Beberapa hari lalu, saya pergi ke perpustakaan dengan beberapa teman saya. Di sana, banyak buku yang tertata rapi di rak, dan saya pun berkeliling untuk memilih buku. Pandangan saya tertuju pada satu buku yang sudah sedikit berdebu, yaitu novel Moga Bunda Disayang Allah.
Pertama kali saya melihat novel ini di rak buku, judulnya langsung menarik perhatian saya. Saya bertanya tanya, “Kenapa, ya, bunda disayang Allah?” Dari judul itu saja saya merasa akan ada kisah yang menyentuh. Apalagi setelah saya tahu bahwa penulisnya adalah Tere Liye, penulis favorit banyak orang karena tulisannya sederhana tapi sarat makna.
Tere Liye adalah penulis asal Indonesia yang mulai berkarier sejak 2005. Ia mulai dikenal di penjuru dunia, karena menciptakan sebuah novel yang berjudul Hafalan Shalat Delisa. Hobi menulisnya yang ia tekuni dapat mengubah hidupnya dalam waktu sekejap.
Gaya menulisnya yang sederhana tapi penuh makna, dan banyak filosofi yang tertanam di semua karyanya. Saya pun membaca satu per satu halaman. Dan saya merasa seperti ditampar oleh sebuah kalimat yang berbunyi, “Hidup ini selalu adil. Kamilah yang terlalu bebal, terlalu bodoh untuk mengerti.” Sebuah kalimat yang mengandung makna yang begitu dalam, mengenai cara memandang sebuah kehidupan.
Dalam novel Moga bunda disayang Allah, kalimat itu diucapkan oleh anak perempuan yang berusia 6 tahun, saat ia merasa frustrasi karena merasa hidupnya tidak adil.
Sejak berumur 3 tahun, Melati mengalami ketulian, kebutaan dan kebisuan karena ada tragedi yang menimpa dirinya. Bunda dan ayah Melati tidak sanggup lagi melihat Melati yang setiap hari marah dan melempar benda yang berada di sekitarnya.
Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Karang yang pemabuk. Dulunya ia sangat menyukai anak-anak. Tetapi semenjak kecelakaan kapal yang menewaskan anak didiknya, ia menjadi sangat bersalah dan trauma. Hingga ia memutuskan untuk mengasingkan diri dan menjadi pemabuk.

Karang dengan sabar mengajari Melati dengan menuliskan nama benda di telapak tangan Melati. Dan juga meletakkan barang yang ia tuliskan ke tangan Melati. Secara perlahan Karang mengajarkan Melati tentang bagaimana memahami dunia.
Semakin lama hubungan di antara mereka semakin erat. Melati pun mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Sedangkan Karang, mulai bangkit dari traumanya dan ia pun kembali ceria seperti sediakala.
Keunikan novel ini terletak pada penyampaian emosi yang sangat kuat meski tokoh utamanya tidak dapat berbicara, melihat, maupun mendengar. Tere Liye juga dengan piawai menggambarkan perasaan Melati hanya dari gerakan dan interaksi fisik, yang membuat pembaca ikut merasakan kesedihan dan harapan.
Setelah membaca novel ini, saya merasa lebih kuat dan bersemangat menjalani hari-hari. Saya jadi lebih sabar menghadapi masalah, dan tidak mudah mengeluh. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki lukanya masing-masing, tapi luka itu bukan alasan untuk berhenti.
“Tahukah Tuan hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat, memiliki keterbatasan fisik, bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sesempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran. Bebal. Bodoh.”
Kalimat ini menjadi titik balik saya sebagai pembaca, karena menunjukkan bahwa adil atau tidaknya hidup tergantung dari cara kita memaknai. Bagi kamu yang sedang merasa hidup ini tidak adil dan ingin menyerah, maka saya rekomendasikan novel Moga Bunda Disayang Allah untuk dibaca.
Baca juga: Review Novel Laut Bercerita: Tentang Mereka yang Ditinggalkan
Pelajaran dalam Novel Moga Bunda Disayang Allah
Novel ini mengajarkan untuk menerima kekurangan dan mencoba bangkit dari rasa trauma. Membaca novel ini seperti membuka jendela hati yang selama ini tertutup. Ia tidak hanya membuat kita terharu, tetapi juga mengajarkan bahwa di balik setiap luka, selalu ada harapan.
Sebuah bacaan yang layak dijadikan pengingat bahwa hidup ini bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang penerimaan dan perjuangan. Kalau menurut saya pribadi, tokoh Karang bagi saya sangat menarik. Ia adalah gambaran dari seseorang yang pernah berada di titik terendah hidupnya, namun masih diberi kesempatan untuk berubah.
Meski awalnya ia terlihat seperti sosok yang putus asa, tetapi lewat Melati, ia menemukan kembali
harapan hidupnya. Sementara Melati, walaupun hidupnya begitu gelap secara harfiah, ia menjadi simbol dari cahaya dalam kegelapan. Ia tidak pernah mengeluh, ia belajar dengan caranya sendiri, dan itu sangat menginspirasi.

Menurut saya, novel ini sangat cocok dibaca oleh remaja. Di usia muda, kita sering merasa dunia tidak berpihak, mudah merasa kecewa, bahkan menyerah. Tapi lewat kisah Melati dan Karang, kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu mudah, namun bukan berarti tidak bisa dijalani. Buku ini menyadarkan saya untuk tidak fokus pada apa yang tidak saya miliki, melainkan mensyukuri dan memaksimalkan apa yang saya punya.
Setelah menutup halaman terakhir dari buku ini, saya merasa seperti diajak berbicara langsung oleh sang penulis. Ada dorongan kuat untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tidak gampang menyerah. Saya berharap lebih banyak orang membaca novel ini, agar mereka bisa melihat bahwa kehidupan, betapa pun sulitnya, selalu memberikan harapan jika kita mau berjuang. Dan menumbuhkan rasa kemanusiaan kepada saudara kita yang mengalami kesusahan.
