Apakah kalian pernah mendengar tentang penculikan aktivis pada tahun 1998? Jika iya, saya akan mengulas seputar novel yang sudah saya baca, satu realita kejadian yang dipresentasikan dalam sebuah fiksi yang menggambarkan penculikan aktivis 1998.
Laut Bercerita adalah novel yang diterbitkan pertama kali pada November tahun 2017 yang berhasil menarik perhatian saya sejak pertama kali membacanya. Penulisnya, Leila S. Chudori mendapatkan penghargaan The S.E.A Write Award 2020, sebuah penghargaan sastra bergengsi di kawasan Asia Tenggara. Tentu ini bukan karna gaya menulisnya ,tetapi juga karena isi cerita yang sangat sesuai dan penuh makna.
Novel ini mungkin terdengar familiar di kalangan para remaja Indonesia. Novel ini menceritakan tentang Biru Laut dan sekelompok temannya yang sedang memperjuangkan keadilan di masa orde baru, sehingga terjadilah penculikan aktivis atas kegiatan yang dia dan teman-temannya lakukan. Di novel ini terdapat dua sudut pandang, yang pertama dari Biru Laut sang tokoh utama dan yang kedua dari Asmara Jati yaitu adik si Biru Laut.
Perjuangan Tak Hanya Soal Keberanian
Tokoh Biru Laut menggambarkan konflik batin seorang pemuda yang berpikir idealis, namun harus menghadapi realita pahit bahwa dirinya menjadi incaran aparat atas kegiatan yang dilakukannya. Ia menyadari bahwa perjuangan tak hanya soal keberanian, tetapi juga menghadapi rasa takut, kehilangan atau mungkin bahwa ia tak akan kembali.
Biru Laut tau setiap langkahnya akan berbahaya dan berisiko tetapi ia memilih untuk tetap melanjutkannya. Ia tetap berdiri pada pendiriannya, meski dalam hati kecilnya ia sadar bahwa ini bisa jadi akhir dari segalanya. Di dalam narasinya pembaca akan diajak masuk ke dalam ruang-ruang rahasia tempat rapat berlangsung, ruang penyiksaan yang dingin, dan momen-momen renungan dalam kesendirian yang menyayat hati.
Yang membuat cerita ini begitu terasa adalah bagaimana ketegangan dan rasa takut yang digambarkan secara perlahan tidak berlebihan, tapi justru terasa lebih dalam dan nyata. Salah satu bagian yang paling membekas adalah saat Biru Laut akhirnya dibawa ke tepi laut, lalu diikat dan ditenggelamkan hidup-hidup oleh aparat.
Di titik itu, Biru Laut tau bahwa semua sudah berakhir. Tetapi ia tetap berharap ceritanya tak ikut tenggelam. Ia berkata dalam hati, “Matilah engkau mati…. Tapi kau akan lahir berkali-kali.”
Kepergian yang Tak Berujung
Sebagai adik yang terus mencari kakaknya, Asmara mewakili banyak keluarga korban yang ditinggalkan tanpa kepastian. Ia bertanya kesana kemari, mengikuti aksi para ibu-ibu yang sedang mencari anaknya yang hilang tanpa jejak dan menuntut jawaban dari pemerintah, lalu hidup dalam ruang abu-abu antara harapan atau keputusasaan.

Yang dirasakan Asmara Jati bukan hanya kehilangan, tapi juga kekosongan. Ia tidak tau di mana kakaknya, apakah masih hidup, ditahan di tempat rahasia, atau bahkan sudah tiada. Inilah yang juga dirasakan oleh keluarga-keluarga korban penculikan aktivis saat itu di dunia nyata. Mereka terus mencari jawaban yang hingga kini masih menggantung.
Laut Bercerita Bukan Hanya Cerita Fiksi
Cerita ini bukanlah dongeng semata. Cerita ini berdasarkan riset yang nyata. Sang penulis menulis novel ini setelah mendengar langsung kisah para korban dan keluarga yang masih berjuang mendapatkan keadilan. Oleh karena itu, saat membaca buku ini, kita tak merasa sedang membaca cerita khayalan. Rasanya seperti mendengar suara dari masa lalu yang belum pernah selesai disampaikan.
Lebih dari Sekadar Kisah Aktivis yang Hilang
Novel ini bukan hanya tentang hilangnya seseorang, tapi juga tentang keberanian, pengkhianatan, cinta keluarga, dan luka yang ditinggalkan. Yang membuatnya istimewa adalah meskipun kisah ini kelam, tapi ditulis dengan bahasa yang indah dan menyentuh. Tidak berat, tidak rumit, tapi tetap meninggalkan kesan yang dalam.

Menurut saya pribadi, membaca Laut bercerita membuat kita sadar kalau kebebasan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang tak selalu tercatat di buku pelajaran. Ada orang-orang yang berani bicara di saat orang lain memilih diam. Ada yang memilih jalan sunyi demi memperjuangkan hal yang mereka anggap benar. Dan terkadang, mereka harus membayar mahal untuk itu.
Akhir yang Masih Perlu Diceritakan
Akhirnya, novel ini bukan hanya cerita tentang seseorang yang hilang. Tapi juga tentang seseorang yang tetap bersuara meskipun dari dasar laut. Suara itu mungkin pelan, tapi terus hidup dalam ingatan kita semua.
Untuk menuntut keadilan pun kita perlu mengorbankan sesuatu, karena itu bukanlah hal yang mudah di masa orde baru, di mana semua rakyat tidak diperbolehkan untuk berpendapat dengan bebas, kritik dibatasi oleh pemerintah dan yang akan menyuarakan kritik akan mendapatkan hukuman atas tindakan tersebut. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan mendukung kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Baca juga: Review Buku The Achemist: Cara Alam Semesta Berkonspirasi Wujudkan Impianmu
