DARI TABU MENJADI TAHU : KETIKA MENGENAL TUBUH MENJADI TINDAKAN BERANI BAGI REMAJA PEREMPUAN

Tidak ada seorang pun yang mengajarkan perempuan untuk mengenal  tubuhnya sendiri,padahal selama ini banyak hal yang terjadi di dalam tubuhnya seperti mestruasi, keputihan, kesehatan reproduksi, dan kebersihan di area genetalia. Tetapi mulai dari anak-anak perempuan hanya di ajarkan untuk tidak memeperlihatkan bagaian sensitif saja, tetapi saat membahas bagian sensitif itu dilarang dan dijadikan hal yang tabu untuk di bahas. Hal ini lah justru membuat remaja perempuan mengalami ketidak percayaan diri dan malu bertanya untuk membahas kesehatan reproduksi. 

Oleh karena itu remaja perempuan tumbuh tanpa mengenal tubuhnya sendiri, dengan pengetahuan yang terbatas. Budaya lahir dari kebiasaan, dari kebiasaan inilah terbentuknya persepektif ‘ketika kamu mestruasi tidak boleh keramas di malam hari, ketika kamu menstruasi tidak boleh meminum es, ketika kamu mesntruasi tidak boleh menggunting kuku, dari persepektif tersebutlah banyak remaja mempercayai mitos yang beredar di masyarakat.

Ketika seorang remaja mulai mengeluarkan darah di daerah vagina, maka remaja tersebut sudah berada di tahap masa remaja awal, mulai menuju remaja tengah di fase inilah jika remaja kurang edukasi reproduksi maka yang terjadi adalah remaja mengalami infeksi genetalia karena kurang bersih menjaga kewanitaan, kehamilan dini, abortus, tidak hanya itu banyak sekali khasus-khasus yang berkaitan dengan minimnya pengetahuan remaja dalam kesehatan reproduksi. 

Salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai kebutuhan kesehatan reproduksi mereka sendiri. Daffa et al. (2025). Media sosial, forum remaja, dan percakapan teman sebaya sering menajadi informasi yang di percayai banyak remaja, sehingga kebanyakan remaja percaya informasi di media sosial dari pada layanan fasilitas kesehatan yang di sediakan seperti PKPR atau PIK-R. Akibatnya, remaja sering kali menghindari untuk mencari layanan kesehatan profesional, bahkan ketika mengalami masalah kesehatan reproduksi.

Resiko masalah kesehatan meningkat karena terlambat mencari informasi dan pertolongan, karena itulah edukasi reproduksi sangat penting bagi remaja terutama anak-anak di usia 10 tahun ke atas. Mengubah cara konsep pemikiran manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan, sama hal ketika kita memasak harus di tambah perasa untuk mendapatkan masakan yang lezat, maka sari itu perlunya kerja sama dengan tokoh masyarakat seperti agama, kepala desa dan budaya untuk membantu fasilitas kesehatan mempromosikan pentingnya kesehatan reproduksi. Agar setiap remaja mendapatkan fasilitas yang dapat di percaya, serta menjadi pilihan yang tepat. 

Referensi 

Dwi Ratnaningsih, 2026, Evaluasi Pengetahuan Remaja Putri Mengenai Kebersihan Diri Saat Menstruasi dalam Mendukung Kesehatan Reproduksi Remaja,

Daffa Arkananta Putra Yanni, 2025, Hambatan dalam Layanan Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia: Sebuah Tinjauan Naratif.

Penulis : Mitha Sari Br Barus adalah seorang mahasiswa di Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua, tertarik dengan isu masalah yang sering di hadapi remaja, maulai dari masalah mental, reproduksi dan sosial, kuliah di jurusan Kebidanan, menjadikan sebuah bekal untuk membantu banyak perempuan, aktif di organisasi yang berfokus pada wanita, dan sering mengikuti lomba yang berkaitan dengan kesehatan. Silahkan hubungi @Itata_mithaxz.

Editor: Zidan As’ad
Gambar Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya