Sebagai anak rantau yang pernah menempuh pendidikan di tanah Bugis, saya selalu bercermin bahwa kearifan lokal menjadi dasar orang Bugis selalu tampil tangguh di mana pun dia merantau. Dengan memegang adat yang adi luhur, orang Bugis selalu memiliki ciri khas dalam bermasyarakat secara nasional dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di banyak Bola Ugi (atau Rumah Bugis) berupa rumah panggung, nasihat orang tua sering kali lebih berharga daripada benda warisan. Nasihat itu disebut pappaseng, petuah yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pedoman hidup. Meskipun zaman telah berubah, sebagian pappaseng masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Pappaseng tidak hanya mengajarkan tentang hubungan manusia dengan sesamanya, tetapi juga memberikan tuntunan mengenai pendidikan, keluarga, kepemimpinan, dan moralitas. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, pesan tersebut tetap memiliki nilai yang sangat penting. Misalnya, pendidikan perempuan bukan hanya persoalan memperoleh gelar akademik atau meningkatkan status sosial, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk membangun kualitas keluarga dan masyarakat.
Seorang perempuan yang memiliki pengetahuan dan akhlak yang baik akan menjadi sumber pembelajaran pertama bagi anak-anaknya. Dari tangan seorang ibu, lahir generasi yang memiliki karakter, nilai moral, dan semangat untuk terus belajar. Karenanya pendidikan perempuan sesungguhnya merupakan pondasi penting bagi kemajuan suatu bangsa.
Makna pappaseng tersebut dapat dipahami melalui kisah seorang perempuan muda Bugis bernama Indri. Ia tumbuh di sebuah kampung sederhana di tepian Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Lingkungan tempat tinggalnya dikelilingi hamparan sawah yang luas serta tradisi budaya yang masih terjaga.
Sejak kecil, Indri hidup dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja jauh di Kalimantan sebagai nahkoda kapal sedangkan ibunya menghidupi keluarga dengan menenun sarung sutra, salah satu kerajinan khas Wajo yang menjadi kebanggaan masyarakat Bugis.
Sebagai anak perempuan, Indri tidak pernah dibesarkan dengan anggapan bahwa perempuan cukup berada di rumah tanpa pendidikan yang memadai. Ibunya selalu mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan harus berjalan beriringan. Karena itu, selain membantu menenun sutra, Indri juga didorong untuk rajin belajar. Kehidupan yang sederhana tidak membuatnya kehilangan harapan. Justru dari lingkungan itulah tumbuh kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang dimiliki.
Perjalanan hidup Indri mulai menemukan arah yang lebih jelas ketika ia mendengar nasihat neneknya. Pada suatu sore di rumah panggung keluarga mereka, sang nenek menyampaikan pappaseng yang kemudian menjadi pegangan hidup Indri: “Parellu paddisengeng lino ahera makkurai e nasaba assikolang bunge’na wija-wijanna”. Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin hanya terdengar sebagai petuah biasa. Namun bagi Indri, nasihat itu membuka pemahaman baru tentang arti pendidikan. Ia menyadari bahwa perempuan tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap generasi yang akan lahir dari rahimnya kelak.
Sebuah petuah yang menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Yang mengandung makna bahwa seorang perempuan perlu dibekali pendidikan dan ilmu agama karena kelak ia akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Nasihat tersebut semakin bermakna ketika Indri melihat kenyataan di sekitarnya. Tidak sedikit perempuan di kampungnya yang berhenti sekolah pada usia muda. Sebagian memilih bekerja membantu keluarga, sementara sebagian lainnya menikah tanpa sempat melanjutkan pendidikan. Pandangan bahwa perempuan cukup pandai mengurus rumah tangga masih ditemukan di beberapa kalangan masyarakat. Padahal, seorang ibu yang berpendidikan memiliki kemampuan lebih besar untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya, memberikan teladan yang baik, serta membantu keluarga menghadapi perubahan zaman.
Ada masa ketika Indri mempertanyakan apakah mimpinya untuk kuliah bisa terwujud. Saat ibunya sakit dan biaya sekolah semakin berat, ia sempat berpikir untuk berhenti belajar seperti beberapa temannya. Namun nasihat neneknya selalu teringat setiap kali ia mulai kehilangan semangat.
Kesadaran inilah yang mendorong Indri untuk terus belajar meskipun menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan ekonomi keluarga sempat membuatnya berada di ambang putus sekolah. Untuk membantu ibunya, ia menenun sarung sutra pada malam hari dan menjual kue tradisional pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Kegiatan tersebut tentu tidak mudah dilakukan oleh seorang remaja. Namun, Indri memahami bahwa setiap ilmu yang diperoleh merupakan bekal untuk masa depan yang lebih baik. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang dirinya sendiri, melainkan tentang bagaimana kelak ia dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Dengan kerja keras, disiplin, dan doa yang tidak pernah putus, Indri berhasil menyelesaikan pendidikan hingga menjadi sarjana Pendidikan Agama Islam dari sebuah universitas negeri keagamaan di Kota Makassar. Keberhasilannya menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat di kampungnya. Namun, pencapaian tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Ia kemudian memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke Malaysia melalui program beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Kesempatan itu menjadi bukti bahwa pendidikan mampu membuka jalan menuju pengalaman dan wawasan yang lebih luas.
Sambil menunggu kepergiannya ke Malaysia, Indri tidak berpangku tangan namun hal yang menarik dari sosok Indri adalah kemampuannya memanfaatkan ilmu untuk kepentingan masyarakat. Ia mendirikan kelas mengaji gratis bagi anak-anak di kampungnya. Setiap sore, rumah panggung peninggalan neneknya dipenuhi suara anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an. Selain mengajarkan ilmu agama, Indri juga menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang tua.
Kehadirannya menjadi inspirasi bagi masyarakat bahwa perempuan yang berpendidikan dapat berperan sebagai agen perubahan sosial.Dampak dari kegiatan kelas mengaji gratis ini perlahan mulai terlihat. Para orang tua yang sebelumnya menganggap pendidikan perempuan tidak terlalu penting mulai mengubah pandangannya.
Mereka melihat bahwa ilmu yang dimiliki seorang perempuan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Pendidikan ternyata mampu memperluas peran perempuan tanpa harus menghilangkan identitasnya sebagai anggota keluarga dan penjaga nilai budaya.
Kisah Indri juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus bertentangan dengan adat istiadat. Ketika seorang lurah muda bernama Basso berniat meminangnya, muncul pembahasan mengenai uang panai, yaitu salah satu tradisi penting dalam pernikahan adat Bugis. Dalam masyarakat Bugis, uang panai berbeda dengan mahar karena merupakan bentuk penghormatan kepada keluarga calon mempelai perempuan. Namun, dalam praktiknya, besaran uang panai terkadang menjadi persoalan yang dapat menghambat pernikahan.
Dalam situasi tersebut, pendidikan yang dimiliki Indri membentuk cara pandangnya yang bijaksana. Ia memahami pentingnya menjaga adat sebagai bagian dari identitas budaya. Namun, ia juga menyadari bahwa adat seharusnya tidak menjadi beban yang menghalangi niat baik seseorang untuk membangun rumah tangga. Melalui musyawarah dan saling pengertian, kedua keluarga akhirnya mencapai kesepakatan yang menghormati adat tanpa memberatkan pihak laki-laki. Sikap ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat membantu seseorang memahami tradisi secara lebih arif dan proporsional.
Lebih dari itu, Indri memandang pendidikan bukan sebagai alat untuk meninggikan derajat atau membedakan dirinya dari orang lain. Ia melihat pendidikan sebagai amanah yang harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada keluarga dan masyarakat. Pemahaman tersebut sejalan dengan nilai yang terkandung dalam pappaseng Bugis bahwa perempuan yang berilmu akan menjadi bunga yang mekar bagi keturunannya. Ilmu yang dimiliki seorang perempuan akan mengalir kepada anak-anaknya, keluarganya, dan lingkungan tempat ia hidup.
Dari refleksi terhadap sosok Indri, dapat dipahami bahwa pappaseng “Parellu paddisengeng lino ahera makkurai e nasaba assikolang bunge’na wija-wijanna” bukan sekadar nasihat masa lalu yang kehilangan relevansinya. Sebaliknya, petuah tersebut merupakan panduan hidup yang tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Pendidikan perempuan merupakan investasi yang hasilnya tidak hanya dirasakan oleh individu yang menempuh pendidikan, tetapi juga oleh keluarga, masyarakat, dan generasi yang akan datang.
Melihat perjalanan Indri, saya memahami bahwa pappaseng Bugis itu bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan orang tua kepada anak-anaknya. Nasihat tersebut hidup dalam tindakan sehari-hari. Pendidikan yang diperoleh seorang perempuan tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi akan mengalir kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Seperti bunga yang mekar dan memberi keharuman di sekitarnya, perempuan yang berilmu akan menghadirkan manfaat yang jauh melampaui dirinya. Yang mampu menjaga nilai budaya, menghormati adat, menuntut ilmu setinggi mungkin, serta mengabdikan pengetahuannya untuk kemajuan lingkungan sekitarnya. Sosok Indri telah membuktikan bahwa perempuan yang berpendidikan tidak akan menjauh dari akar budayanya, melainkan mampu menjadikan budaya sebagai fondasi untuk melangkah lebih jauh.
Burung camar terbang tinggi ke awan, kembali hinggap di pohon mangga, Indri mencari ilmu sebagai bekal kehidupan, bunga pendidikan yang mekar bagi anak cucu dan keluarga.
Penulis : T. Pramudja, lahir di Kota Pahlawan 54 tahun lalu. Ia adalah pegiat literasi sejak bertugas di Kepulauan Riau, dan di masa pensiun ini tetap aktif menulis untuk menghindari kepikunan dan terus menggali memori nostalgia yang telah dilalui dalam suka maupun duka. Berbagi hal baik untuk berperan membentuk karakter generasi muda menjadi generasi emas.
Editor & Ilustrasi: Hamimie
