Surabayan: Napas Kota Tertua di Balik Modernitas Surabaya

Surabaya, kota yang hari ini berdiri gagah sebagai metropolis kedua terbesar di Indonesia, adalah sebuah paradoks yang hidup. Ia dikenal sebagai Kota Pahlawan, pusat perputaran ekonomi yang bising, dan gerbang timur nusantara yang memanggil jutaan langkah kaki perantau setiap tahunnya. Jalan-jalan protokolnya lebar, diapit oleh trotoar yang kini dipercantik dengan bola-bola beton dan tanaman hias.

Mal-mal megah seperti Tunjungan Plaza berdiri angkuh, menawarkan pendingin udara yang sejuk sebagai pelarian dari panasnya pesisir utara Jawa. Namun, jauh sebelum aspal panas membelah tanah ini, sebelum deru mesin kendaraan bermotor menguasai kawasan mega urban, dan sebelum gedung-gedung pencakar langit menjulang menantang langit, ada sebuah entitas yang telah bernapas jauh lebih dulu. Entitas itu bernama Kampung Surabayan. 

Kampung Surabayan, yang kini secara administratif terjepit di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, bukan sekadar kampung tua biasa. Ia adalah anomali ruang dan waktu. Tersembunyi di balik gemerlap lampu kota dan papan reklame digital, kampung ini adalah jejak hidup yang bersikeras bertahan, sebuah testimoni bisu yang telah melampaui tujuh abad pergantian zaman.

Menurut kajian sejarah yang mendalam, usia kampung ini yang keberadaannya ditandai dalam sumber-sumber literasi era Majapahit seperti Negarakertagama dan Prasasti Canggu telah melampaui 700 tahun. Ini menjadikannya bukan hanya bagian dari Surabaya, melainkan embrio dari kota ini sendiri. 

Jejak Majapahit dan Sungai yang Membawa Kehidupan 

Membicarakan Surabayan berarti menarik benang merah sejarah yang sangat panjang, melintasi era kolonial, masa kesultanan Islam, hingga jauh ke masa kejayaan Hindu-Budha di Jawa Timur. Bahwa nama “Surabaya” (atau variannya) pernah disebut dalam naskah-naskah kuno bukanlah perkara remeh. Ini adalah bukti autentikasi eksistensi. 

Dalam kakawin Negarakertagama (Desawarnana) yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, disebutkan nama sebuah desa di tepian sungai yang diyakini sebagai wilayah cikal bakal ini. Raja Majapahit yang termasyhur, Hayam Wuruk, dalam perjalanan agungnya (prabaswara) mengelilingi wilayah kekuasaannya di Jawa Timur, tercatat menyinggahi desa-desa di sepanjang aliran Sungai Brantas dan pecahannya. Di antara nama-nama lokasi yang dicatat dalam perjalanan itulah, nama yang merujuk pada wilayah Surabayan muncul.

Pada masa itu, kawasan ini bukanlah kampung padat penduduk yang berhimpitan seperti sekarang. Ia adalah kawasan tepian sungai (naditira) yang strategis. Sungai Kalimas, pecahan dari Brantas, adalah urat nadi perdagangan utama. Surabayan kala itu kemungkinan besar berfungsi sebagai titik transit atau pemukiman pendukung bagi lalu lintas logistik dari pedalaman Majapahit menuju pelabuhan Hujung Galuh di muara. 

Prasasti Canggu yang bertarikh 1358 M juga menyebutkan desa-desa naditira pradeça (desa penyeberangan sungai) yang mendapatkan hak istimewa. Posisi Surabayan yang berada di “Jantung” kota saat ini, dulunya adalah titik krusial dalam peta hidrologi dan ekonomi kerajaan. 

Bagi kebanyakan warga Surabaya kontemporer yang sibuk mengejar jadwal kerja dan terjebak macet di Jalan Basuki Rahmat, nama “Surabayan” mungkin terdengar asing, atau sekadar nama jalan kecil yang tak sengaja terlewati Google Maps. Namun, di dalam kampung itu sendiri, sejarah tidak dianggap sebagai masa lalu yang mati. Kehidupan di sana berlangsung serupa dengan kota-kota pesisir lain di Jawa Timur: keras, lugas, penuh dinamika, namun hangat dengan tradisi yang terus dipompa agar tetap hidup. 

Lorong Waktu di Balik Beton Modern 

Memasuki Kampung Surabayan adalah pengalaman sensorik yang kontras. Hanya beberapa meter dari jalan raya utama yang bising oleh klakson dan knalpot, suasana berubah drastis begitu kita melangkah masuk ke gapura gang. Cahaya matahari yang terik seolah tersaring oleh atap-atap rumah yang saling berhimpitan, menciptakan lorong-lorong teduh yang lembab. 

Berbeda dengan kawasan bersejarah lain seperti Kota Tua Jakarta atau kawasan Pecinan Semarang yang sering dipugar besar-besaran untuk kepentingan pariwisata komersial, wajah Kampung Surabayan berubah dengan cara yang lebih organik, terkadang kacau, tapi jujur. Jalan Panggung dan gang-gang di sekitarnya, yang dulunya memiliki nuansa tempo dulu yang kental dengan arsitektur indis atau Jawa kuno, kini telah mengalami transformasi visual.

Program pemerintah kota dalam beberapa tahun terakhir telah menyentuh kawasan ini. Jalanan gang kini dicat warna-warni merah, kuning, hijau mencoba menghadirkan nuansa ceria dan instagrammable. Lampu hias klasik dipasang berjejer, dan jalan tanah atau semen yang retak kini diganti dengan paving block yang rapi. 

Transformasi ini menjadikan kampung lebih bersih dan menarik secara visual bagi orang luar. Namun, perubahan ini juga membawa pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah sejarah masih bisa dibaca di sini, di tengah lapisan cat warna-warni yang menutupi tekstur asli tembok-tembok tua? Apakah modernitas kosmetik ini menyelamatkan jiwa kampung, atau justru menguburnya perlahan? 

Di jalan utama kampung, pagi hari tidak dimulai dengan dering alarm smartphone, melainkan dengan suara aktivitas manusia yang nyata. Pukul empat pagi, suara sapu lidi yang menggaruk paving block sudah terdengar. Bau kopi tubruk yang khas kopi hitam pekat dengan ampas yang mengendap cepat mulai menyebar dari ventilasi rumah-rumah, bercampur dengan aroma “roti basi” (sebutan lokal untuk roti goreng atau roti tawar yang diolah kembali) yang dijual di gerai kecil dekat mulut gang.

Di sini, orang-orang masih saling sapa dengan vokal yang tebal dan lugas khas Arek Suroboyo. Sapaan “Yok opo kabare?” bukan sekadar formalitas, melainkan jembatan yang menghubungkan satu pintu rumah dengan pintu lainnya. 

Bagi generasi tua, kampung bukan sekadar lokasi geografis atau aset properti. Kampung adalah akar. Mereka menceritakan masa ketika rumah-rumah masih beratap genteng tanah liat tanpa plafon gypsum, ketika anak-anak berlarian di tanah merah tanpa takut lutut terluka, dan ketika suara cangkruk tradisi duduk berbincang santai mengisi keheningan sore menggantikan suara televisi. 

Cangkruk: Parlemen Jalanan Warga 

Jika ada satu hal yang mendefinisikan jiwa sosial Kampung Surabayan, itu adalah Cangkruk. Bagi orang luar, cangkruk mungkin terlihat sebagai kegiatan membuang waktu: sekumpulan bapak-bapak atau pemuda duduk di amben (balai kayu) atau kursi plastik di pinggir gang, merokok, dan melamun. Namun, sosiologi kampung mencatat ini sebagai mekanisme pertahanan sosial yang vital. 

Di Surabayan, cangkruk adalah ruang sosial yang mengikat kohesi warga. Di bangku-bangku kayu di pinggir gang sempit itu, segala hal dibahas. Mulai dari isu remeh seperti harga telur ayam dan gosip tetangga, hingga isu berat seperti politik nasional dan kenangan masa revolusi. Ini adalah “parlemen jalanan”. Di sinilah konflik diredam sebelum meledak, di sinilah gotong royong direncanakan, dan di sinilah keamanan kampung dijaga secara informal. Mata-mata warga yang sedang cangkruk adalah CCTV paling efektif yang pernah ada; tidak ada orang asing yang masuk ke gang tanpa terpantau oleh mereka. Budaya ini bukan sekadar santai, tapi juga bentuk interaksi yang memperkuat solidaritas. Ketika seseorang sakit, kabar itu menyebar lewat arena cangkruk, dan bantuan pun terkumpul. Ketika ada kematian, cangkruk berubah menjadi posko persiapan pemakaman. Di

tengah individualisme kota besar yang kian meruncing, di mana penghuni apartemen seringkali tak kenal siapa tetangga di sebelahnya, Surabayan mempertahankan kemewahan sosial bernama kepedulian. 

Langit yang Ramai: Adu Burung Dara dan Warisan Leluhur 

Selain riuh rendah suara manusia, langit di atas Surabayan juga menyimpan cerita. Jika Anda mendongak di sore hari, Anda akan melihat siluet burung-burung yang berputar, menukik tajam, lalu kembali melesat ke angkasa. Ini adalah tradisi adu burung dara (doro), sebuah warisan leluhur yang masih dipegang teguh, terutama oleh kaum laki-laki di kampung ini. Di tanah lapang yang tersisa yang kini semakin terjepit oleh tembok-tembok bangunan bertingkat atau bahkan dari atas atap rumah (wuwungan), anak-anak dan remaja hingga orang tua menerbangkan burung dara andalan mereka. Mekanismenya sederhana namun penuh gairah: burung jantan dilepas dari kejauhan, dan sang pemilik akan memanggilnya pulang dengan mengepakkan burung betina di tangan (geplekan). Kecepatan dan ketepatan burung jantan mendarat adalah penentu kemenangan. 

Bagi warga Surabayan, ini bukan sekadar hobi. Memelihara burung dara adalah seni dan sains tersendiri. Mereka hafal silsilah burung (trah), paham cara merawat bulu agar tetap mengkilap, hingga ramuan jamu agar burung terbang cepat. Suara klepek sayap burung dara saat menukik tajam membelah angin adalah musik bagi telinga mereka. Meskipun lahan semakin sempit dan aktivitas ini tak sebanyak dulu karena banyak tanah lapang berubah menjadi kos-kosan suara burung itu tetap mengudara. Ia menjadi simbol hubungan manusia urban dengan alam yang tersisa. Di tengah beton yang panas, interaksi dengan makhluk hidup lain menjadi pelarian psikologis yang menenangkan. Tradisi seperti ini tidak sekadar hiburan; ia adalah cara warga menyimpan potongan sejarah agraris mereka, membangun jati diri di tengah arus globalisasi yang datang dari setiap arah. 

Arsitektur yang Bicara: Catatan Alam dan Bangunan yang Tergerus 

Berjalan lebih jauh ke dalam gang yang semakin mengecil, menyerupai labirin, kita disuguhi pemandangan arsitektur yang eklektik. Kita melihat struktur bangunan yang jauh berbeda dari gedung-gedung kaca modern Surabaya. Banyak rumah tua yang telah direvitalisasi dengan gaya seadanya campuran keramik modern murah dengan kusen jati kuno yang masih dipertahankan. Namun, beberapa lainnya justru tampak terabaikan, berdiri seperti hantu masa lalu.

Batu bata yang retak, tembok tebal tanpa tulangan besi yang mulai lapuk dimakan lembab, dan halaman kosong yang dulunya mungkin taman asri kini hanya menjadi tempat menumpuk barang bekas. Padahal, jika ditarik ke masa lalu, kampung ini dahulu dipandang sangat strategis. 

Lokasinya berada di wilayah yang kini disebut “Segitiga Emas” pusat bisnis dan perdagangan Surabaya. Dekat dengan Kedungdoro yang terkenal sebagai sentra onderdil dan kuliner, serta akses mudah ke pusat kota. Letaknya yang dekat dengan akses transportasi air (Kalimas di masa lalu) dan darat, menjadikannya begitu penting dalam peta ekonomi zaman dahulu. Surabayan dulunya adalah tempat tinggal para abdi dalem, pengrajin, hingga pedagang perantara yang melayani kebutuhan kota yang sedang tumbuh. 

Meski begitu, bukti-bukti fisik kuno yang monumental nyaris tidak terlihat lagi. Tidak ada candi, tidak ada gapura batu andesit besar. Selama tujuh abad, hampir semua struktur dari masa awal berdirinya kota itu telah hilang, musnah oleh waktu, iklim tropis yang lembab, dan gelombang pembangunan ulang. Kayu lapuk diganti tembok, tembok runtuh diganti beton. Hanya beberapa jejak samar yang tersisa. Salah satunya adalah punden atau makam Mbah Mojo. Struktur ini, yang terletak agak tersembunyi, lebih mirip bangunan kuno sederhana yang kini dianggap keramat. Warga meyakininya sebagai makam leluhur, tokoh yang “mbabat alas” (membuka wilayah) kampung tersebut. Beberapa warga mengaitkannya sebagai peninggalan era Majapahit, atau setidaknya masa transisi menuju Islam. Keberadaan makam ini di tengah pemukiman padat menjadi penanda spiritual (spiritual marker), mengingatkan warga bahwa tanah yang mereka pijak memiliki “penunggu” dan sejarah yang sakral. 

Manusia sebagai Arsip Hidup 

Jika batu dan kayu telah hancur, lantas di mana sejarah itu disimpan? Jawabannya ada pada manusianya. Apa artinya sebuah kampung tua bila bangunannya telah hilang? Di Surabayan, jawabannya sederhana: sejarah bukan hanya terekam di batu atau prasasti, tetapi juga di tubuh manusia yang terus hidup dan mewariskan ingatan. 

Pak Hasan, seorang pria berusia 74 tahun, adalah salah satu “perpustakaan hidup” di kampung ini. Kulitnya yang sawo matang telah keriput dimakan usia, namun matanya masih tajam menyala ketika ia menceritakan masa kecilnya. Dengan mengenakan sarung dan kaos oblong putih, ia duduk di depan teras rumahnya yang sempit.

“Dulu kampung ini penuh pohon mangga dan belimbing,” katanya dengan suara serak-serak basah. “Tanahnya masih tanah, kalau hujan becek, tapi sejuk. Di sana,” ia menunjuk ke arah sebuah gedung hotel yang menjulang di kejauhan, “dulu itu kebun kosong tempat kami main 

bola. Sekarang matahari saja susah masuk sini karena terhalang gedung tinggi.” Pak Hasan tertawa kecil, getir namun pasrah, sambil menunjuk ke arah sekumpulan anak muda yang sedang cangkruk sambil memegang gawai pintar tak jauh dari rumahnya. “Anak-anak sekarang mainnya jempol. Dulu kami main fisik. Tapi ya sudah, zamannya beda.” 

Pak Hasan bukan sejarawan bergelar akademis. Ia tidak menulis buku. Tetapi hidupnya adalah arsip berjalan. Dalam setiap tarikan napas ceritanya, tersimpan narasi tentang perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang dialami kampung ini. Ia ingat kapan listrik pertama kali masuk, ia ingat kerusuhan-kerusuhan politik yang pernah mengguncang kota, dan ia ingat bagaimana satu per satu tetangganya menjual tanah mereka kepada pengembang. Setiap rumah di Surabayan punya cerita tentang pernikahan antar keluarga, usaha warung yang membiayai sekolah anak sampai sarjana, hingga persahabatan yang tak lekang oleh waktu. 

