Gempita Gubahan Sang Maestro: Bagaimana Bu Endah Membimbing 1000 Jiwa Muda Menjadi Penari Berkarakter
Liputan Sanggar Efaya

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ucap perempuan berdarah Minang itu sambil membetulkan jilbabnya. Sebuah kutipan pepatah Minangkabau itu dipegang teguh oleh Bu Endah, sejak membuka sanggar tari di Tanah Melayu Riau ini, jauh dari kampung halamannya di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat.

Indonesia dikenal kaya akan budaya. Namun sayang, tidak semua anak negeri memiliki ruang untuk mengekspresikannya. Di tengah pesatnya modernisasi, kian terancam punah seni tradisi akan tergerus, justru di sinilah sanggar-sanggar kecil sebagai salah satu ruang untuk menjaga nilai-nilai budaya.

Di tempat-tempat inilah seni tak sekadar pertunjukan, melainkan penjaga identitas. Siapa sangka? Dari halaman rumah yang lebarnya tak seberapa dan hanya berdinding setengah bata setengah kayu, lahir ‘mutiara gempita’ yang bermuara pada seni dan bakat.

Tampilan Bangunan Sanggar Tari Efaya

Gempita itu tidak berasal dari sebuah sanggar dari kota besar, melainkan dari sebuah sanggar di tengah kawasan industri Perawang, Riau. Bukan pula dari koreografer atau musisi ternama, melainkan dari alunan gerak-gerak seni di balik remaja yang masih belajar mencari jati diri lewat ketukan musik dan lenggak tari.

Cerita ini berawal dari Sanggar Efaya. Sanggar yang didirikan oleh Bu Endah, seorang perempuan Minang yang merantau jauh dari Payakumbuh dan berhasil mendirikan Efaya di Tanah Melayu pada 24 Februari 2020. Nama Efaya diambil dari ketiga nama anak Bu Endah yaitu Emir, Fathan dan Suraya.

Bu Endah atau nama aslinya adalah Indrayeni bukanlah lulusan sekolah seni. Ia adalah tamatan sarjana teknik. Namun, darah seni telah mengalir sejak remaja, ketika ia menjadi bagian dari Sanggar Mandugo Ombak di kampung halamannya Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat. Di sanalah Bu Endah menari dan belajar filosofi gerak tubuh yang mengandung kental akan nilai adat Minangkabau.

Baca juga: MPLS Ramah di SMK Barunawati Surabaya

Merantau ke Perawang, ia tidak serta-merta meninggalkan warisan seni yang sudah ia dapatkan dahulu saat di masa mudanya. Justru di Tanah Melayu ini, ia melihat potensi besar yang belum digarap. Dari sinilah benih Efaya disemai. Mulanya sanggar ini didirikan karena keterlibatan Bu Endah, dalam kelompok Paguyuban Gonjong Limo.

Gonjong Limo sendiri adalah perkumpulan kampung halaman Bu Endah yang ada di tempat tinggalnya kini. Dari undangan melatih anak-anak paguyuban untuk tampil di acara paguyuban, Bu Endah melihat potensi yang lebih besar dari anak-anak dan remaja Perawang yang membutuhkan ruang ekspresi.

Tahun 2020 menjadi saksi bisu lahirnya sanggar ini. Hanya dua minggu setelah resmi berdiri, lockdown diumumkan karena Covid-19. “Kami baru dua kali tampil, tiba-tiba semua berhenti,” kenang Bu Endah.

Awalnya hanya ada 8 anak yang bergabung, berlatih serta hal yang paling rendah dari sanggar ini menurut Bu Endah adalah meminjam kostum dari teman-teman guru Bu Endah untuk tampil perdana di acara paguyuban dan pernikahan wali murid anak Bu Endah.

Seiring waktu, Efaya terus berjuang melewati pandemi, bertahan dan perlahan membangun branding. Kini anak-anak yang dulu mungkin melihat tari dari video, sudah menjadi penari berkarakter yang bermuara dalam seni dan bakat.

Baca juga: Seni sebagai Terapi: Mengatasi Kecemasan Jangka Panjang dan Meningkatkan Kesehatan

Bagaimana tidak? Lima tahun berjalan bukan hanya nama sanggar. Ia menjadi ruang bahkan rumah bagi ratusan anak muda pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. Lika-liku itu banyak, mulai dari yang malu malu untuk tampil, hingga yang penuh percaya diri. Semua digandeng hangat oleh Sanggar Efaya.

Penampilan Tari Piring oleh Sanggar Efaya Diiringi Tambua

“Rasanya tak terhitung lagi berapa anak yang pernah menari dan bermusik bersama Efaya,” kata Bu Endah menatap haru. Bagi Bu Endah, yang penting bukan jumlahnya, tapi bagaimana mereka tumbuh menjadi orang yang elok dan bagus sesuai dengan slogan Efaya “Rancak Bana”.

Efaya tidak hanya membina tari, tetapi Bu Endah merangkai seni Minang dan Melayu menjadi prinsip Efaya. Melatih dan membina remaja lewat tari Minang, tari Melayu, Randai, Tambua , Tansa, seni silat Minang, dan balas pantun Melayu.

Bukan hanya keterampilan seni yang remaja itu genggam. Efaya juga memberi komisi untuk setiap penampilan. Bu Endah ingat jelas wajah-wajah senyuman anak manis itu, saat pertama kali menerima uang Rp50.000,00 seusai tampil. Bu Endah melihat senyuman mereka tulus dan merasa dihargai tanpa sia-sia berlatih.

Tambua Mengiringi Penampilan Tari Piring Sanggar Efaya

Bagi beberapa anak, uang itu lebih dari sekadar jajan. Ada yang membantu ibunya dan membelikan seragam sekolah untuk adiknya. Salah satu pencapaian Efaya dalam menoreh jejak langkah di panggung kehormatan yaitu Pingat Kejohanan Tari 2024 yang dihelat Dewan Kesenian Riau, di Gedung Idrus Tintin, Pekanbaru.

Sebuah gedung megah penuh akan simbol seni di Tanah Melayu, tempat para maestro dan bakat-bakat besar tampil membagikan karya mereka. Meskipun tidak membawa gelar juara, Bu Endah bersama anak-anaknya merasa beruntung tampil di panggung sekelas itu.

Tentu ada kebolehan istimewa yang mengangkat nama Efaya sendiri adalah tari Cito Uwang Perawang. Tarian ini digarap oleh tangan Bu endah dan anak-anak sanggar, bukan pinjam, bukan menyontek. Sebuah cerita yang mengisahkan suatu desa yang terletak di Sungai Jantan. Bercerita tentang seorang ibu dan anak-anaknya yang mencari ikan di sungai dan menjualnya untuk kebutuhan hidup.

Penampilan Sanggar Efaya pada Ajang Pinggat Kejohanan Riau 2024

Puncaknya, saya terdiam kagum lagi. Bagaimana tidak pada tahun 2023, Bu Endah merancang sebuah festival yang menjadi ajang untuk melihat kebolehan bakat anak-anak dan remaja Perawang. Motuyoko Culture Festival, festival ini sederhana saja, tapi penuh makna dalam menelitik butiran mutiara seni di Perawang.

Ia tidak menunggu sponsor. Ia mengeluarkan uang sendiri lebih dari Rp20.000.000,00. “Lapangan Motuyoko ini, kok, nggak ada kegiatan budaya, ya? Padahal di kampung saya, festival budaya tiap 6 bulan pasti ada. Saya pikir ke mana pemudanya? Kenapa di sini tidak ada kegiatan budaya? Padahal, taman ini dibuka untuk anak muda,” kata Bu Endah.

Diadakannya panggung seni itu, sebagai penanda betapa sanggar ini bukan hanya sekadar tempat berlatih. Ia menjadi panggung bagi anak-anak yang menyuarakan budaya mereka lewat tarian tradisional, fashion show adat, hingga tarian modern.

Penampilan Sanggar Efaya pada Pembukaan Motuyoko Culture Festival 2023

Panggung ini diikuti anak-anak dan remaja mulai dari SD hingga SMA untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam seni tari dan fashion show.

Lagi-lagi, saya terpukau melihat semangat Bu Endah membangun sanggar ini. Sebagai guru SD 005 Perawang, ia tak hanya mengajarkan seni tari dan musik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Pelajar Pancasila melalui gotong royong, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Uniknya, sanggar ini memiliki struktur organisasi lengkap dengan pemilihan presiden dan wakil presiden layaknya pemilu. Tujuannya jelas bahwa seni bukan sekadar panggung, melainkan sarana membangun kebersamaan dan jiwa kepemimpinan.

Struktur Organisasi Sanggar Tari Efaya

Di balik semua cerita ini, menjadi bukti nyata pengabdian Bu Endah dan anak-anak sanggar kepada negeri. Mereka bukan hanya sekadar menari atau bermusik, tetapi sedang menjaga budaya agar tidak larut oleh modernisasi.

Sanggar ini adalah rumah yang mereka pilih, tempat seni dan karakter bersatu, menjadi benteng budaya jauh dari kata tergerus oleh zaman. Kini, kembali lagi pada kita, maukah kita ikut merajut langkah seni budaya layaknya mereka? Atau hanya berdiri menonton ketika sejarah Bu Endah dan anak sanggarnya ini ditulis?

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya