Sebagai upaya untuk memotret keresahan warga setempat yang acap kali diberi label nakal dan rendah, Projectarek.id yang berkolaborasi dengan MenulisID menggelar “Kelas Menulis” pada Jum’at, 25 April 2025.
Aspek yang mendasari kegelisahan tersebut adalah stigma negatif yang dibangun oleh masyarakat luar daerah terhadap kondisi sosial di kawasan Bangunrejo yang merupakan eks area lokalisasi. Energi negatif tersebut dirasakan oleh hampir seluruh penduduk yang menetap di daerah tersebut terutama bagi warga perempuannya.
Berangkat dari kurangnya empati masyarakat mengenai citra penduduk asli kawasan Bangunrejo, pendamping warga dan beberapa simpatisan sosial berupaya untuk menggagas kegiatan reflektif sebagai bentuk dukungan kepada kartini desa yang masih berjuang untuk melawan stereotip negatif terhadap mereka.

Kelas menulis yang diinisiasi oleh Projectarek.id dan MenulisID tersebut dilaksanakan di Sanggar Seni Omah Duwur. Sanggar tersebut merupakan uluran tangan dari gerakan masyarakan atas keprihatinan mereka terhadap situasi yang kurang baik bagi perempuan desa dan anak-anak. Sanggar yang diprakarsai Cak Semute ini menjadi langkah awal bagi kehidupan sosial Bangunrejo yang lebih baik.
Kegiatan ini difokuskan sebagai pendampingan calon penulis antologi cerita pendek atau output serupa sebagai bentuk dokumentasi dan wadah evaluasi. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk membantu masyarakat luas dalam memahami konteks belakang layar yang tidak banyak mereka tahu.

Kegiatan ini dikhususkan untuk perempuan sebagai bagian yang paling terdampak atas timbulnya stigmatisasi tersebut. Meski demikian, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh perempuan desa Bangunrejo, tetapi juga ada beberapa relawan pengabdian masyarakat untuk memberikan perspektif eksternal terhadap kondisi Bangunrejo yang dibalut dengan tulisan.

Pada pertemuan ini, peserta dituntun untuk menguatkan niat mereka dalam berproses dan mengikuti kegiatan tersebut. Disamping itu, mereka juga diajak merenungkan kembali alasan serta tujuan mereka mengenai keharusan menulis. Sebagai pemateri pada pertemuan, Miftah Faridl juga menjelaskan bahwa menulis bisa menjadi trauma healing atau alat terapi alternatif untuk menjernihkan nuansa hati dan pikiran. Melalui beberapa keluhan yang didapatkan, warga setempat sering merisaukan beban emosional yang sering mereka pendam. Kesah emosional yang tidak bisa diceritakan secara lisan tersebut, dapat disalurkan melalui berbagai bentuk tulisan.
Penuh harapan, impresi untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dalam Kelas Menulis mampu memberikan jawaban dan perubahan mindset yang sebelumnya dibangun untuk mengucilkan pihak tertentu. Bunga desa dan anak pertiwi Bangunrejo sama sekali tidak berhak untuk menanggung konsekuensi atas ulah yang tidak mereka buat. Kegiatan ini juga menggarisbesari adanya perubahan yang harus dilakukan secara organik agar generasi baru tidak memikul beban kerusakan dari revolusi yang ceroboh atau kesalahan struktural pendahulunya.
