“Yang kalah harus nurut yang menang. Gimana?” “Oke.”
Panji nyaris melompat kegirangan. Sedekah bumi kali ini berbeda, karena untuk pertama kalinya ia diizinkan ikut gulat okol. Ia mengikatkan selendang sutra pemberian ibunya di pinggang, seolah selendang itu adalah nyawanya. Dengan gembira, ia menantang anak-anak desa yang mengelilinginya.
Tentu saja, tidak ada yang berani melawan anak tetua desa. Mereka takut ibu Panji akan memarahi orangtua mereka jika mempermalukan Panji di arena. Jika kalah, mereka tetap akan dimarahi karena dianggap lemah.
Namun, seorang bocah bernama Wahan berani menjawab tantangan Panji. Ia tak takut dimarahi sebab ia sendiri tak punya orangtua. Langkah polosnya berjalan di atas tumpukan jerami arena gulat, menghadap satu-satunya lawan.
Aturannya sederhana, siapa pun yang menarik selendang lawannya hingga ia terjatuh adalah pemenang. Panji dan Wahan membungkuk, kaki terbuka, berat badan ditahan di tanah. Begitu wasit berteriak, “Mulai!” tubuh mereka maju bersamaan—bahu bertumbuk, dada saling menahan.
Panji lebih dulu menarik selendang Wahan. Mereka bergumul singkat, kaki mencari pijakan. Kain itu menegang di antara tubuh mereka. Wahan kehilangan keseimbangan. Ia jadi yang pertama tersungkur di jerami. Panji ikut terseret jatuh dan menindih badan Wahan. Keduanya terengah-engah.
Dengan sisa napasnya, Wahan berbisik, “Apa maumu?”
Panji tersenyum lepas. “Jadilah teman bermainku.”
Mereka pun menjadi sahabat, seperti perkutut yang tak lagi terpisah dari pasangannya. Hampir setiap hari mereka keluar rumah. Mencari kepiting di bibir pantai, memancing di sela bebatuan, memakannya bersama, lalu pulang sambil memanggul kayu bakau kering. Wahan selalu
mengikuti Panji dari belakang. Kadang-kadang mereka berlagak seperti pangeran dan pengawal yang sedang berburu, saling memberi perintah yang mereka ciptakan sendiri.
Suatu hari mereka menyusuri muara. Panji membawa selendang sutranya untuk membungkus kepiting tangkapan. Langit mendung, tapi lumpur pantai terasa menyenangkan untuk diinjak, untuk berlarian tanpa tujuan.
“Panji, ayo pulang,” kata Wahan. “Sebentar lagi,” jawab Panji. “Lagi seru.”
Air laut tiba-tiba pasang. Tanpa aba-aba, arus meluap dan menyeret kaki mereka. Panji berhasil memanjat batang bakau yang kokoh. Wahan tertahan di bawah, berpegangan pada
dahan-dahan kecil yang rapuh. Panji melihat selendang sutranya ikut terseret arus. Ia meraihnya.
“Wahan!” teriak Panji sambil mengulurkan kain itu. “Pegang!”
Wahan sempat menggenggam selendang itu ketika dahan yang ia pegang patah. Arus menarik tubuhnya. Kain sutra menegang, lalu robek.
Panji menjerit memanggil namanya, sementara tubuh Wahan terlepas dan hilang di tengah air yang bergolak.
Keesokan harinya, Panji, tetua desa, dan warga yang lain bergotong royong mencari Wahan saat cuaca aman terkendali. Mereka terkejut bukan kepalang melihat Wahan berdiri dengan tatapan kosong menghadap laut. Tubuhnya kering tanpa luka, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Dia berdiam sambil menggenggam erat selendang robek itu.
Panji berlari ke arahnya tergesa-gesa. Ia langsung memeluknya sambil merintih, “Syukurlah kamu selamat.”
Samar-samar, Panji merasakan sesuatu yang tak lagi ia kenal pada diri Wahan. Ia tidak bertanya. Ia hanya memeluknya lebih erat, seolah takut sesuatu akan terlepas jika ia lepas.
“Ayo kita pulang.”
Asik. Sepertinya aku akan makan unggas hari ini. Seekor perkutut tersangkut perangkap tali yang kupasang semalam. Aku menyembelihnya tanpa ragu. Saat membersihkan darah yang mengalir, aku sempat meminta maaf pada penjaga hutan. Barangkali ada sepasang mata lain yang menunggu burung ini pulang.
