Pengabaian Rahim Generasi: Mengenali Penyebab Stunting

Setiap bulan, pemandangan di Posyandu selalu sama. Antrean ibu-ibu menggendong balita, riuh suara tangis anak yang takut pada timbangan, dan kader kesehatan yang sibuk mencatat grafik tumbuh kembang. Sementara itu, petugas membagikan biskuit makanan tambahan, susu dan informasi tentang pengasuhan dan pamflet panduan “isi piringku”. Negara Secara Serius mengucurkan anggaran miliaran rupiah dan beragam kampanye serta gerakan untuk memastikan penurunan Stunting melalui pemenuhan gizi dan intervensi medis.

Namun, mari kita sejenak menarik garis waktu mundur—jauh sebelum anak-anak itu lahir, bahkan sebelum mereka berbentuk janin. Pernahkah kita bertanya bagaimana kondisi perempuan yang mengandung mereka? Kita sering kali begitu sibuk menghitung miligram zat besi di atas piring anak, tetapi luput menghitung beban mental dan fisik yang dipikul oleh rahim yang mengandungnya.

Di sinilah letak mata rantai stunting yang kerap terlupa: Pengabaian Rahim Generasi. Rahim bukan sekadar organ biologis yang pasif, melainkan “rumah pertama” tempat cetak biru kualitas sebuah generasi ditentukan. Ketika sebuah rumah dibangun di atas tanah yang kering dan rapuh, bangunan di atasnya tentu akan sulit tegak dengan kokoh. Sayangnya, akibat ketidakadilan gender yang masih mengakar di masyarakat, banyak rahim perempuan di Indonesia dipaksa bekerja dalam kondisi “terabaikan” sejak mereka masih remaja.

Akar masalah ini di mulai dari bagaimana Ibu merencanakan menu keluarga, Suami mau makan apa? Atau anak-anak sukanya makan apa? Adalah pertanyaan yang selalu menjadi awal sebelum sajian menu di meja makan di sajikan. Tanpa pernah ada yang bertanya apa yang ingin ibu makan? Selera makan ibu adalah hal pertama yang akan di coret dari daftar belanja dan daftar menu.

Perempuan seringkali mengabaikan preferensi rasanya sendiri demi memuaskan selera kepala rumah tangga dan seluruh anggota keluarga selain dirinya. Egosime rasa ini berjalan begitu halus dan seringkali dinormalisasi sebagai “pengorbanan seorang ibu yang baik”. Akibatnya meja makan yang seharusnya menjadi ruang pemenuhan gizi yang setara menjadi panggung penegasan kuasa maskulinitas, selera suami yang mendikte makanan apa dan siapa yang paling “perlu” dipenuhi kebutuhan gizinya. Dan istri menjadi pelaksana dan penyedia yang patuh, bahkan ketika itu mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

Ibu dan anak perempuan dilatih mengalah dan mendahulukan kepentingan oranglain, dan hal ini di dukung dengan masih berkembangnya mitos yang keliru tentang altruisme maternal, sehingga pengabaian selera ini berlanjut hingga pada porsi  dan kualitas gizi yang dikonsumsi, seorang ibu tidak jarang berbohong makanlah ibu sudah kenyang, ikannya buat kamu saja ibu nggak suka.

Ironisnya, tubuh perempuan yang selalu mengalah dan berkorban dalam sunyi itu adalah Rahim generasi yang membutuhkan gizi mikro dan makro terbaik untuk mencegah stunting pada anak yang dikandung atau di susuinya. Ketika selera dan kebutuhan ibu dikesampingkan, maka ibu akan mengalami malnutrisi terselubung (hiddeng hunger) tubuh ibu pelan-pelan akan kehabisan cadangan nutrisi penting seperti kalsium, zat besi dan asam folat. Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi sehat dan bebas stunting jika manusia  yang mengandungnya  dipaksa bertahan bertahan hidup dari meja makan yang timpang gender.

Berdasarkan hasil Survey kesehatan Indonesia (SKI) 27,7 % perempuan hamil mengalami anemia kronis, artinya 3 dari 10 perempuan di Indonesia memulai perjalanan reproduksinya dengan kondisi sel darah merah yang rendah zat besi. Kondisi yang merampas hak janin atas gizi sejak hari pertama kehidupannya. Banyak orang mengira urusan gizi ibu hamil murni masalah ekonomi. Padahal, ini adalah masalah relasi kuasa dan hak suara. Dalam banyak rumah tangga, kontrol keuangan dipegang penuh oleh suami, sementara sang istri tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan apa yang harus dibeli.

Pengabaian ini berlanjut saat kehamilan terjadi. Banyak orang mengira urusan gizi ibu hamil murni masalah ekonomi. Padahal, ini adalah masalah relasi kuasa dan hak suara. Dalam banyak rumah tangga, kontrol keuangan dipegang penuh oleh suami, sementara sang istri tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan apa yang harus dibeli.

Ketika suami tidak memiliki literasi gizi yang cukup dan menganggap remeh kebutuhan vitamin ibu hamil, sang istri terpaksa memakan apa adanya. Ibu hamil tidak memiliki kuasa untuk mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri. Kondisi psikologis ibu yang tertekan karena tidak didengar, dikombinasikan dengan asupan gizi yang seadanya, memicu stres prenatal. Hormon stres ini secara ilmiah terbukti menghambat aliran nutrisi dari plasenta ke janin. Janin pun tumbuh dalam “ruang isolasi” yang penuh tekanan.

Bentuk pengabaian rahim yang paling nyata di depan mata adalah beban kerja domestik. Banyak ibu hamil, terutama di kalangan kelas pekerja atau pedesaan, tetap harus memikul beban kerja yang berat. Dari mencuci baju, memasak, hingga mengurus rumah tangga sendirian tanpa bantuan pasangan, sementara di sisi lain mereka juga harus bekerja mencari nafkah.

Secara biologis, tubuh ibu hamil membutuhkan energi ekstra untuk membentuk organ tubuh janin. Namun, karena tidak adanya pembagian peran yang adil dari suami di rumah, energi ibu habis terbakar untuk kerja fisik yang melelahkan. Janin akhirnya kalah berebut energi dengan otot-otot ibunya yang dipaksa terus bekerja tanpa istirahat yang layak.

Akhirnya, kita harus sadar bahwa memutus mata rantai stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan biskuit gratis di Posyandu. Stunting adalah persoalan struktural yang akarnya ada pada bagaimana kita memperlakukan perempuan di dalam rumah. Jika kita ingin menghentikan stunting, intervensi terbesar justru harus dilakukan di meja makan keluarga dan dalam pembagian peran suami-istri.

Menyelamatkan masa depan bangsa harus dimulai dengan memuliakan rahim yang melahirkannya. Dan memuliakan rahim berarti memberikan keadilan gizi sejak perempuan remaja, memberikan mereka hak suara dalam keluarga, serta memastikan para ayah siap berbagi beban di rumah. Sebab, anak yang sehat hanya akan lahir dari ibu yang merdeka, dihargai, dan dicukupi haknya.

Referensi :

Black, R. E., Victora, C. G., Walker, S. P., Bhutta, Z. A., Christian, P., de Onis, M., … & Maternal and Child Nutrition Study Group. (2013). Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. The Lancet, 382(9890), 427-451. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60937-X

Carlson, G. J., Kordas, K., & Murray-Kolb, L. E. (2015). Associations between women’s autonomy and child nutritional status: A review of the literature. Maternal & Child Nutrition, 11(4), 451-482. https://doi.org/10.1111/mcn.12113

Dugdill, L., & Coffey, M. (2022). The “double burden” of rural women: Domestic labor energy expenditure and its correlation with fetal growth restriction. Women & Health, 62(3), 201-214.

Glover, V. (2014). Prenatal stress and its effects on the fetus and the child: Possible underlying mechanisms. Advances in Neurobiology, 10, 269-283. https://doi.org/10.1007/978-1-4939-1372-5_13

Lckowitz, A., Powell, B., Salim, M. A., & Rowland, D. (2021). Women’s empowerment, household food security, and child nutritional status in rural Indonesia. World Development, 145, 105524. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2021.105524

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan nasional Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

Pratama, A. N., & Handayani, S. (2021). Budaya patriarki dan ketahanan pangan: Analisis ketimpangan konsumsi zat gizi mikro intra-rumah tangga pada ibu hamil. Jurnal Sosiologi Kesehatan Indonesia, 9(2), 115-128.

Penulis: Rosita Mulya Ningsi, S.Ikom atau yang biasa di sapa Ocha adalah seorang penyuluh Keluarga berencana di kecamatan seluma selatan, sejak SMA sudah aktif melakukan kampanye untuk kesehatan reproduksi remaja pada youth centre PKBI Bengkulu, kepeduliannya terhadap persoalan ketidakadilan gender membawanya tergabung bersama Cahaya Perempuan WCC dan yayasan Pupa Bengkulu  secara aktif menyuarakan upaya mendorong masyarakat yang adil gender. Bahkan setelah perjalanan takdir membawanya menjadi seorang ASN semangatnya untuk mendorong pengarusutamaan gender dan membawa perspektif gender tranformatif di dalam kehidupan sehari-hari semakin menguat. Sebagai penyuluh Keluarga, ocha merasa jalannya terbentang luas, untuk dapat mendorong keluarga Indonesia yang berkeadilan gender.

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya