Siapa ,sih, yang bisa menolak godaan seblak pedas level lima, boba manis creamy, atau corndog mozzarella yang lumer di mulut? Hampir setiap sudut kantin sekolah maupun aplikasi pemesanan online dipenuhi jajanan kekinian yang menggoda selera dan tentu saja viral di media sosial. Nggak heran kalau banyak remaja lebih memilih jajan daripada membawa bekal dari rumah.
Selain praktis, rasanya juga memanjakan lidah dan cocok buat dipamerin di story atau reels. Tapi, di balik tampilannya yang menggiurkan, ternyata jajanan ini menyimpan risiko yang nggak bisa dianggap sepele.
Fakta dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cukup mengejutkan. Ketua Umumnya, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menyampaikan bahwa 1 dari 5 remaja usia 12–18 tahun mengalami hematuria (darah dalam urine) dan proteinuria (protein dalam urine). Ini bukan hal remeh, karena dua kondisi tersebut adalah tanda awal kerusakan ginjal.
Salah satu penyebab utamanya adalah pola makan yang nggak seimbang dan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang tinggi gula, tinggi garam, tapi minim serat dan gizi penting lainnya. Padahal, kita semua tahu bahwa masa remaja adalah masa penting dalam pertumbuhan.

Baca juga: Diet Makan Nasi Putih? Berat Badan Tetap Bisa Turun Kok!
Tubuh butuh asupan gizi yang baik supaya bisa berkembang optimal, punya energi untuk belajar, beraktivitas, dan mengejar cita-cita. Jika setiap hari yang dikonsumsi hanya gorengan, makanan instan, atau minuman tinggi gula, jangan kaget kalau nantinya tubuh gampang lelah, konsentrasi menurun, bahkan rentan terkena penyakit.
Dari hasil pengamatan terhadap 36 siswa SMA, ternyata hanya 10 siswa yang rutin atau sesekali membawa bekal dari rumah. Sementara itu, 26 siswa lainnya lebih memilih membeli makanan dari kantin atau memesan online. Menu yang dipilih pun kebanyakan adalah makanan instan atau jajanan viral seperti cireng, corndog, batagor, dan lain-lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya membawa bekal mulai tergeser oleh tren jajan kekinian. Hal ini juga diperkuat oleh data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas). Disebutkan bahwa 67,6% remaja usia 10–14 tahun dan 68,1% remaja usia 15–19 tahun hanya mengonsumsi 1–2 porsi buah dan sayur per hari. Bahkan, 15–16% dari mereka tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali.

Padahal, menurut WHO, standar konsumsi harian yang ideal adalah 5 porsi (400–600 gram) buah dan sayur per hari. Angka ini penting untuk mencukupi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral tubuh. Sayangnya, kebiasaan membawa bekal yang sehat dan bernutrisi semakin jarang dilakukan, sehingga pola
makan sehat pun makin jauh dari keseharian remaja.
Padahal, bekal buatan rumah tidak kalah menarik. Justru, bekal bisa jadi solusi yang hemat, bersih, dan jelas lebih terjamin kesehatannya. Bekal sederhana seperti nasi goreng, telur dadar, tumis buncis, ayam kecap, atau buah potong seperti semangka dan pepaya, bisa jadi pilihan yang enak dan mengenyangkan.
Bukan cuma menyehatkan, membawa bekal juga bisa mengurangi risiko terkena penyakit akibat makanan yang tidak higienis atau mengandung zat tambahan berbahaya seperti pengawet dan pewarna buatan.
Membawa bekal juga memberi banyak manfaat jangka panjang. Pertama, dari segi kesehatan, kita jadi tahu apa yang masuk ke dalam tubuh. Kedua, dari sisi keuangan, kita bisa lebih hemat karena tidak harus jajan setiap hari. Ketiga, dari sisi kedekatan keluarga, bekal adalah bentuk perhatian dan kasih sayang orang tua, terutama ibu, yang ingin anaknya tetap sehat dan semangat belajar.
Baca juga: SMA Negeri 2 Sampit Memeriahkan Acara Penutupan MPLS Ramah Tahun Ajaran 2025/2026
Lalu, bagaimana kalau bosan dengan menu bekal yang itu-itu saja? Tenang, sekarang banyak banget referensi kreasi bekal simpel yang bisa dilihat di internet. Mulai dari ide bento lucu, menu bekal 5 menit, sampai resep makanan sehat untuk remaja. Cukup luangkan sedikit waktu malam hari untuk menyiapkan bahan, dan pagi tinggal panaskan atau tata di lunchbox favorit.
Mengubah kebiasaan memang tidak mudah. Tapi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti mengurangi frekuensi jajan dari setiap hari jadi 2–3 kali seminggu. Sisanya, coba bawa bekal sendiri. Nggak perlu mewah atau banyak macam, yang penting bersih, cukup gizi, dan dibuat dengan penuh niat menjaga diri sendiri. Dengan begitu, tubuh pun akan lebih sehat dan kuat untuk menjalani aktivitas harian.
Makanan viral boleh saja kita nikmati sesekali. Tapi jangan sampai tren mengalahkan logika dan kesehatan. Karena makanan viral bisa datang dan pergi, tapi tubuh kita cuma satu. Jaga dari sekarang supaya tetap bisa dipakai sampai tua nanti. Mulai hari ini, yuk lirik lagi bekal rumah yang selama ini mungkin kita remehkan.
Karena sejatinya, bekal bukan cuma tentang makanan tapi juga tentang cinta, perhatian, dan tanggung jawab pada diri sendiri. Yuk, jadi remaja cerdas yang tahu mana yang baik untuk tubuh dan masa depan!
