Stasiun Sesudah Nangka

Bersyukur dulu. Puji Tuhan. Alhamdulillah. Aku mahasiswa, merasakan bangku kuliah, dan lagi-lagi semester baru akan dimulai. Maka, lebih dari satu per delapan hari ini akan aku habiskan di perjalanan menuju Surabaya dari Bojonegoro. Aku bukan pejabat, cuma masyarakat kelas menengah yang kalau mau pulang kampung atau balik ke perantauan paling mending pakai kereta lokal sepuluh ribuan di siang hari. Keretanya dipanggil Arjonegoro. Kemarin keretanya warna hijau, sekarang abu-abu. Mau warnanya jadi jingga mentereng pun, duduk di kursinya tetap TEGAK dan berebut.

Dari awal berkuliah, aku lebih sering turun di Stasiun Wonokromo, alias aku biasa berangkat dari stasiun pertama –yang pasti dapat kursi– dan melewati tiga belas stasiun lain sebelum sampai ke Stasiun Wonokromo. Selama perjalanan, ada lima fase saat bepergian menggunakan kereta.

Satu; masuk, jalan menyusur gerbong untuk cari tempat duduk, tolah-toleh sambil pasang earphone meskipun putar lagunya nanti dulu. Kalau keretanya sudah maju, aku baru tekan tombol shuffle dan tombol play lalu baca buku daring.

Dua; ngantuk.

Tiga; persatuan Indonesia.

Empat; ketiduran, biasanya bakal mimpi absurd (kebiasaan saat bermimpi di tempat umum). Tiba-tiba, Arjonegoro sedang berhenti di Stasiun Pasar Turi. Ini episode paling gelisah karena biasanya sisa scroll beranda media sosial yang bisa aku lakukan. Mau tidur nanti bablas, karena sisa Stasiun Gubeng lalu Stasiun Wonokromo.

***

Ada hal unik di perjalanan dari Stasiun Pasar Turi ke Stasiun Gubeng. Ada satu momen kereta akan terasa cepat sekali dan melambat. Jujur, aku lupa urutannya bagaimana, yang jelas ada; memulai dengan cepat, lambat lagi, dan kanan-kiriku sekarang bisa kulihat ada banyak lantai dua rumah warga yang berdempetan. Inilah mengapa kita berjalan lambat.

Setiap lewat rumah warga, aku suka lihat-lihat apa yang ada di lantai dua. Kadang ada sepeda, kadang ada parabola, dan kalau dihitung yang paling banyak, pasti akan dimenangkan oleh pakaian yang dijemur. Kadang ada anak-anak menonton kereta, kadang ada bapak-bapak merokok, kadang ada ibu-ibu menjaga anaknya, pun masih banyak kadang-kadang lainnya. Seperangkat kehidupan yang tidak aku hidupi ada di kanan-kiri kereta. A whole new life. Dan, kadang ada warung. Kadang ada warung?

Serius, kadang ada warung di lantai dua rumah warga. Biasanya nampak di balik jendela rumah yang besar. Etalase diletakkan menghadap ke luar, bisa terlihat olehku sebagai penumpang kereta. Yang dijual ada banyak, tapi aku cuma kelihatan dua barang. Satu, sabun cair pencuci piring, karena pouch besar berwarna hijau. Satunya adalah minyak goreng, karena pouch besar berwarna kuning.

Tiba-tiba kereta yang sudah pelan ini berhenti. Kondektur mondar-mandir di dalam gerbong sambil berteriak cempreng untuk mengumumkan, “PENUMPANG YANG MAU MEMBELI OLEH-OLEH DIPERSILAKAN UNTUK TURUN. KERETA AKAN BERANGKAT LIMA BELAS MENIT LAGI!…. uhuk, uhuk.”

Oleh-oleh? Beli di warung lantai dua warga?

Aku biasa membeli oleh-oleh khas Surabaya, ya, di toko yang dibuka di Stasiun Gubeng (lapis kukus untuk dimakan sendiri). Aslinya aku tidak penasaran, tapi aku agak mendapat tekanan batin karena melihat penumpang lain yang berbondong keluar lewat jendela. Aneh. Namun pada akhirnya aku tetap ikut bangun dan menembus jendela kananku.

Aku berjalan di jalanan rel sambil tetap memegang badan kereta. Mataku menyusuri sepanjang jalan, penumpang lain berbondong masuk ke rumah orang secara acak. Beli oleh-oleh macam apa itu? Karena bingung dan merasa dikejar waktu, aku memutuskan untuk langsung melompat ke balkon sebuah rumah yang setidaknya terlihat seperti warung di sisi kanan kereta. Melompat ke balkon di lantai dua cukup menyeramkan, but somehow I made it. Ajaib, seperti ada papan transparan di bawahku yang melindungi.

Warung yang secara random aku masuki ini tampak seperti warung yang biasa kulihat dari dalam kereta. Ada jendela menghadap ke luar dengan etalase di dalamnya. Tidak ada yang terlihat seperti oleh-oleh di sini, cuma ada pouch minyak goreng, sabun cuci piring, dan beberapa batang sabun mandi. Aku ingin melompat kembali, namun sudah terdengar suara ibu-ibu yang sepertinya melihatku. “Cari apa, Mas?” Waduh. Oleh-oleh? Ibu itu mendekat ke etalase di jendela.

“Di sini jual apa saja, Bu? Katanya ada oleh-oleh,” tanyaku dari balkon.

“Oalah, dari kereta. Saya jual nangka, Mas,” ibu itu membungkuk dan mengambil sebuah nangka dari bawah etalase. Buset, beneran buah nangka. Nangka itu tidak terlalu besar dan berbau seperti nangka. Karena merasa tidak enak, aku mengiyakan. “Boleh deh. Harganya berapa, Bu?”

“Mau utuh begini apa dikupasin? Kalau kupas sekilo tiga puluh ribu aja.”

Aku agak kaget mendengar harga nangka. Aku belum pernah beli nangka. “Satu kilo aja, Bu, dikupas,” jawabku mencari aman. Takut kemahalan.

Ibu itu mengangguk, membungkuk lagi untuk mengambil pisau di bawah etalase, dan membelah nangka tepat di hadapanku. Bau nangka yang lebih kuat langsung masuk ke indera penciumanku. Aku menonton ibu itu membuka nangka dengan telaten.

“Nangka ini kayak saya,” kata ibu itu tiba-tiba, menunjuk salah satu daging buah nangka yang terlihat pasca dibelah. Aku hanya mendengarkan, “dagingnya dempet. Rumah saya juga dempet,” lanjutnya.

Aku bingung mau menjawab apa, tapi iya juga, ya? “Dempet gini, enak atau enggak, Bu?” tanyaku. Agak takut kalau ofensif. Ibu itu tetap mengurus nangkanya. Mengambil daging buah dan diletakkan di mangkok.

“Saya jadi dekat dengan tetangga, bisa saling bantu dan ngobrol. Tapi mau apa-apa juga jadi terlalu dekat dengan tetangga,” jawab ibu penjual nangka.

“Bau nangkanya kecium banget, kan? Dan saya jadi nggak punya pohon nangka. Tapi bagusnya saya kenal semua orang di satu deret ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk supaya terlihat mendengarkan. Tanya apa lagi, ya? “Ibu jualan di lantai dua ke arah luar memangnya yang beli banyak?” tanyaku, kali ini benar-benar penasaran dengan posisi warung ini yang menurutku aneh. Apa karena aku hanya melihat dari dalam kereta?

“Tetangga biasanya juga beli di saya, kami saling tahu kalau ada yang jual sesuatu,” jawabnya sambil menimbang daging nangka. “Satu kilo, ya?” Aku mengangguk. Ibu itu mulai membungkus daging nangka untukku. “Orang kayak Masnya juga ada yang beli, hasil penasaran sama warung kayak gini di lantai dua,” lanjutnya sambil memberikan kresek kepadaku.

“Ini. Tiga puluh ribu ya, Mas”

“Oke, bisa QRIS nggak, Bu?” tanyaku sambil menerima kresek. Ibu itu menggeleng dan menjawab, “Kecil-kecilan gini saya malas buat Kyuris, Mas.”

Kyuris—KRIS, BUK! batinku. Lah, dari tadi ini kan ngebatin. Ah, gila. Iya, juga. Enggak bisa pakai QRIS. Di atas sini, siapa juga mau pakai QRIS? Dompetku ternyata masih di kereta, di dalam tasku. Ibu di depanku ini sepertinya paham kalau pelanggannya enggak bisa bayar (soalnya bibirnya mulai ngecap-ngecap).

“Bayarnya pakai yang ada aja, Mas.” Ibu itu menyarankan. “Keretanya sebentar lagi jalan.” Ibu itu juga mengingatkan. Aku merogoh kantong celanaku namun tidak menemukan apapun selain ponselku.

“Waduh, saya enggak ada apa-apa selain HP,” seruku panik.

Ibu itu akhirnya menggeleng, “Ya sudah, masnya nggak usah bayar, tapi bilang ke orang-orang kalau saya ada nangka.” Aku sangat tidak enak tapi dikejar waktu. Maka aku setuju dan berterima kasih. Aku pamit, melambaikan tangan, dan melompat kembali masuk lewat jendela kereta.

***

Lima; bangun dengan kaget dan reflek cek aplikasi Google Map suntuk memastikan lokasi (sambil berharap kalau belum melewati Stasiun Wonokromo). Fase lima kali ini agak berbeda dengan biasanya karena aku bangun dengan tidak terlalu kaget. Kesadaran pertama yang kudapatkan adalah tidak ada kresek nangka di tanganku. Nyatanya, tidak ada yang menjual nangka di lantai dua rumah pinggir rel. Namun, nangka cocok dikaitkan dengan rumah berdempet.

Sepertinya, aku bangun dengan tidak terlalu kaget juga karena kereta sedang berhenti. Aku melihat keluar jendela, menyadari kalau kereta berhenti di stasiun yang masih aku kenali. Alhamdulillah, aku belum melewati Stasiun Wonokromo. Kereta baru berhenti di Stasiun Gubeng, stasiun sesudah nangka.

Penulis: Gis “Tara”
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya