“Eh, kamu kok lahirannya sesar? Ngga sayang anak, ya? Kalo kamu lahirannya sesar, kamu belum resmi jadi ibu seutuhnya, karena ga ngerasain sakit,” demikian kalimat yang saya dengar dari tetangga ketika mereka mengetahui tante saya melahirkan secara sesar. Ketika tetangga itu pergi, datang kerabat kami. Sama, pembahasannya mempertanyakan pilihan tante saya yang dianggap tabu. Tante saya sudah mencoba menjelaskan, bahwa plasentanya menutupi seluruh jalan lahir, tapi pandangan ‘manja’ dan ‘kurang berusaha’ tetap dilayangkan kepadanya.
Selain pengalaman tante saya, ada banyak cerita-cerita serupa yang bertebaran di internet mengenai penghakiman atas tubuh perempuan. Salah satu yang pernah saya baca adalah tentang seorang ibu yang depresi karena pilihannya memberikan susu formula kepada sang bayi dianggap tidak wajar, bahkan oleh keluarganya sendiri.
Sebagai seorang perempuan yang menginjak usia remaja, kejadian kecil dan seakan tidak berarti apa-apa itu mengendap di dalam pikiran dan menjadi momok yang menakutkan. Saya membayangkan diri saya dimasa depan jika mengalami kejadian serupa, dihakimi hanya karena pilihan saya tidak sesuai dengan ‘standar-standar’ yang berlaku di masyarakat setelah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati.
Fenomena-fenomena inilah yang membuat saya mempertanyakan dimana letak ruang aman perempuan dalam menentukan pilihan atas tubuh mereka sendiri. Apakah benar dimasa depan nanti, tiada lagi rasa aman bagi saya untuk memilih? Apakah saya hanya akan mengikuti apa yang sudah dianggap ‘wajar’ demi mendapatkan cap ‘ibu sejati’ dan ‘ibu yang sayang anak’? Tidak, tentu saya tidak mau. Maka lewat untaian kata yang membentuk kalimat, yang lalu membentuk paragraf inilah saya sampaikan keresahan sekaligus bentuk perlawanan terhadap persepsi tersebut.
Kalimat yang keluar dari mulut tetangga saya menjadi bukti bahwa melahirkan secara sesar masih dipandang remeh oleh masyarakat, diperkuat dengan pemikiran bahwa semakin sakit proses persalinannya, maka semakin sah status keibuan seseorang. Padahal, baik secara pervaginam maupun sesar sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan bagi ibu hamil. Jika ibu yang melahirkan secara pervaginam mengalami rasa sakit secara langsung, maka ibu yang melahirkan secara sesar mengalami nyeri pada luka jahitan dan tulang belakang, kram perut, gatal, adanya kemungkinan infeksi pada luka operasi dan dinding rahim setelah proses persalinan, serta waktu pemulihan yang lebih lama. Banyak masyarakat yang masih menutup mata atas hal ini, bahkan tanpa mempertimbangkan jika sang ibu memang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara pervaginam, seperti tante saya.
Pula dalam konteks nutrisi untuk sang bayi. Ada kondisi ketika ASI sang ibu minim atau bahkan tidak dapat keluar sama sekali, sang ibu harus bekerja, sang ibu mengalami depresi pascapersalinan, atau ketika sang ibu memiliki penyakit medis menular sehingga tidak dapat memberikan ASI yang dapat menularkan penyakitnya kepada sang buah hati. Memang, fakta dan data berbicara bahwa susu formula tidak dapat sepenuhnya menggantikan ASI. ASI mengandung antibodi hidup, enzim, serta sel darah putih yang tidak dapat ditiru oleh susu formula. Namun, ini tidak dapat menjadi alasan untuk melabelkan ibu yang memberikan susu formula sebagai ‘ibu yang tidak peduli pada anak’. Susu formula pun semakin dikembangkan oleh ilmuwan agar dapat sedekat mungkin menyerupai kandungan nutrisi ASI agar sang ibu tetap dapat memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anaknya.
Sebagai seorang remaja perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu, saya tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya. Namun, seperti poin-poin yang saya jelaskan di atas, hal yang saya pilih belum tentu dianggap wajar di kalangan masyarakat. Saya tidak ingin persepsi negatif mengenai sesar dan susu formula ini juga menekan remaja perempuan lainnya serta para ibu yang berjuang untuk anaknya. Menjadi seorang ibu yang hebat tidak ditentukan oleh proses persalinan atau pilihan nutrisinya, karena sejatinya, mengandung selama 9 bulan 10 hari, melahirkan, berkorban dan berjuang demi sang anak sudah menunjukkan kehebatan seorang ibu.
Pada akhirnya, sebagai remaja perempuan yang kelak akan tumbuh dewasa, saya tidak ingin melangkah ke masa depan dengan rasa takut. Perempuan berhak atas kedaulatan tubuhnya sendiri. Ketika seorang ibu tidak lagi dihakimi dan justru dihargai serta didukung atas pilihannya, maka terciptalah ruang aman atas hak mengatur tubuh sendiri, sehingga tiada lagi ketakutan dan kegelisahan yang akan dirasakan oleh sang ibu maupun remaja perempuan seperti saya.
REFERENSI
Please stop ucapkan 7 komentar ini ke Ibu melahirkan caesar saat kumpul keluarga
https://www.alodokter.com/risiko-yang-bisa-terjadi-jika-melahirkan-secara-caesar
Nourishing Without Judgment: Navigating the Stigma Around Breastfeeding and Bottle Feeding
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6866173/
Penulis: ALSYA AZIZARA CAMELIA, adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang saat ini menempuh pendidikan di bangku kelas 11 SMA Negeri 22 Palembang. Sebagai seorang siswi yang memilih jurusan IPS di SMA, saya selalu tertarik pada isu-isu sosial dan politik. Namun, kali ini saya tidak hanya menyimak, tapi juga ikut menyuarakan lewat tulisan.
Editor & Ilustrasi: Hamimie