Setelah kenyang, aku melanjutkan perjalanan ke sebuah desa nelayan di dekat delta. Teman lamaku butuh bantuan. Ia butuh seorang dukun untuk memecahkan masalah.
“Halo, Bu Lurah. Lama tak jumpa.” “Bhinna! Apa utusanku sampai padamu?” “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Ini soal laut. Selat Madura selalu ramah hingga sekarang. Ia adalah sumber utama pencaharian warga. Namun sejak sewarsa lalu, langit seperti mengurung kami. Petir dan angin datang tanpa jeda. Nelayan tak berani melaut, stok ikan pun menipis.”
“Itu aneh,” heranku. “Apa yang selama ini kalian lakukan ketika badai terjadi?”
“Menurut dukun desa yang saat ini telah mati, kami perlu melakukan sedekah bumi agar langit bersahabat kembali. Namun ada masalah.”
“Masalah?”
“Dulu sedekah bumi itu benar-benar menolong kami. Laut mau bersahabat lagi. Tapi sekarang, hujan dan angin datang lebih cepat. Padahal ritualnya tak pernah kami tinggalkan. Nelayan cuma bisa melaut sebentar, lalu pulang. Sedangkan beban ritual semakin berat.”
Siapa pun dukun mereka sepertinya kurang pengalaman. Sedekah bumi tentu dapat menolak bala, tapi bukan dipakai untuk menyembuhkan sebab. Ini sama saja dengan menahan ombak dengan telapak tangan.
“Akan kuusahakan,” ujarku menenangkannya.
Tak berselang lama, langkah kaki berjalan mendekat. Langkah bocah. “Om Bhinna!”
“Panji? Kamu udah gede ya.”
“Hehe,” tangannya menggosok ubun-ubun. “Eh, Om.” “Kakak.”
“Kita sedang latihan okol buat duel besok. Jadi wasit ya.”
“Eh tapi aku ada urusan.” Panji menarik bajuku dengan tergesa. Ia berlari keluar. Aku terpaksa mengikutinya.
Di lapangan, seorang bocah lain menunggu kami. Dia tiduran di pasir sembari menatap langit, seolah merindukan rumah. Di tangannya terdapat kain yang diikat layaknya gelang. Kain itu sobek.
“Wahan. Kamu bawa dua selendangnya kan? Aku bawa wasit,” teriak Panji dari kejauhan. “Heem,” balasnya singkat.
Cuacanya mendung. Aku bertanya apa sebaiknya cari tempat yang teduh untuk latihan. Panji meyakinkanku untuk tidak khawatir soal cuaca, karena mereka akan bertanding gulat okol. Tanpa memahami maksudnya, aku hanya bisa memperhatikan permainannya.
Panji dan Wahan membungkuk, kaki terbuka, berat badan ditahan di tanah. Begitu aku berteriak, “Mulai!” tubuh mereka maju bersamaan—bahu bertumbuk, dada saling menahan.
Wahan jatuh duluan. Panji berdiri terengah-engah. “Hahaha, menang lagi!” tawanya pecah.
Mataku teralihkan ke langit. Seharusnya sudah turun hujan, tetapi awan bertiup menjauh. Rupanya bukan aku saja yang menoleh, Wahan juga. Ia memperhatikan gumpalan awan yang mengecil di cakrawala.
“Kamu..” Panji, yang melihat kecurigaanku, menyela. “Om Bhinna, kita mau cari kerang dulu ya.” Ia mendorong Wahan menjauh dariku. “Om pulang ke Ibu duluan saja!” Mereka berlari menjauh tanpa menengok kembali ke belakang.
Di penginapan, Bu Lurah penasaran dengan pengamatanku.
“Aku punya teori. Masalahnya ada di laut, maka penyelesaiannya adalah laut. Sepertinya Selat Madura sedang kehilangan hyangnya.”
“Hyang?”
“Seperti hutan, laut juga punya penjaga. Biasanya berwujud lelembut. Tugasnya menjaga agar wilayahnya tetap seimbang.”
“Maksudmu dia tidak ada di tempat seharusnya?”
“Aku punya dugaan. Lelembut itu saat ini sedang ada di desa. Aku akan memikirkan sesuatu.”
Keesokan harinya, masyarakat berkumpul untuk mengadakan sedekah bumi yang kesekian kalinya. Tak ada keceriaan di hajatan ini—hanya wajah-wajah yang terpaksa berkorban demi bertahan hidup.
Kutemukan Wahan duduk sendirian di bebatuan. Kutawari ia ikan asap dari acara desa. Ia makan dengan lahap. Pandanganku menyapu sekeliling, mencari satu sosok yang tak kutemukan.
“Panji sedang mengambil selendang,” ucap Wahan seolah tahu apa yang kucari. Aku terdiam, lalu melirik tangannya. Kain yang sama. “Sutra yang bagus.” “Terima kasih,” balasnya.
“Kurang lengkap kalau tidak diberi wangi-wangian,” gurauku sambil mengeluarkan peralatan klenikku. Sebuah kemenyan khusus kubakar di atas prapen. Asapnya misterius—mampu membedakan kain berbahan mahal. Wahan diam saja, membiarkan asap itu mengerubungi pergelangannya.
Bau menyan tak pernah bertahan lama. Ia menguap, lalu hilang. Kukatakan pada Wahan agar menghargai nilai kain itu dan menyimpannya dengan baik.
Panji datang dengan membawa dua selendang. Entah mengapa wajahnya tidak seceria biasanya. Apa dia sedang sakit? Tidak. Katanya dia ingin cepat-cepat memulai permainan, seolah tidak ada waktu lagi untuknya.
Mereka memulai gulat okol seperti biasanya, dengan dikerumuni banyak orang. Tentu saja mereka hanya ingin melawan satu-satunya lawan. Begitupun, semua orang sudah tahu hasil akhirnya. Wahan takluk seketika.
Ketika acara bubar, kedua bocah itu tetap berdiri di arena. “A-aku ingin sendirian,” Panji berbicara dengan gugup.
Wahan berdiri lama, seolah bukan itu jawaban yang selama ini ia tunggu. Ada sorot kehilangan di matanya—seperti orang yang tak tahu harus pulang ke mana.
Sedekah bumi telah selesai, maka seharusnya langit kembali cerah. Semua pulang dan menunggu, berharap awan mengecil di cakrawala. Namun, tak ada petunjuk langit hingga sore. Langit tetap mendung.
Bu Lurah panik. “Panji belum pulang sejak siang tadi.” “Aku akan coba mencarinya,” usulku.
“Biar aku saja!” Wahan muncul tiba-tiba di depan pintu. Ia tampak terengah-engah sehabis berlari.
Aku mencoba menghentikannya, “Jangan! itu bahaya.”
Himbauanku tak digubrisnya. Ia berlari menjauh tanpa menengok kembali ke belakang.
Tidak ada kabar apa pun tentang Wahan ataupun Panji. Bu Lurah menangis tanpa henti. Aku menyeduhkan wedang jahe dan memintanya meminum sedikit demi sedikit, sekadar agar tubuhnya mau beristirahat.
Malam berlalu dengan sunyi. Tak ada yang keluar rumah. Tak ada yang berani mendekat ke bibir pantai. Semua dihantui dugaan bahwa sedekah bumi kali ini gagal. Tiga hari kemudian, cuaca di desa kembali normal. Orang-orang mulai melaut lagi sembari menjemur ikan asin dan terasi. Tidak ada tanda badai akan kembali.
Seorang warga datang ke rumah Bu Lurah. Ia melaporkan telah menemukan Panji saat menyusuri muara. Lekas kami mendatangi rumah nelayan yang menolongnya.
Panji terbaring lemah, tubuhnya penuh luka. Ia ditemukan terikat pada batang bakau di muara, nyaris terseret arus. Yang menyelamatkannya hanyalah kain yang melilit pergelangan tangannya. Kain itu utuh. Dari seratnya, samar tercium aroma menyan.
Tak ada yang menyebut nama Wahan di rumah itu. Semua perhatian tertuju pada keadaan Panji.
Aku menggendongnya kembali ke penginapan. Ibunya pergi ke pasar dengan wajah lega, ingin membeli segala kebutuhan anaknya. Ia berjanji akan menjaganya lebih baik.
Setelah Panji pulih, aku berpamitan. Ia menyerahkan selendang sutra ibunya padaku; katanya ia tak lagi memerlukannya untuk hidup.
Seekor perkutut terbang bebas ke arah hutan. Aku meneruskan perjalanan.
Penulis: Ristyawan Pratama
Editor & Ilustrator: Hamimie
