Blitar tak hanya dikenal sebagai Kota Proklamator, tetapi juga sebagai tanah yang kaya akan budaya dan kesenian tradisional. Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus identitas budaya lokal, muncul ruang-ruang yang menjaga jiwa tradisi dan seni daerah.
Salah satu ruang yang memiliki peran penting dalam pelestarian budaya ini adalah Sanggar Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro, tempat pembinaan seni tari yang berlokasi di Kabupaten Blitar.
Sanggar ini bukanlah ruang biasa. Dikelola oleh ibu Novyta Mijil, sanggar Pendopo berdiri di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar sejak tahun 2016. Tujuan utamanya adalah memberikan ruang belajar bagi anak-anak yang ingin menari tetapi terkendala biaya atau akses terhadap sanggar. Di sini, mereka bisa belajar secara gratis, tanpa memandang latar belakang.
“Sanggar ini memang dibuat untuk memfasilitasi anak-anak yang ingin belajar tari, tapi mungkin belum punya akses atau biaya. Di sini mereka bisa belajar secara gratis,” ujar ibu Novyta Mijil.

Sanggar Pendopo berfokus pada tari kreasi khas Blitar, tetapi tetap memperkenalkan unsur tari tradisional di dalamnya. Tari kreasi di sini bukan berarti meninggalkan akar tradisional, tetapi justru menjadikannya pondasi untuk dikembangkan menjadi karya baru yang lebih komunikatif dan sesuai dengan generasi saat ini.
Salah satu karya yang menjadi kebanggaan adalah Tari Emprak, tari hasil perpaduan antara Tayub keliling dan unsur Jaranan. Tarian ini merupakan karya Bapak Dimas Pramuka Admaji, seniman asal Blitar yang kini menetap di Surabaya, tetapi masih aktif menciptakan karya untuk tanah kelahirannya.
Selain Tari Emprak, sanggar ini juga membina tarian-tarian lain seperti Tari Mubeng Blitar, Bedhaya Sri Tanjung, dan Tari Ledek Jimbe yang terinspirasi dari Tayub daerah Jimbe. Bahkan dalam proses pembelajarannya, mereka juga menciptakan tarian baru seperti Tari Putra Suta, yang bersumber dari tradisi Siraman Gong Kyai Pradah.
“Fungsi sanggar ini selain menjadi tempat belajar, juga sebagai tempat berkembangnya kesadaran untuk melestarikan tari kreasi khas Blitar,” imbuh ibu Novyta Mijil.
Kegiatan pelatihan tari dilakukan rutin setiap hari Minggu pagi di sanggar Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro. Peserta berasal dari berbagai jenjang usia, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Beberapa peserta telah mengikuti kegiatan sanggar sejak usia belia dan masih aktif hingga sekarang.
Sanggar Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro menjadi ruang terbuka untuk siapa saja yang ingin menari. Tidak ada seleksi ketat. Namun seperti di banyak bidang lain, yang bertahan adalah mereka yang punya kemauan yang tinggi dan siap berproses.
“Sebenarnya seleksi itu terjadi dengan sendirinya. Yang serius pasti bertahan. Yang tidak tahan
proses ya akan berhenti. Kami tidak memaksa,” ujar Novyta.
Ia menegaskan bahwa di dunia tari, kemampuan tidak bisa dibentuk secara instan. Perlu waktu, kedisiplinan, dan konsistensi. Oleh karena itu, siapapun yang mempunyai tekad yang kuat, mempunyai kemauan yang tinggi, serta tetap konsisten untuk selalu belajar akan diterima dan dibina oleh para pelatih di sanggar Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro.

Sejak 2017, sanggar Pendopo telah mencatatkan berbagai prestasi. Mereka menjadi Penyaji Terbaik di Jatim Specta Night Carnival, meraih Juara 1 Penata Tari Terbaik di Festival Tari Pergaulan, hingga membawa pulang tiga penghargaan di Festival Karya Tari, ini mengantarkan mereka mewakili Jawa Timur dalam Parade Tari Nusantara di Jakarta.
Tak hanya menari, Sanggar Pendopo juga mengembangkan kegiatan karawitan. Pelatihan gamelan dilakukan secara rutin di kantor Dinas Kebudayaan wilayah Ngelego, dengan bimbingan dari Pak Sudaryanto. Seperti halnya pelatihan tari, kegiatan ini juga dibuka gratis untuk masyarakat.
Selain itu, sanggar ini aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan sekolah. Mereka pernah bekerja sama dengan Sanggar Kusumo, Sanggar Tari Lintang Patria, Sanggar Seni Acharya Budaya, hingga SMA Negeri 1 Talun dan komunitas Rumah Cinta Indonesia di Wlingi. Kerja sama ini membuka ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat jejaring budaya lokal.
Pandemi Covid-19 sempat menghantam aktivitas seni pertunjukan. Namun, Sanggar Pendopo tetap berusaha produktif. Mereka mengikuti lomba tari virtual, termasuk kompetisi yang diselenggarakan oleh Swargaloka Art, dan berhasil meraih Juara 3 tingkat nasional.
Baca juga: Semarak 17 Agustus: Lomba, Pentas Seni, dan Jalan Sehat
Meski demikian, tantangan finansial mulai muncul. Sejak pandemi, anggaran dari pemerintah daerah untuk kegiatan lomba dan festival mulai berkurang. Banyak kegiatan yang kemudian dijalankan secara swadaya oleh sanggar.
“Dulu semua dibiayai. Sekarang, kami harus banyak inisiatif sendiri. Tapi semangat kami tetap sama,” kata Novyta dengan senyum kecil.
Dengan segala pencapaiannya, Sanggar Pendopo bukan hanya ruang seni, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan pelestarian budaya. Di sinilah para generasi muda tidak hanya belajar teknik tari, tetapi juga merawat jati diri dan warisan budaya daerah.
“Kami ingin mereka bukan hanya bisa menari, tapi juga bisa mengajar, melestarikan, dan meneruskan budaya ini ke generasi setelah mereka,” ujar ibu Novyta Mijil.
Bagi Novyta, kesenian bukan sesuatu yang sulit. Yang terpenting adalah kemauan untuk mengenal dan melestarikannya. Ia melihat banyak anak muda yang kini lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan budaya daerah sendiri.
Maka, baginya, tugas utama adalah membuka ruang agar generasi muda bisa mengenal lebih dulu. “Kalau tidak mengenal, maka tidak akan mencintai,” ujarnya mengutip pepatah lama.
Menurutnya, kesadaran untuk mencintai budaya lokal tidak muncul begitu saja. Diperlukan upaya sadar untuk membuka diri, mengenali, dan perlahan melestarikannya. Melalui proses itulah, anak-anak muda akan semakin memahami bahwa kesenian daerah bukan sekadar warisan, tapi juga bagian dari identitas diri.
Di Sanggar Pendopo, menari bukan sekadar gerak tubuh, melainkan media untuk menjaga memori kolektif dan memastikan bahwa tradisi tidak hilang ditelan waktu. Karena itu, Novyta dan timnya terus mendorong siapa pun yang punya keinginan untuk belajar agar tetap semangat.
“Kita mulai saja dulu dengan mengenal. Dari situ akan tumbuh rasa cinta dan tanggung jawab untuk menjaga,” tutupnya.
Sanggar Pendopo adalah bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak melulu soal pentas besar. Cukup dengan ruang sederhana yang penuh semangat dan adanya kemauan untuk terus melestarikan budaya, sehingga warisan budaya bisa terus dijaga dan dihidupkan.
