Sebagai seorang perempuan, saya yakin sebagian besar perempuan Indonesia pernah mendapat saran, “tidak apa berkarir setinggi-tingginya, tapi jangan pernah lupakan tugas sebagai seorang ibu dan istri”. Mungkin beberapa dari kita tidak merasa kalau ucapan yang bernada nasihat itu adalah sesuatu yang salah, tapi saya merasa sedikit terganggu. Tidak sekali dua kali saya bersinggungan dengan ucapan tersebut, entah menemukannya di kolom komentar media sosial hingga nasehat dari orang terdekat sendiri. Bahkan di usia saya sekarang, yang belum menikah dan memiliki anak, tapi nasehat itu sudah sering diulang-ulang.
Saya awalnya berpikir kenapa perempuan sering kali diingatkan agar bisa menyeimbangkan peran rumah tangga dan karir, tapi tidak berlaku sebaliknya pada laki-laki. Seolah perempuan bekerja diberi syarat harus tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, alih-alih diberikan nasihat agar bisa mengomunikasikan pembagian pekerjaan rumah tangga bersama suaminya.
Hal hampir serupa tapi tidak sama, juga dirasakan oleh perempuan terpelajar yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh. Mereka dihadapkan dengan nyinyiran “percuma sekolah tinggi, tapi tidak bekerja dan menghasilkan uang.” Masyarakat kita masih mengukur segala sesuatu bedasarkan materi dan melihat bagaimana seharusnya seseorang yang bersekolah tinggi bekerja di bidang formal dan menghasilkan uang. Sebenarnya, apa yang membuat masyarakat kita berpikir bahwa perempuan harus menanggung dua beban sekaligus? Kenapa apapun pilihan perempuan terasa salah?
Girlboss: Solusi Semu Kapitalisme
Terbitnya buku Lean In tahun 2013, Sheryl Sandberg memperkenalkan feminisme girlboss yang disambut banyak orang sebagai manifesto kebebasan. Hal yang dibawanya penuh akan pesan motivasi agar perempuan lebih berani, lebih berinisiatif, dan lebih ambisius sebagai solusi dari ketimpangan gender di ruang publik. Dia menilai perempuan sering kali tidak mendapat posisi strategis dalam pekerjaan dibandingkan laki-laki.
Tidak sedikit kita akan menemukan berbagai konten media sosial perempuan merayakan hustle culture, promosi jabatan, dan pencapaian sebagai pemberdayaan seolah hal tersebut merupakan jawaban dari masalah gender yang eksis dalam masyarakat. Dengan semakin keras kita berusaha dan mencurahkan perhatian dalam karir, akan membuka kesempatan bagi perempuan untuk sukses. Namun, solusi yang diajukan ini malah menimbulkan permasalahan baru.
Banyak perempuan pekerja terjebak dalam fenomena beban ganda yaitu perempuan harus bekerja dari pagi sampai sore akan tetapi tetap sebagai penanggung jawab utama dalam sektor domestik. Ini memperlihatkan bagaimana kapitalisme bukan menolak feminisme, tapi menerima hal yang hanya menguntungkan sistemnya sendiri. Perempuan yang mengalami beban ganda sering kali harus mengalami tekanan yang cukup besar karena harus menyeimbangkan bagaimana mengatur kedua hal tersebut dengan baik. Kelelahan luar biasa akan mereka alami sebagai bentuk kegagalan sistem dalam menyediakan keadilan gender. Tekanan serius ini membuat perempuan merasa harus bertanggung jawab penuh dalam segala hal tanpa mempertimbangkan peran laki-laki untuk dapat menyeimbangkan tanggung jawab mereka juga..
Tekanan ini bukan hanya dalam bentuk pekerjaan, tapi juga perasaan bersalah yang kadang menghantui perempuan pekerja. Mereka kadang merasa kurang menjadi “ibu yang baik” karena harus meninggalkan anak di penitipan atau tidak bisa hadir di momen-momen berharga anak. Kadang rasa bersalah itu diperparah dengan nyinyiran keluarga yang membuat perempuan pekerja merasa jauh dari sebutan “Ibu Ideal”. Ketika anak nakal, perempuan akan jadi pihak pertama dan utama yang disalahkan.
Saya melihat sendiri bagaimana tetangga saya yang merupakan ibu pekerja dianggap tidak becus membesarkan anak karena sibuk seharian dalam pekerjaannya. Anaknya yang masih SD ketahuan merokok dan merundung siswa lain di sekolah. Permasalahan tersebut hanya dilimpahkan padanya, tidak pada suaminya yang notabene juga orang tua. Hal ini membuktikan bahwa dalam masyarakat patriarki menganggap laki-laki adalah pencari nafkah utama tidak berkaitan dengan tugas pengasuhan. Ini tidak adil bagaimana perempuan memasuki pasar kerja memiliki beban kerja yang sama seperti laki-laki, namun sistem seperti ini membuat laki-laki tidak memiliki keterlibatan dalam tingkatan yang sama di rumah tangga.
Permasalahan beban ganda perempuan sering kali disimplifikasi menjadi permasalahan individu bukan sebagai permasalahan sistem. Sheryl Sandberg memberikan syarat bahwa ambisi perempuan untuk sukses di kariernya dipengaruhi dengan pilihan menikah atau tidak dan pasangan yang suportif. Pendekatan ini menyederhanakan permasalahan ketidakadilan dalam sistem sebagai pilihan individu.
Seolah perempuan terjebak dalam beban ganda semata-mata karena salah memilih suami tanpa melihat dari kacamata yang lebih luas. Pemberdayaan perempuan dengan konsep ini, memberikan dampak baru pada pola perilaku masyarakat karena tidak menghentikan ketimpangan gender hanya mengalihkan beban rumah tangga pada perempuan yang lebih miskin. Sehingga bagi saya, konsep girlboss hanya menawarkan solusi sementara, ketimpangan itu tidak benar-benar hilang hanya berpindah tempat.
Ibu Rumah Tangga: The Invisible Heart
Jika perempuan pekerja mengalami permasalahan beban ganda, perempuan terpelajar yang memilih jadi ibu rumah tangga juga mengalami permasalahan atas pilihannya. Aktivitas yang berkaitan dengan perawatan seperti membesarkan anak, bersih-bersih rumah, dan merawat anggota keluarga dianggap oleh masyarakat luas sebagai pekerjaan remeh. Masyarakat menganggap pekerjaan tersebut adalah hal yang tidak perlu skill khusus hingga harus sekolah tinggi, bahkan ironisnya kebanyakan masih menganggap IRT bukanlah suatu pekerjaan.
Hal ini tercermin dari kasus Artiyan Angeliza, merupakan selebgram IRT yang sering membagikan konten terkait kehidupan sehari-hari dengan dibalut dengan komedi. Banyak yang menyayangkan bagaimana dia dulu merupakan mahasiswa berprestasi memilih menjadi IRT. Konten parodinya yang menggunakan jas almamater saat membuat konten IRT, mendapat teguran dari dosen mantan kampusnya. Dosen tersebut menegur tindakan Artiyan Angeliza karena dianggap bisa memberikan dampak buruk pada lulusan lain yang terinspirasi konten “IRT Kabupaten” miliknya. Kening saya sampai berkerut dan berpikir, bagaimana seorang dari institusi pendidikan bisa gagal memahami bahwa pekerjaan bukan hanya sebatas pada memakai seragam dan menghasilkan uang?
Masalahnya masih banyak orang termasuk dosen tersebut, menganggap kalau pekerjaan rumah tangga tidak berdampak ekonomi karena dianggap “tidak menghasilkan”. Perempuan yang menjadi IRT dianggap sudah membuang-buang uang dengan sekolah tinggi-tinggi dan hanya berakhir dengan mengurusi rumah. Kegagalan memahami pendidikan bukan untuk membangun peradaban, tapi harus bisa dimonetisasi dilihat dari materi yang dihasilkan. Padahal perempuan yang terdidik, akan memperkuat keberdayaan perempuan dan membuatnya akan memiliki pengetahuan yang bagus dan terlatih.
Peran perempuan dalam kerja rumah tangga selalu disalahpahami sebagai sumber daya yang akan selalu ada dan tidak perlu dihitung. Pekerjaan tersebut disebut sebagai tindakan kasih sayang, disimbolkan pada kepahlawanan, namun tidak pernah benar-benar memberikan aspresiasi sebanding dan perbaikan ketimpangan struktural perempuan. Padahal perempuan yang memilih menjadi IRT akan dilatih dan terus bekerja sepanjang hidupnya tanpa libur sedikitpun. Jika semua pekerjaan tersebut dikerjakan oleh orang lain, tidak terhitung berapa jumlah uang yang perlu dikeluarkan. Masyarakat kita gagal memahami betapa pentingnya pekerjaan ini yang telah lama menopang peradaban manusia ribuan tahun.
Ini tidak terlepas karena kita hidup dalam tatanan masyarakat kapital. Kapitalisme berhasil mengaburkan pekerjaan rumah tangga adalah sumber daya gratis yang bisa kita dapatkan, yang menopang sistem sosial kita dikaburkan menjadi tindakan kasih sayang atau The Invisible Heart. Kondisi ini kadang membuat perempuan berusaha untuk bekerja dan mendapatkan pendapatan sendiri karena ingin terlihat “berkontribusi” pada keluarga. Sehingga, perempuan memiliki pengaruh untuk membuat keputusan karena “kontribusi ekonominya”.
Apapun pilihan perempuan, seolah harus membuktikan kelayakannya terhadap ekspektasi sosial yang masih dibentuk kebutuhan masyarakat yang patriarki. Mengatakan perempuan harus maju menggapai posisi tertinggi, tapi menghambatnya dengan kerangka kerja yang masih sangat maskulin. Secara tidak langsung mengucilkan perempuan dalam sistem tersebut. Ketika perempuan mengeluh terkait beban gandanya, ini akan jadi pembenaran perempuan tempatnya bukanlah di ranah publik.
Sebaliknya, perempuan terdidik yang memilih jadi rumah tangga akan dijadikan pembenaran kalau perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi jika hanya mengurusi dapur dan rumah. Saya berpikir sangat wajar perempuan memiliki kemarahan terpendam yang mungkin sulit mereka utarakan karena setiap apapun pilihannya, masyarakat sudah punya hukuman atas pilihan tersebut.
Referensi:
Federici, Silvia. (2012). Revolution at Zero Point. PM Press
Fraser, Nancy. (2022). Cannibal Capitalism. Verso
Marcal, Katrine. (2020). Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?
Rottenberg, Catherine. (2018). The Rise of Neoliberalism. Oxford University Press
Profil: Tari Masdar, merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran dan penulis lepas. Dia memiliki ketertarikan yang besar terhadap berbagai isu sosial dan politik, khususnya cultural studies. Sekarang ini, dia sedang sibuk dalam berbagai komunitas, menulis, dan mengasuh kucing-kucingnya. Surel: [email protected]
Editor: Hamimie
