Review Novel Twenty-four Eyes: Perang yang Mengandaskan Anak-Anak
Cover Novel Twenty-four Eyes Karya Sakae

Perang merupakan salah satu bentuk kekejaman manusia yang sangat memengaruhi segala aspek kehidupan. Novel Twenty-four Eyes atau dalam bahasa aslinya Nijushi no Hitomi karya Sakae ini menceritakan dampak perang pada anak-anak di kala itu.

Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1952 dan dipublikasikan oleh Kobunsha Co., Ltd. Lalu kemudian dicetak di Indonesia oleh percetakan PT Gramedia Jakarta dan terakhir kali dicetak pada bulan Maret 2025. Diterjemahkan oleh Tanti, diilustrasikan oleh Martin, serta tebal 244 halaman.

Saya membeli novel ini pada saat liburan pondok menjelang bulan Ramadan tahun 2025. Begitu saya melihat sampul buku ini, saya langsung tertarik untuk membacanya.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Light Novel, Buku Mungil Asal Jepang

Sinopsis Novel Twenty-four Eyes Karya Sakae

Novel ini berkisah tentang seorang guru bernama Mrs. Oishi yang mengajar di sebuah sekolah cabang desa di tanjung yang terpencil, pada tahun 1928. Tidak mudah bagi Mrs. Oishi untuk menjadi guru di desa itu karena meskipun kedua belas muridnya menyukainya tapi tidak dengan orang tua mereka, begitu pula dengan para penduduk yang lain.

Hanya karena Mrs. Oishi merupakan gadis modern yang mengendarai sepeda di sana, bahkan dia sempat dihina oleh pemilik toko kelontong akibat sebuah kesalahpahaman. Hingga pada suatu waktu, urat tumitnya terputus dan dia terpaksa berhenti mengajar dalam waktu yang lama.

Ternyata, ketidakhadiran Mrs. Oishi membuat murid-muridnya tidak kerasan dan memutuskan untuk menjenguknya meski dia tinggal di desa seberang teluk. Perjalanan mereka tentunya tak mudah mengingat mereka masih kecil dan tak tahu arah. Untungnya mereka berhasil menemukan Mrs. Oishi dan menghabiskan waktu bersamanya, menyantap bakmi bersama, bersenda gurau, dan mengambil foto bersama didekat sebuah pohon pinus. Mencetak kenangan manis dan menyenangkan yang akan mereka kenang sebelum roda mulai berputar.

Sumber: Canva

Pada tanggal 15 Maret, saat murid-murid Mrs. Oishi naik ke kelas dua, masyarakat Jepang menuntut kemerdekaan bagi mereka kepada pemerintah namun dibalas dengan gagasan-gagasan progresif.

Disertai dengan masa depresi yang mengguncangkan perekonomian membuat mereka harus berhemat. Bahkan setelah empat tahun kemudian, pemerintah Jepang masih bersikap tidak adil terhadap orang-orang yang berpikiran kritis dan melabeli mereka ‘merah’, mendoktrin masyarakat dengan menganggap mereka adalah ancaman.

Hal itu hampir membuat Mrs. Oishi dijebloskan ke penjara hanya karena dia membaca artikel-artikel kritis, saat dia akhirnya kembali mengajar. Seakan pengutaraan pendapat adalah perbuatan dosa.

Pada bagian tujuh ‘Menyosong Masa Depan’, kita juga ditunjukkan bahwa hak masyarakat untuk mengetahui keadaan perang juga telah dirampas, lagi-lagi oleh pemerintah mereka sendiri.

Ketidakadilan ini membuat saya tersadar sekaligus tertekan, sebab meskipun cerita yang dikisahkan Sakae ini adalah fiksi namun tidak dengan persimpangan antara ego pemerintah dengan penderitaan masyarakat saat perang.

Faktanya, konflik-konflik ini masih kerap terjadi di seluruh dunia, di mana mereka yang memiliki jabatan seolah-olah menjadi penguasa yang rakus dan mereka yang berada di bawahnya terpaksa tunduk, tutup mulut, tutup mata, dan menulikan telinga, demi kemakmuran negara.

Dalam kondisi seperti ini sudah pasti memengaruhi masa depan anak-anak, mereka yang ingin menggapai cita-cita dan hidup makmur berakhir dalam dua nasib. Hidup dalam kemelaratan atau menjadi abu sebagai prajurit. Mereka yang masih muda pun diminta untuk mengikuti jejak pahit mereka demi kehormatan.

Salah satu kutipan favorit saya ketika Mrs. Oishi berpikir, “Seaindainya aku, yang anaknya baru akan masuk sekolah tahun ini, bisa merasa seperti ini, tentunya jauh lebih banyak lagi ibu-ibu yang menderita,” dan “Perasaan jutaan ibu ibarat dilemparkan begitu saja ke tong sampah untuk dibakar, seolah-olah semua itu tidak berguna.”

Menunjukkan sakit hatinya saat mendengar anak-anak yang polos ingin menjadi prajurit, mereka belum tahu bahwa kekejian perang lebih dari yang mereka angan-angankan.

Penutup

Sumber: Canva

Setelah membaca kisah fiksi ini, alangkah baiknya kita menjaga ketentraman dan keharmonisan kita sebagai umat manusia. Dengan begitu kita dapat menghindari pemicu terjadinya perang dan dampak-dampaknya, karena perang selalu lebih banyak membawa dampak negatif daripada positif.

Perang tak mengenal tua-muda, pria atau wanita, maupun kaya dan miskin, maka hargai dan bersyukurlah karena kita hidup jauh setelah perang terjadi.

Baca juga: Dari Novel Rara Mendut ke Babad Tanah Jawi: Menyingkap Tradisi Setonan/Senenan di Istana Mataram

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya