Mbangunredjo Art Festival (MBAF) merupakan agenda tahunan Sanggar Seni Omah Nduwur untuk memperingati bertambahnya usia komunitas budaya hasil lokalisasi kawasan Kampung Dupak Bangunrejo, Surabaya. Peringatan ke-13 tahun ini memiliki beberapa cabang agenda seputar kebudayaan lokal Jawa Timur, seperti pertunjukan teater, lomba mewarnai, pameran seni aksara Jawa, peluncuran buku dan forum diskusi yang telah diselenggarakan pada Maret 2026 hingga acara puncak sebagai penutup rangkaian agenda pada Agustus 2026.
Salah satu rangkaian terlaksana yaitu Lomba Mewarnai Cerita Budaya Jawa Timur bertajuk “Mengenal dan Mengekspresikan Budaya melalui Imajinasi dan Warna” yang diselenggarakan pada Minggu, 26 April 2026 setelah sebelumnya diawali dengan agenda pementasan teater dan performance art pada Maret 2026.
Lomba menggambar yang berlokasi di Sanggar Seni Omah Nduwur di Jalan Dupak Bangunrejo 1 No. 30, Surabaya ini melibatkan para siswa tingkat TK dan SD hingga kelas 3 dengan mengusung topik sastra lokal Jawa Timur. Sebelum lomba dimulai para peserta akan dikelompokkan berdasarkan tingkatan pendidikan, peserta tingkat TK akan disajikan penampilan dongeng interaktif bersama Dewi Nur Rofiah yang membawakan kisah asal-usul Kota Surabaya, Suro dan Boyo sedangkan peserta tingkat SD didampingi Enny Asrinawati dengan kisah Reog Ponorogo tentang Dewi Songgolangit.
Tiap kelompok peserta akan mewarnai gambar yang telah disediakan panitia sesuai dengan kisah yang mereka dengar. Para pendongeng berhasil menyampaikan kisah berisi nilai-nilai kebudayaan daerah lewat penyampaian auditori berupa suara maupun intonasi ekspresif untuk setiap tokoh cerita yang didukung oleh objek visual berupa boneka peraga sebagai penggambaran bentuk fisik tokoh cerita.
Tak lupa para pendongeng turut mengenakan pakaian beratribut kebudayaan lokal seperti hiasan leher khas tari remo beserta ornamen gabungan warna emas, hitam dan merah. Penggunaan atribut tari remo ini seakan turut menegaskan apabila pembentukan Sanggar Omah Nduwur ini selaras dengan filosofi tari remo yaitu perlawanan dan perjuangan, komunitas kesenian ini tercipta untuk menghapuskan stigma negatif atas lokalisasi daerah Bangunrejo, Surabaya dari pusat distrik lampu merah atau prostitusi.
Pemilihan konsep budaya lokal ini selaras dengan tema besar MBAF tiap tahunnya.
“Karena MBAF tema besarnya adalah tentang kebudayaan, jadi konsep kedepannya adalah hal-hal yang menyangkut kebudayaan Indonesia khususnya Jawa Timur,” ungkap Dewi Nur Rofiah selaku juri sekaligus salah satu pengajar di Sanggar Omah Nduwur.
Antusiasme masyarakat terlihat dari peningkatan jumlah peserta lomba mewarnai yang cukup signifikan, terlihat dari penambahan kuota peserta dari 50 kuota menjadi 100 kuota pada tahun ini. Total peserta terdaftar sejumlah 31 peserta tingkat TK dan 81 peserta tingkat SD, tiap peserta merupakan perwakilan dari sekolah-sekolah sekitar Surabaya hingga Sidoarjo. Terdapat 3 sekolah dengan jumlah peserta terbanyak sekitar 15-20 siswa per sekolah diantaranya SDN Simokerto, SD Dhumas serta SDN Dupak 1.
“Saya sempat mendengar testimoni dari salah satu orang tua peserta lomba yang mana beliau tertarik dan merasa tertantang untuk mendaftarkan anaknya lomba karena anak-anak hanya diperkenankan menggunakan pensil warna saja untuk mewarnai, sedangkan media yang diwarnai berada di kertas ukuran A3 dan harus menyelesaikannya dalam waktu 120 menit atau 2 jam,” imbuhnya.
Perempuan yang kerap disapa Mbak Dewi tersebut turut mengungkapkan bahwa secara garis besar hasil karya para peserta dinilai cukup ekspresif meskipun media yang disediakan hanya pensil warna, ia mengapresiasi kemauan mereka untuk menuangkan ekspresi secara mandiri lewat proses mewarnai. Untuk penilaian pemenang lomba terdapat beberapa pertimbangan penilaian seperti kesesuaian hasil dengan tema, ekspresi visual dan komposisi warna.
Lomba mewarnai yang merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan ulang tahun Sanggar Omah Nduwur ini untuk kategori peserta TK juara 1 dimenangkan oleh Izza Afiqah Az-Zahra dari TK Sabilas Salamah, disusul Bilqis Nasyitha dari RA. Alfithrah sebagai juara 2 dan Anisa Bilqis dari TK Bina Putra menempati juara 3 sedangkan pada kategori peserta SD posisi pertama diraih oleh Haura Hanansa Budi SD Muhammadiyah Maulidia Yuniar dari SDN Tambaksari III di posisi kedua serta Natasya Aprilia Putri dari MI Sabilal Muttaqin pada posisi ketiga.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat serta dampak positif bagi anak-anak maupun bagi pelestarian budaya lokal, harapannya agenda ini dapat terus berjalan kedepannya serta mampu menjadi media pengenalan budaya lokal beserta nilai-nilai positif dalam dongeng yang ditampilkan.