Generasi muda di Surabayan, meski terpapar budaya pop global lewat TikTok dan Instagram, juga punya cara tersendiri memaknai kampung. Mereka tahu bahwa Surabayan bukan sekadar tempat lahir orang tua atau kakek nenek mereka. Bagi mereka, menjadi Arek Surabayan adalah identitas yang membedakan mereka dari warga perumahan elit di Surabaya Barat. Mereka meskipun hidup di era digital masih memaknai nilai kebersamaan saat cangkruk. Merekalah yang kini mengecat tembok kampung, mengorganisir acara 17 Agustusan, dan bahkan mulai berbicara tentang masa depan kampung sebagai potensi wisata budaya. Ada kesadaran baru yang tumbuh: bahwa keunikan kampung mereka adalah aset. 

Dilema: Antara Konservasi dan Kebutuhan Perut 

Namun, romantisme sejarah seringkali bertabrakan dengan realitas ekonomi yang keras. Surabaya berkembang pesat dengan nafsu metropolitan yang lapar. Jalan-jalan diperlebar memakan bahu jalan lama, kawasan komersial menjamur mendesak pemukiman, dan investasi asing terus mengalir menuntut lahan strategis. 

Di balik geliat modern itu, kampung seperti Surabayan menghadapi dilema eksistensial: bagaimana mempertahankan identitas sejarah tanpa tertelan oleh ekspansi kota? Atau lebih

parah lagi, bagaimana bertahan hidup ketika nilai pajak bumi dan bangunan (PBB) terus meroket karena lokasi mereka yang berada di pusat kota? 

Pemerintah Kota Surabaya memang telah mendaftarkan kampung ini sebagai kawasan cagar budaya atau warisan budaya (dengan nomor registrasi 646/1654/436.6.14/2009). Langkah ini menunjukkan pengakuan formal terhadap nilai historis Surabayan. Plakat-plakat penanda dipasang, kunjungan pejabat dilakukan sesekali. 

Namun, pengakuan di atas kertas tidak selalu berarti perlindungan yang nyata dan komprehensif. Status “Cagar Budaya” seringkali menjadi pedang bermata dua bagi warga. Di satu sisi, ada kebanggaan. Di sisi lain, ada batasan ketat untuk merenovasi rumah, sementara bantuan dana pemeliharaan dari pemerintah seringkali minim atau prosedurnya berbelit-belit. Bangunan-bangunan tua yang bernilai sejarah banyak yang tidak terurus. Alasannya bermacam-macam: dari sengketa waris keluarga yang tak kunjung usai, keterbatasan biaya pemeliharaan (merawat bangunan tua jauh lebih mahal daripada membangun ruko baru), hingga kurangnya kesadaran akan pentingnya nilai sejarah itu sendiri. 

Banyak warga yang berpikir pragmatis. “Untuk apa rumah tua kalau atapnya bocor dan tidak bisa dijadikan tempat usaha?” pikir mereka. Akibatnya, perubahan fisik kampung seringkali mengikuti kebutuhan praktis warga yang hidup dari hari ke hari, bukan sekadar dijaga sebagai monumen masa lalu yang beku. Ruko-ruko kecil bermunculan, garasi disewakan, dan kamar-kamar kos dibangun bertingkat demi tambahan penghasilan. 

Inilah paradoks kawasan bersejarah di tengah kota besar yang hidup: ia harus terus bernapas bersama masyarakatnya. Ia tidak bisa sekadar dijadikan objek wisata yang steril seperti museum, di mana penduduk aslinya tergusur dan digantikan oleh toko suvenir dan kafe mahal yang hanya melayani turis. Surabayan harus tetap menjadi rumah bagi warganya, sembari berusaha menjaga memori masa lalunya. 

Ekonomi Kampung: Denyut yang Tak Pernah Berhenti 

Di dalam gang-gang sempit Surabayan, roda ekonomi berputar dengan caranya sendiri. Ini adalah ekonomi informal yang tangguh. Ibu-ibu membuka jasa laundry kiloan untuk melayani penghuni kos di sekitar Tegalsari. Bapak-bapak membuka bengkel motor kecil di teras rumah. Warung kopi dan nasi bungkus menjadi pusat logistik yang tak pernah sepi. Kuliner di kampung ini juga adalah artefak budaya. Penjual Lontong Balap makanan khas Surabaya yang terdiri dari lontong, tahu, lentho, dan tauge disiram kuah petis masih bisa ditemukan berkeliling atau mangkal di sudut jalan. Rasa petis yang tajam dan pedas adalah

representasi karakter Surabaya yang “nendang”. Ada juga penjual Rujak Cingur yang mengulek bumbu di atas cobek batu besar, mempertahankan resep turun-temurun. Makanan-makanan ini bukan sekadar komoditas; mereka adalah tali pengikat rasa yang membuat perantau selalu rindu pulang. 

Ekonomi kampung ini membuktikan bahwa Surabayan tidak sepenuhnya bergantung pada sektor formal kota. Mereka memiliki ekosistem mandiri yang saling menghidupi. Uang berputar dari tetangga ke tetangga, menciptakan jaring pengaman sosial ekonomi yang cukup kuat menghadapi krisis. 

Surabayan Hari Ini dan Esok: Sebuah Harapan 

Ketika sore menjelang dan matahari mulai tergelincir ke barat, mengubah langit Surabaya menjadi jingga kemerahan, lalu lintas di sekitar kampung di Jalan Kedungdoro dan sekitarnya mulai mencapai puncak kemacetan. Para pekerja kantoran pulang dengan wajah lelah, pedagang kaki lima mulai menyalakan lampu tenda mereka, dan anak-anak Surabayan kembali bermain di gang-gang kecil yang kini mulai teduh. 

Surabayan tampak tenang dari luar, kontras dengan klakson di jalan raya, namun denyut kehidupannya tetap terasa kuat. Suara adzan Maghrib bersahutan dari langgar (mushola kecil) di tengah kampung, memanggil warga untuk jeda sejenak dari urusan duniawi. Di tempat seperti ini, kita belajar sesuatu yang mendalam tentang waktu. Kita belajar bahwa masa lalu dan masa kini tidak terpisah oleh jurang besar yang tak tertembus. Keduanya berinteraksi, berdialog, dan terkadang berdebat dalam kehidupan sehari-hari. Surabayan bukan hanya situs sejarah yang statis; ia adalah komunitas yang bernapas, organisme yang bertahan, dan entitas yang terus bertransformasi menyesuaikan diri. 

Tantangan ke depan tentu tidak mudah. Tekanan urbanisasi akan semakin kencang. Tawaran dari pengembang properti akan semakin menggiurkan. Dan generasi muda mungkin akan semakin terasing dari sejarah lisan kakek-nenek mereka. 

Namun, selama masih ada cangkruk di sore hari, selama burung dara masih diterbangkan ke langit, dan selama warga masih saling menyapa dengan hangatnya persaudaraan Arek, Surabayan tidak akan mati. Ia mungkin berubah wujud, berganti kulit, namun jiwanya napas kota tertua itu akan tetap ada. 

Di tengah modernitas Surabaya yang kian gemerlap dan terkadang terasa asing, kampung tua ini tetap punya suara. Ia berbisik lirih namun tegas: “Aku ada sebelum kalian ada, dan aku

akan tetap di sini.” Ia hadir tidak hanya sebagai cerita masa lalu untuk buku sejarah sekolah, tetapi sebagai narasi hidup yang terus berlangsung detik demi detik. 

Dan ketika kita, orang luar, berjalan menyusuri jalan kecilnya yang berliku, kita sebenarnya tidak hanya sedang berjalan di atas paving block. Kita berjalan melewati waktu itu sendiri. Kita menyentuh lapisan sejarah yang paling manusiawi: kisah tentang bertahan hidup, tentang kebersamaan, dan tentang cinta pada tanah pijakan. Surabayan adalah jantung yang menolak berhenti berdetak, napas tua yang meniupkan roh pada tubuh Surabaya yang modern. 

_

Penulis: Eka Saputra, Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka semester 4 masa registrasi 2023 Genap, merupakan Penulis pemula yang sangat memiliki ketertarikan dengan isu sosial dan lingkungan dan masih terus belajar menjadi penulis yang baik dan benar.

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Rasyid Maulana

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya