SURABAYA – Malam yang cerah dengan suasana syahdu menyelimuti Warung Jadoel, Rungkut Menanggal, Surabaya, pada Jum’at, 7 Mei 2026. Puluhan pengunjung tampak memadati lokasi untuk menyaksikan agenda Terbit Mini yang merupakan sebuah program apresiasi untuk penulis baru. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Sastra Lumpur yang merupakan bagian dari Saung Indonesia.
Acara yang dimulai tepat pukul 19.00 WIB tersebut, menjadi panggung bagi penulis buku Segalanya Indah, Segalanya Mati, Fido Fachrezi, untuk mengenalkan karya terbarunya yang lahir dari proses kreatif yang ia lalui.
Tidak sendirian, Fido juga didampimgi Nanda Alfiya Rahmah sebagai pembedah. Nanda adalah salah satu penyair asal Surabaya yang konsen dalam dunia puisi sehingga relevan dengan antologi puisi yang akan dibedah malam ini.

Setelah pembukaan oleh MC, Fido mulai menyampaikan perjalanan lahirnya buku pertama yang ia terbitkan. Fido mengatakan bahwa buku ke-26 dalam seri Terbit Mini ini berkisah tentang seorang lelaki yang kehilangan arah dalam percintaan. Fido menegaskan pentingnya kesiapan untuk menerima “jatuh” dalam jatuh cinta, bukan hanya cintanya saja. Latar belakang aktivis tidak menghalanginya untuk terus mencari sisi melankolis dalam dirinya.
Dalam sesi bedah buku, Nanda sangat mengapresiasi kehadiran buku tersebut sebagai anak tangga Fido di dunia kepenulisan. Di samping itu, Nanda juga memberi beberapa kritik dan saran sebagai bekal untuk Fido dan seluruh pengunjung untuk tetap melahirkan karya-karya baru. Salah satu yang ia garis bawahi adalah gaya penulisan yang cenderung prosais dan minim metafora. Meskipun demikian, tulisan Fido tetap berhasil menghadirkan figur yang nyata bagi pembaca.
Atmosfer pengunjung yang santai, membuat acara berlangsung dengan penuh khidmat sampai di penghujung acara. Sebelum sesi tanya jawab, acara di isi oleh Teater KU dari Kampus UNITOMO yang menampilkan drama teatrikal berjudul Manifesto Bom Bunuh Diri. Setelah itu, beberapa pengunjung mulai mengajukan pertanyaan kepada penulis mulai dari perjalanan penulisan buku hingga alasan pribadi menulis.

Acara selanjutnya adalah Stand Up Poetry, monolog puisi yang diisi oleh beberapa pengunjung yang ingin tampil. Sesi ini sangat menarik perhatian dan antusiasme dari pengunjung yang terlihat di saat beberapa di antara mereka membacakan puisi di depan panggung tanpa briefing apa pun dari panitia.
Berdasarkan hasil wawancara, terungkap bahwa agenda Terbit Mini merupakan komitmen Komunitas Saung Indonesia untuk menyediakan batu loncatan bagi penulis pemula tanpa dipungut biaya. Seluruh biaya kurasi hingga penerbitan ditanggung penuh oleh komunitas, jadi penulis bisa tenang menyelesaikan tulisannya tanpa perlu memikirkan beban apa pun.
Adnan Guntur selaku pendiri dari Komunitas Saung Indonesia mengatakan bahwa serangkaian agenda Terbit Mini memiliki dua rangkaian kegiatan yaitu Temu Lumpur dan Saung Rasa yang sedang terselenggara. Saat ini, Terbit Mini sudah mencapai volume ke-26 yang diselenggarakan 1-2 kali tiap bulan. Hal tersebut menandakan konsistensi dan dedikasi mereka dalam melahirkan penyair-penyair lokal yang berkualitas.
Buku-buku yang telah diterbitkan Penerbit Lumpur tidak terbatas pada puisi, melainkan terbuka untuk prosa, cerpen, naskah lakon, dan bentuk karya sastra lainnya. Dalam acara Saung Rasa, penyelenggara menghadirkan pembahas yang ahli dan sesuai dengan tema yang diusung untuk memberikan kritik tajam guna mematangkan tulisan.

Adnan juga menambahkan bahwa acara ini dipromotori oleh anggota Saung Indonesia yang merupakan rumah dari Penerbit Lumpur. Saung Indonesia adalah komunitas yang bergerak di bidang kepenulisan yang saat ini memiliki lebih dari 300 anggota aktif. Menjadi bagian dari komunitas ini sangat mudah yaitu cukup dengan direct-massage (dm) akun instagram @saungindonesia_ atau @sastralumpur.
Penampilan pamungkas dalam sesi Stand up Poetry menandakan akhir acara semakin dekat. Sebelum sesi foto bersama, Adnan mengharapkan acara Terbit Mini bisa semakin inklusif agar lebih banyak lagi masyarakat yang menerima manfaat dari acara ini. Adnan juga menegaskan bahwa Komunitas Sastra Lumpur selalu siap memfasilitasi siapa pun yang ingin terus belajar dan produktif dalam melahirkan karya-karya.

