Matematika Kebahagiaan

Jane Wilde; kamera membelakangi sofa, duduk Stephen Hawking muda, diperankan Eddie Redmayne, menonton drama dari layar televisi monokrom. Suaminya itu sedang menakar matematika kebahagiaan yang terjadi di film, pelik temali antara John yang berselingkuh dengan Martha, tetapi Martha sepertinya berpasrah hati pada Alan yang ditengarai homoseksual dari tampilan jumpernya.

Saya tidak hendak menggamblangkan ihwal The Theory of Everything (2014), roman biografis fisikawan penggagas teorema singularitas itu. Tidak pula hendak meracau benang kusut cinta dengan intrik keluarga seperti Romeo-Juliet, Layla-Qais, Sampek-Engtay, Tristan-Isolde, Pingkan-Matindas atau yang simbolis seperti Icarus and Sun, Eros dan Psyche.

Ada satu interpretasi atas ayat 39 Ar-Ra’d menyatakan, Dia (Allah) berwenang menghapus apa yang dikehendaki-Nya, dan atau menetapkannya. Dalam kuasa-Nya lah catatan induk kebahagiaan dan kemuraman.

Kebahagiaan lain dari kesenangan, apa yang diterawang Buddha, bahwa akar segala penderitaan adalah kemelekatan (the root of suffering is attachment), dimaksudkan pada kesenangan temporal. Dan memang demikianlah sifat kesenangan itu.

Cara jitu meloloskan diri dari jerat “attachment” salah satunya dengan mengurangi “bagasi” hidup kita. Pola hidup minimalis. Baik dalam tampilan, tutur kata, atau benda-benda yang dipunya. Tak semua hal penting harus direngkuh. Sebagaimana tak semua yang tak penting harus ditinggalkan; dalam hubungan keluarga, kata seorang, resep langgeng justru ditempuh dengan terbiasa mengobrolkan hal-hal tak penting, karena di situlah letak pentingnya.

Kebahagiaan tidak mudah dipelajari dari ramuan buku-buku stoik atau pemegang arus media (influencer) dengan mulut sales yang mengobralkan life-hack macam-macam. Hidup kita praktis tak bisa dibajak. Pola sanubari manusia susah tertebak. Orang menyebutnya mood swing, padahal fitrah penciptaan hati sejak mula memang fluktuatif.

Dari sekian macam manusia, misal sederhana dari potret manusia penulis. Ibaratnya, kepala mereka dapur, bahan-bahan cukup sedia tapi masih perlu dipilah. Selalu ada yang busuk di antara belasan yang segar. Seperti air menggenang, bahan yang dalam waktu lama dibiarkan tak tersentuh tentu lekas bau, bahkan kadaluwarsa.

Proses memasak (baca: menulis) tersusun dari beberapa adegan. Tak cukup hanya keterampilan, mood lebih menentukan. Jadi lapis pertama adalah dorongan. Baru naik ke rencana yang skenarionya mengalir di kepala. Ya, di dalam kepala ada pula kepala lain yang bekerja. Di dalam blok, ada piston ada silinder. Ruang pembakaran beroperasi lebih giat karena kepadanya arus menuju. Dorongan ini naik turun seperti iman; fluktuatif. Jadi, karena hadirnya mood itu tak tentu, ia jadi penentu.

Sekilas simulasi rumitnya batok kepala primata jenius ini. Belum juga berhadapan dengan cabang-cabang kabel pemikiran yang semrawur, alam nyata dan alam maya (fiksi) melebur, dinding realitas luar realitas dalam batin lenyap, atau dalam bahasa Rendra; langit di luar langit di badan, menyatu dalam jiwa.

Tidak perlu tengadah jauh ke horison Barat dalam mensiasati siklus hati dengan menyelami alam pikir Stoa dari masa Zeno, Seneca, Epictetus, hingga Kaisar Marcus Aurelius. Mari dekatkan pandang pada filsuf lokal kita, Ki Ageng Suryomentaram yang dengan legawa berikrar “saiki, ing kene, ngene, aku gelem”. Yang kira-kira bermakna: sekarang, di sini, apapun yang terjadi saya (mau) tulus menerima.

Sekian.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya