, atau tabir surya karena dianggap mengurangi nilai maskulinitas mereka. Padahal, penggunaan produk tersebut merupakan bagian dari menjaga kesehatan dan kebersihan diri, bukan penentu identitas gender seseorang.

Selain itu, toxic masculinity juga tercermin dalam anggapan bahwa laki-laki tidak mungkin menjadi korban pelecehan seksual maupun kekerasan. Stereotip yang menggambarkan laki-laki sebagai sosok yang selalu kuat dan mampu melindungi diri sendiri membuat banyak korban laki-laki tidak dipercaya, diabaikan, bahkan enggan melaporkan pengalaman yang mereka alami karena takut dianggap lemah atau tidak cukup maskulin.

Penelitian yang dilakukan oleh Anindita dan Rahmawati (2026) terhadap 349 pria dewasa awal menunjukkan bahwa 70,5% responden berada pada tingkat toxic masculinity sedang, dan 61% responden berada pada tingkat alexithymia sedang, yaitu kondisi saat seseorang mengalami kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosinya. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan positif yang singnifikan antara toxic masculinity dengan alexithymia. Temuan ini menunjukkan bahwa norma maskulinitas tradisional yang kuat, cenderung membuat laki-laki mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi.

Dampak toxic masculinity ini tidak hanya dirasakan oleh orang-orang di sekitar laki-laki, tetapi juga dirasakan langsung oleh laki-laki itu sendiri, Salah satu dampak yang paling nyata adalah terganggunya kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi. Penelitian Anindita dan Rahmawati (2026) menunjukkan bahwa laki-laki dengan tingkat toxic masculinity lebih tinggi, cenderung mengalami kesulitan dalam memahami serta mengungkapkan perasaannya.

Selain itu, toxic masculinity juga berpengaruh terhadap perilaku agresif. Dalam penelitian Sarira, Koanda, dan Bintang (2025) terhadap 395 pria dewasa awal di Kota Makassar menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan toxic masculinity yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk berperilaku agresif.

Temuan tersebut sejalan dengan American Psychological Association (2018) yang menyatakan bahwa kepatuhan yang kaku terhadap norma maskulinitas tradisional berkaitan dengan meningkatnya perilaku agresif, keengganan mencari bantuan psikologis, serta berbagai masalah kesehatan mental pada laki-laki.

Mengatasi toxic masculinity bukan berarti menghilangkan maskulinitas, melainkan membangun pemahaman bahwa menjadi laki-laki tidak harus dibatasi oleh standar maskulinitas yang kaku. Konstruksi sosial mengenai maskuilitas dapat berubah seiring perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara paandang bahwa laki-laki juga berhak mengekspresikan emosi, meminta bantuan saat mengalami kesulitan, serta menjalankan peran domestik tanpa takut kehilangan identitas maskulinnnya.

Daftar Pustaka

American Psychological Association, Boys and Men Guidelines Group. (2018). APA guidelines for psychological practice with boys and men. American Psychologist, 73(9), 1249–1261. https://doi.org/10.1037/amp0000307

 Anindita, T., & Rahmawati, A. (2026). Ketika maskulinitas menekan emosi: Toxic masculinity dan alexithymia pada pria dewasa awal. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 15(2), 189–196. https://doi.org/10.33221/jikm.v15i02.4378.

Hermawan, I., & Hidayah, N. (2023). Toxic masculinity dan tantangan kaum lelaki dalam masyarakat Indonesia modern. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 12(2), 171–182. https://doi.org/10.21831/dimensia.v12i2.60991

Kupers, T. A. (2005). Toxic masculinity as a barrier to mental health treatment in prison. Journal of Clinical Psychology, 61(6), 713–724. https://doi.org/10.1002/jclp.20105

Maulina, Y., Nurhikmah, & Saudi, A. N. A. (2024). Gambaran toxic masculinity pada pria dewasa awal di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 4(2), 552–557.

Penulis: Tia Lastina adalah perempuan yang bercita-cita menjadi penulis. Ia tahu bahwa tulisan yang baik lahir dari proses belajar yang panjang, dan melawan rasa malas belajar serta enggan menulis adalah bagian dari psoses panjang tersebut.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya