“Sebentar ya, bantu Ibu dulu.” Kalimat itu tidak pernah terdengar seperti perintah keras. Justru ia hadir dengan nada yang lembut, akrab, dan hampir selalu dibungkus sebagai bentuk kasih sayang. Namun, justru dari hal yang paling sederhana itulah saya mulai menyadari sesuatu: bahwa menjadi perempuan sering kali identik dengan kesiapan untuk selalu tersedia.
Sejak kecil, saya melihat pola yang berulang di sekitar saya. Anak perempuan lebih sering dipanggil ketika pekerjaan rumah menumpuk. Mereka diminta membantu tanpa banyak pertanyaan. Mereka belajar lebih cepat untuk “peka” terhadap kebutuhan rumah, bahkan sebelum diminta. Sementara itu, anak laki-laki tumbuh dengan ruang yang lebih longgar mereka boleh membantu, tetapi tidak selalu dituntut untuk selalu hadir. Perbedaan ini tidak pernah disebut sebagai ketidakadilan. Ia justru dianggap sebagai bagian dari “cara keluarga berjalan”. Dan karena itulah, ia menjadi tidak terlihat.
Saya tidak pernah merasa ada yang secara langsung menindas. Namun, justru di situlah letak yang paling sulit dijelaskan: ketidaksetaraan tidak selalu datang dalam bentuk larangan atau kekerasan, tetapi dalam bentuk kebiasaan yang terus diulang hingga dianggap normal. Lama-kelamaan, saya mulai mempertanyakan satu hal sederhana: mengapa menjadi “anak baik” hampir selalu berarti menjadi anak perempuan yang siap mengalah?
Pertanyaan itu membawa saya pada istilah yang kemudian sering saya temui dalam kajian gender: unpaid care work atau pekerjaan perawatan tanpa bayaran. Awalnya, konsep ini terdengar seperti istilah akademik yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun semakin saya memperhatikan, semakin saya sadar bahwa konsep ini justru ada di sekitar saya setiap hari.
Memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga adik, mengingat kebutuhan anggota keluarga semuanya terlihat seperti pekerjaan kecil. Tetapi jika dikumpulkan, ia membentuk satu sistem kerja yang tidak pernah benar-benar selesai. Lebih dari itu, ada dimensi lain yang sering tidak dibicarakan: beban untuk terus mengingat dan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Inilah yang disebut mental load. Beban mental ini tidak terlihat, tetapi justru paling melelahkan. Ia tidak berhenti ketika pekerjaan selesai, karena pikiran tetap bekerja: apa yang belum dilakukan, siapa yang perlu dibantu, apa yang harus disiapkan besok.
Dalam banyak keluarga, beban ini jatuh lebih berat kepada perempuan, bukan karena kemampuan, tetapi karena kebiasaan sosial yang sudah diwariskan. Perempuan dibesarkan untuk responsif, sementara laki-laki dibesarkan untuk fokus pada hal-hal yang dianggap “utama”. Saya melihat pola ini tidak hanya dalam keluarga besar, tetapi juga dalam kehidupan teman-teman sebaya saya di kampus. Ada teman perempuan yang pulang kuliah langsung membantu orang tua berjualan. Ada yang harus menjaga adik sebelum sempat menyentuh tugas kuliah. Ada yang menunda kegiatan organisasi karena dianggap “lebih dibutuhkan di rumah”.
Yang lebih mengganggu bukan hanya beban itu sendiri, tetapi bagaimana beban itu tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa berat. Ia dinormalisasi. Bahkan sering kali dianggap sebagai bentuk bakti yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Akibatnya, banyak perempuan muda tidak belajar untuk mengenali batas dirinya sendiri. Mereka terbiasa memprioritaskan orang lain, hingga pada titik di mana kebutuhan pribadi terasa seperti hal yang egois. Ironisnya, ketika mereka mulai lelah, respons yang muncul bukanlah empati, melainkan evaluasi: “kurang pandai mengatur waktu”, “kurang bersyukur”, atau “tidak cukup kuat”.
Di titik ini, saya mulai melihat bahwa masalahnya bukan sekadar pembagian tugas rumah tangga, tetapi cara masyarakat mendefinisikan nilai perempuan. Perempuan dianggap baik ketika mereka tidak merepotkan orang lain, bahkan jika itu berarti merepotkan diri sendiri.
Media sosial memperkuat konstruksi ini dengan cara yang lebih halus tetapi sangat efektif. Kita sering melihat narasi tentang perempuan yang mampu melakukan semuanya: sukses akademik, aktif secara sosial, tetap rapi, tetap membantu keluarga, tetap produktif tanpa henti. Narasi ini terlihat inspiratif, tetapi diam-diam membentuk standar yang tidak realistis.
Yang tidak terlihat adalah konteks di baliknya: bantuan yang mungkin mereka miliki, kelelahan yang disembunyikan, atau privilege yang tidak dimiliki semua orang. Akibatnya, banyak perempuan Gen Z membandingkan diri mereka dengan versi ideal yang sebenarnya tidak pernah utuh.
Saya mulai memahami bahwa tekanan terbesar bukan hanya berasal dari pekerjaan, tetapi dari ekspektasi untuk tidak boleh gagal dalam menjalani semua peran sekaligus.
Dalam kajian gender, kondisi ini sering dikaitkan dengan double burden atau beban ganda yang dialami perempuan menjalankan peran domestik dan publik secara bersamaan. Hidayati (2015) menjelaskan bahwa beban ini berdampak pada terbatasnya ruang perempuan untuk berkembang secara optimal. Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa struktur sosial dan budaya patriarki masih menjadi faktor utama yang membuat pembagian kerja domestik tetap timpang.
Namun, yang sering luput dari pembahasan adalah aspek emosionalnya. Beban ini tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga membentuk cara perempuan memandang dirinya sendiri. Mereka belajar bahwa nilai diri diukur dari seberapa banyak mereka bisa membantu orang lain, bukan dari bagaimana mereka merawat diri sendiri. Padahal, kesetaraan gender tidak pernah dimaksudkan untuk membuat perempuan memikul lebih banyak beban agar dianggap setara. Kesetaraan justru berarti membagi beban itu secara adil, sehingga setiap orang memiliki ruang yang sama untuk tumbuh.
Pekerjaan domestik bukanlah kodrat. Ia adalah keterampilan hidup. Tetapi ketika keterampilan itu hanya diajarkan kepada satu kelompok, ia berubah menjadi ketimpangan yang diwariskan.
Perubahan tidak selalu membutuhkan kebijakan besar. Justru ia dimulai dari ruang paling kecil: rumah. Dari cara orang tua membagi tugas kepada anak-anaknya. Dari bagaimana anak laki-laki dan perempuan diajarkan untuk bertanggung jawab tanpa dibedakan berdasarkan gender.
Di lingkungan pendidikan, penting juga untuk melihat mahasiswa bukan hanya sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai individu yang membawa beban sosial yang berbeda. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menjadi “anak baik” tidak seharusnya berarti menghapus diri sendiri demi orang lain. Kepatuhan yang tidak pernah dipertanyakan justru berisiko membuat seseorang kehilangan ruang untuk tumbuh.
Perempuan tidak harus selalu “bisa” agar dianggap berharga. Karena nilai manusia tidak terletak pada seberapa banyak ia mampu menanggung, tetapi pada kemanusiaannya untuk dipahami, didukung, dan diberi ruang untuk hidup secara utuh. Kesetaraan, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling kuat. Tetapi tentang bagaimana kita berhenti menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.
Daftar Pustaka
Musdalifah, F., & Rahmawati, A. (2021). Akademisi perempuan, beban ganda dan peran komunikasi keluarga di masa pandemi. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 6(2), 119–139. https://doi.org/10.17977/um021v6i2p119-139
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023). Pembangunan Pemberdayaan Gender.
Musawa: Jurnal Studi Gender dan Islam. (2020). Pembagian Kerja Domestik dalam Perspektif Gender. https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA
Ferrant, G., Pesando, L. M., & Nowacka, K. (2014). Unpaid Care Work: The Missing Link in the Analysis of Gender Gaps in Labour Outcomes. OECD Development Centre. https://doi.org/10.1787/1f3fd03f-en
OECD. (2019). Enabling Women’s Economic Empowerment: New Approaches to Unpaid Care Work in Developing Countries. https://doi.org/10.1787/ec90d1b1-en
UN Women. (2023). Progress on the Sustainable Development Goals: The Gender Snapshot 2023. https://www.unwomen.org/en/digital-library/publications/2023/09/progress-on-the-sustainable-development-goals-the-gender-snapshot-2023
Penulis: Rixi Naya Axelva adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang menaruh perhatian pada isu kesetaraan gender, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Melalui esai, ia berupaya menghadirkan refleksi kritis atas persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dapat dijumpai di Instagram @Rixi Naya Axelva
Editor: Hamimie
