Review Buku Is it Bad or Good Habits Karya Sabrina Ara

Dari kebiasaan kecil, tumbuhlah aku yang baru.

“Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Kebiasaan kecil hari ini bisa jadi masa depan kita nanti.”

Pernah nggak sih, kamu merasa stuck? Udah niat berubah, tapi balik lagi ke kebiasaan lama? Aku pun begitu. Sampai akhirnya aku menemukan buku Is it Bad or Good Habits dan sejak itu, aku mulai melihat kebiassaan bukan cuma soal “baik” atau “buruk”, tapi soal pilihan yang membentuk hidupku perlahan, tapi pasti.

Buku ini ditulis dengan gaya yang ringan, tapi isinya begitu mendalam. Isinya membahas tentang berbagai kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa sadar mulai dari scrolling medsos sebelum tidur, menunda tugas, sampai membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tapi yang menarik, buku ini tidak bernada menghakimi. Justru, penulisnya mengajak kita untuk memahami terlebih dulu alasan kita melakukan hal itu.

Baca juga: Review Novel Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna

Sumber: Canva

Bagian yang paling membekas buatku adalah ketika penulis menjelaskan bahwa kebiasaan buruk itu sering muncul dari rasa tidak  nyaman dan kita hanya cari pelarian instan. Misalnya, kalau lagi stres belajar, aku malah buka TikTok, makin banyak tugas yang terbengkalai. Akhirnya, stresnya double. Nah, di sinilah buku ini ngajarin aku satu hal penting: “Kebiasaan baik nggak harus besar, tapi harus konsisten”.

Setelah membaca buku ini, aku mulai coba satu hal kecil seperti, tidur lebih awal dan bangun 10 menit lebih cepat. Awalnya susah. Tapi ternyata, efeknya ke seluruh hariku. Aku jadi nggak terburu-buru, lebih fokus di sekolah, dan pelan-pelan belajar disiplin tanpa menunggu “mood”.

Menurutku, buku Is it Bad or Good Habits cocok banget buat kita, Pelajar SMA yang lagi belajar membentuk diri sendiri. Karena di masa ini, semua kebiasaan yang kita bangun akan menjadi pondasi ke depannya entah itu kita tumbuh, atau justru terjebak di tempat.

Awalnya aku menemukan buku ini secara tidak sengaja. Waktu itu aku sedang di perpustakaan sekolah, dan sampul buku ini menarik perhatianku. Judulnya lamgsung mengena, karena aku sedang berada di titik di mana aku mulai pertanyakan apa saja kebiasaan yang sebenarnya merugikan diriku, tapi sering aku abaikan. Dari sanalah perjalanan membaca ini dimulai.

Sumber: Canva

Satu hal yang membuat buku ini menonjol dibanding buku sejenis adalah cara penulis menyampaikan pesan. Bahasa yang digunakan tidak rumit, tidak menggurui, dan sangat relevan dengan kehidupan remaja sekarang. Di beberapa bagian, penulis juga menggunakan ilustrasi dan analogi yang mudah dimengerti, seperti membandingkan kebiasaan dengan benih yang tumbuh pelan-pelan entah menjadi bunga atau rumput liar, tergantung dari cara kita merawatnya.

Misalnya, ada satu bab yang membahas soal “kebiasaan menunda”. Penulis menyebut kebiasaan ini sebagai pencuri masa depan. Akhirnya aku mengira itu berlebihan, tapi setelah membaca penjelasannya, aku jadi sadar bahwa setiap kali aku menunda tugas, aku  sedang mencuri waktuku sendiri di masa yang akan datang. Dan ironisnya, kebiasaan seperti ini justru terasa nyaman di awal. Buku ini membantu membuka mata bahwa kenyamanan sesaat bisa mengorbankan kenyamanan jangka panjang.

Aku pun mulai mencatat kebiasaanku sehari-hari di sebuah jurnal kecil. Ini juga ide dari buku tersebut. Selama seminggu aku perhatikan, ternyata kebiasaan burukku tidak hanya soal bermain gadget, tapi juga soal cara berpikirku sering kali terlalu keras pada diri sendiri, mudah menyerah kalau satu hal tidak berjalan sempurna. Dari situ, aku belajar bahwa memperbaiki kebiasaan bukan cuma soal cara kita melihat diri sendiri. 

Buku ini juga menyadarkanku bahwa membangun kebiasaan tidak harus menunggu momen besar. Kadang kita terlalu sibuk menunggu awal bulan, awal semester, atau tahun baru untuk berubah. Tapi penulis mengajak kita untuk mulai dari sekarang. Dari satu langkah kecil yang diulang setiap hari.

Salah satu kutipan favoritku dari buku ini adalah “Kebiasaan adalah surat cinta kita untuk masa depan”. Kalimat itu terus terngiang setiap kali aku merasa malas atau ingin kembali ke pola lama. Rasanya seperti diingatkan bahwa apa yang aku lakukan hari ini, sekecil apapun, akan berdampak besar di kemudian hari.

Sebagai pelajar kelas 12 yang sedang mempersiapkan masa depan, aku merasa buku ini hadir di waktu yang tepat. Tekanan ujian, target belajar, dan ekspektasi orang sekitar bisa membuat kita kehilangan arah. Tapi dengan memahami dan mengatur kebiasaan, aku merasa lebih tenang dan lebih siap menghadapi semuanya.

Aku harap lebih banyak teman-temanku juga bisa membaca buku ini. Karena sejatinya, perubahan tidak harus selalu dramatis. Kita tidak perlu menjadi orang baru dalam semalam. Cukup dengan memperbaiki satu kebiasaan kecil hari ini, kita sedang menanam benih perubahan besar esok hari.

Baca juga: Rekomendasi 7 Toko Buku di Instagram. Dijamin Ori!

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya