“Bu, besok anaknya pakai baju olahraga ya.”
Pesan itu masuk ke ponsel saya dari grup WhatsApp sekolah.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuka lemari, memastikan seragam olahraga sudah dicuci, mengecek sepatu, mengingat apakah kaus kaki masih sepasang, lalu menambahkan daftar belanja karena botol minum anak mulai bocor.
Lucunya, bukan saya satu-satunya orang tua di rumah.
Anak saya juga punya ayah.
Namun entah mengapa, pesan dari sekolah hampir selalu otomatis saya anggap sebagai tanggung jawab saya.
Bahkan ketika guru mengirim pengumuman ke grup yang berisi ayah dan ibu, saya nyaris tidak pernah berpikir, “Biar ayahnya saja yang mengurus.”
Refleks itu muncul begitu saja.
Sebagai ibu, saya terbiasa mengingat jadwal imunisasi, membeli hadiah ulang tahun teman anak, memastikan bekal sekolah, mengisi formulir, menyiapkan seragam, mengingatkan PR, hingga memikirkan menu makan malam. Semua itu sering dilakukan tanpa ada yang meminta.
Semakin saya mengalaminya, semakin saya sadar bahwa kelelahan itu bukan semata-mata persoalan manajemen waktu.
Ia memiliki nama: mental load.
Lebih dari itu, ia adalah fenomena sosial.
Pekerjaan yang Tidak Pernah Masuk Daftar Pekerjaan
Kalau ditanya siapa yang memasak, jawabannya mudah.
Kalau ditanya siapa yang mencuci pakaian, jawabannya juga jelas.
Namun siapa yang mengingat stok sabun hampir habis?
Siapa yang tahu ukuran sepatu anak sudah berubah?
Siapa yang ingat minggu depan ada tugas membuat prakarya?
Siapa yang memikirkan hadiah ulang tahun guru?
Pekerjaan seperti ini hampir tidak terlihat.
Padahal justru pekerjaan inilah yang membuat sebuah rumah tangga terus berjalan.
Dalam kajian sosiologi, pekerjaan semacam ini disebut sebagai cognitive labor atau beban berpikir, yaitu aktivitas mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan mengkoordinasikan berbagai kebutuhan keluarga. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa mental load bukan hanya soal banyaknya waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan domestik, melainkan tentang siapa yang memikul tanggung jawab untuk terus memikirkan semuanya. Beban ini lebih sering dialami perempuan dan kerap tidak disadari bahkan oleh pasangan mereka sendiri.
Karena sifatnya tidak kasat mata, pekerjaan ini sering dianggap bukan pekerjaan sama sekali.
Mengapa Selalu Ibu?
Sebagai sosiolog, saya tidak melihat fenomena ini sebagai pilihan individu semata.
Saya melihatnya sebagai hasil proses sosialisasi yang berlangsung sejak kecil.
Anak perempuan diberi mainan dapur.
Anak laki-laki diberi mobil-mobilan.
Anak perempuan dipuji karena pandai membantu ibu.
Anak laki-laki dipuji karena berani.
Lambat laun, masyarakat membentuk keyakinan bahwa mengurus keluarga adalah “keahlian alami” perempuan.
Padahal tidak ada bayi perempuan yang lahir dengan kemampuan mengingat jadwal imunisasi.
Tidak ada gen yang membuat perempuan otomatis tahu letak gunting kuku anak.
Semua itu dipelajari.
Semua itu dibentuk.
Inilah yang dalam sosiologi disebut sebagai konstruksi gender.
Materi yang saya pelajari di kelas Gender Sensitive Writing mengingatkan kembali bahwa kita perlu membedakan antara seks sebagai fakta biologis dan gender sebagai konstruksi sosial yang bisa berubah.
Ketika Beban Itu Dianggap Kodrat
Yang membuat mental load semakin berat bukan hanya banyaknya pekerjaan.
Melainkan anggapan bahwa semua itu adalah sesuatu yang “wajar”.
Ketika seorang ayah datang ke rapat sekolah, ia sering dipuji.
“Wah, ayahnya hebat.”
Tetapi ketika ibu melakukan hal yang sama?
Itu dianggap biasa.
Ketika seorang ayah menyiapkan bekal anak, media sosial ramai memberi tepuk tangan.
Namun ketika ibu melakukannya setiap hari selama bertahun-tahun, nyaris tidak ada yang menganggapnya sebagai prestasi.
Standar kita berbeda.
Bukan karena laki-laki kurang mampu.
Melainkan karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan.
Data yang Menguatkan Cerita
Nyatanya, semua ini bukanlah pengalaman pribadi saja, melainkan telah menjadi fenomena sosial.
Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa pekerjaan domestik dan kerja perawatan tanpa upah (unpaid care work) masih didominasi perempuan. Bahkan, masih terdapat kekosongan data yang cukup besar mengenai kerja domestik tak berbayar karena pekerjaan ini sering tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, padahal sangat menentukan keberlangsungan keluarga dan masyarakat.
Di Indonesia sendiri, publikasi Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2025 dari Badan Pusat Statistik juga terus menunjukkan adanya perbedaan kondisi perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ketenagakerjaan, hingga kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Publikasi seperti ini penting karena mengingatkan bahwa pengalaman perempuan tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang lebih luas.
Mengubah Pertanyaan
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua ayah tidak terlibat.
Saya mengenal banyak ayah yang luar biasa, salah satunya suami sendiri.
Yang ingin saya pertanyakan justru adalah kebiasaan sosial kita.
Mengapa ketika sekolah menelepon, yang pertama kali dicari adalah ibu?
Mengapa ketika anak lupa membawa bekal, orang-orang berkata, “Ibunya ke mana?”
Mengapa jarang sekali terdengar pertanyaan, “Ayahnya ke mana?”
Bahasa ternyata tidak pernah netral.
Ia mencerminkan cara masyarakat memandang peran laki-laki dan perempuan.
Membagi Tugas Tidak Sama dengan Membagi Tanggung Jawab
Banyak keluarga sudah mulai berbagi pekerjaan.
Ayah mencuci piring.
Ayah mengantar sekolah.
Ayah memasak.
Itu tentu langkah baik.
Namun pembagian tugas belum tentu berarti pembagian tanggung jawab.
Kalau yang mengingat jadwal dokter tetap ibu, yang mengatur semua agenda keluarga tetap ibu, dan yang menjadi “manajer” rumah tangga tetap ibu, berarti mental load belum benar-benar terbagi.
Rumah yang Setara Dimulai dari Kesadaran
Saya percaya kesetaraan tidak lahir dari kompetisi antara suami dan istri.
Kesetaraan lahir ketika kita mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa.
Barangkali perubahan bisa dimulai dari pertanyaan sederhana.
Bukan lagi,
“Ibu, besok jangan lupa…”
tetapi,
“Ayah dan Ibu, siapa yang akan mengurus ini?”
Karena anak dibesarkan oleh dua orang tua.
Rumah juga dibangun oleh dua orang dewasa.
Maka beban untuk terus mengingat, merencanakan, dan memastikan semuanya berjalan semestinya pun semestinya menjadi tanggung jawab bersama.
Mental load bukanlah kodrat perempuan.
Ia hanyalah kebiasaan sosial yang terlalu lama kita anggap sebagai sesuatu yang wajar. Dan seperti semua konstruksi sosial lainnya, ia bisa dipertanyakan, dinegosiasikan, dan diubah.
Profil Penulis
Dian Kusumawardani adalah sosiolog, blogger, dan guru bimbingan belajar dengan pengalaman lebih dari 15 tahun mendampingi anak dan keluarga. Ketertarikannya pada isu pendidikan, gender, parenting, dan budaya mendorongnya menulis artikel-artikel yang tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca memahami akar persoalan sosial di balik pengalaman sehari-hari. Baginya, menulis adalah cara merawat empati sekaligus menghidupkan nalar kritis. Dapat dijumpai di Instagram @dee_arif.
Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest
