Ketika Keangkuhan Intelektual Menggantikan Agensi Berpikir dalam Wacana Gender Populer

Apa yang membuat seseorang begitu yakin bahwa ia memahami perempuan? Pengalaman? Percakapan? Atau sekadar satu video yang dibuka dengan kalimat “menurut sains”?

Barangkali ini bukan fenomena baru. Perempuan telah lama dijelaskan oleh berbagai bahasa: agama, adat, filsafat, hingga sains. Yang berubah hanyalah cara penjelasan itu beredar. Hari ini, psikologi, biologi, neurosains, atau evolutionary psychology menjadi bahasa yang paling sering dipanggil untuk menjelaskan siapa perempuan dan bagaimana mereka seharusnya dipahami. Tidak sedikit yang mengutip penelitian untuk menjelaskan mengapa perempuan memilih pasangan tertentu, lebih emosional, lebih manipulatif, atau lebih tertarik pada laki-laki kaya. Yang mengejutkan, penjelasan itu tidak hanya diterima oleh laki-laki. Banyak perempuan ikut mengangguk, menulis, “Ih, ternyata kita memang begitu ya.” Seolah satu penelitian telah cukup untuk menjelaskan pengalaman mereka sendiri.

Barangkali kau juga pernah melakukannya. Menonton satu video, membaca satu ringkasan penelitian, lalu merasa akhirnya memahami perempuan. Atau mungkin tanpa sadar mengangguk ketika seseorang berkata, “Memang secara biologis begitu”, “Menurut psikologi…”, atau “Neurosains membuktikan…”.

Kalimat-kalimat itu terdengar begitu meyakinkan hingga kita jarang berhenti untuk bertanya apa yang sebenarnya sedang dilakukan bahasa tersebut terhadap cara kita membaca perempuan. Apakah ia benar-benar membantu kita memahami manusia, atau justru mengajarkan kita mengategorikan, memprediksi, bahkan berbicara atas nama mereka? Bukankah berpikir kritis seharusnya tidak berhenti pada memeriksa benar atau salahnya suatu klaim, tetapi juga mempertanyakan pengalaman siapa yang tersisih, siapa yang memperoleh otoritas untuk berbicara, dan relasi kuasa apa yang sedang dibentuk oleh bahasa itu? Benarkah sesederhana itu memahami manusia—atau, dalam konteks tulisan ini, perempuan?

Aku kemudian mengumpulkan empat belas potongan wacana yang berasal dari empat ruang berbeda: jurnal akademik, media massa, konten pop-sains, dan komentar media sosial. Yang ingin kulihat sebenarnya sederhana: apa yang terjadi ketika sebuah temuan ilmiah keluar dari ruang penelitian dan mulai beredar sebagai pengetahuan populer? Polanya ternyata cukup konsisten. Setiap perpindahan memangkas sedikit demi sedikit kehati-hatian ilmiah hingga, di ujung rantai, yang tersisa bukan lagi ajakan untuk berpikir, melainkan keyakinan bahwa perempuan telah selesai dipahami.

Yang berubah ternyata bukan hanya cara penyampaiannya, tetapi juga fungsi sosial pengetahuan itu sendiri. Penelitian yang semula berusaha menjelaskan kecenderungan manusia perlahan berubah menjadi alat untuk mengategorikan, memprediksi, bahkan mengendalikan perempuan. Judul seperti “Apakah Benar Wanita Lebih Tertarik dengan Pria Kaya?” dengan mudah melahirkan stereotip bahwa perempuan bersifat materialistis. Sementara konten seperti “7 Kelemahan Wanita yang Harus Diketahui Setiap Pria” tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan mengandaikan bahwa perempuan memiliki kelemahan universal yang dapat dipelajari demi memperoleh keuntungan dalam relasi. Bahkan konten neurosains yang diklaim bertujuan memperbaiki hubungan rumah tangga sering kali tetap membebankan kerja memahami kepada perempuan: perempuan diminta mempelajari “otak laki-laki” agar mampu menyesuaikan diri dengan suami, bukan sebaliknya.

Di media sosial, klaim seperti “secara biologi laki-laki memang tidak didesain untuk monogami” atau “…secara biologi cewek umur 30 tahun ke atas sel telurnya menurun drastis, secara evolutionary psychology cowo lebih tertarik terhadap female fertility” berubah menjadi kalimat penutup yang membungkam percakapan. Alih-alih mengundang pertanyaan baru, label “menurut sains” justru memberikan legitimasi untuk berhenti mendengarkan pengalaman perempuan dan mulai menjelaskan mereka melalui stereotip yang terdengar objektif.

Yang kutemukan justru menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada penyederhanaan temuan ilmiah. Bersamaan dengan hilangnya konteks, berubah pula cara perempuan diposisikan dalam percakapan. Mereka tidak lagi hadir sebagai individu dengan pengalaman yang beragam, melainkan sebagai kelompok yang dianggap memiliki pola pikir, kelemahan, dan perilaku yang dapat dipetakan melalui daftar-daftar sederhana. Dari sana, pengetahuan mulai bergeser fungsinya. Ia tidak lagi membantu kita memahami manusia, tetapi menawarkan cara untuk memprediksi, menghadapi, bahkan mengendalikan perempuan.

Agaknya, itu terdengar angkuh bagiku; merasa sudah tahu sebelum benar-benar mendengarkan perempuan yang sedang dijelaskan oleh bahasa itu.

Pola-pola tersebut menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada penyederhanaan temuan ilmiah, melainkan pada cara bahasa membentuk posisi perempuan dalam wacana. Judul seperti “7 Kelemahan Wanita yang Harus Diketahui Setiap Pria” atau “Fakta Psikologi Wanita” bekerja sebagai genre yang mengategorikan perempuan ke dalam tipe-tipe yang tampak tetap dan dapat dipetakan. Bersamaan dengan itu, label “menurut sains” mengodekan penjelasan tersebut sebagai pengetahuan yang lebih objektif dan lebih layak dipercaya daripada pengalaman perempuan sendiri.

Ketika bahasa ilmiah dikemas menjadi daftar, tipe, atau “peta otak”, ia tidak lagi sekadar menjelaskan kecenderungan manusia, tetapi menghasilkan ilusi bahwa perempuan dapat dipahami melalui seperangkat kategori biologis maupun psikologis yang bersifat tetap. Dengan demikian, bahasa tidak sekadar merepresentasikan realitas, melainkan turut membentuk hierarki pengetahuan yang menempatkan perempuan sebagai objek yang diklasifikasi, sementara pengalaman hidup mereka perlahan kehilangan otoritas epistemiknya (Cope & Kalantzis, 1993; Morgan, 1996; Rippon, 2019).

Cara kerja bahasa semacam ini tidak hanya mengubah cara perempuan dipahami, tetapi juga mengubah cara pembaca membangun pengetahuan. Daftar “fakta”, “kelemahan”, atau “cara menghadapi perempuan” menawarkan seperangkat aturan yang membuat keragaman pengalaman manusia terasa dapat diprediksi melalui beberapa kategori sederhana. Lambat laun, pembaca tidak lagi terdorong untuk mempertanyakan, berdialog, atau memahami pengalaman perempuan secara langsung karena penjelasan dianggap telah tersedia.

Dalam kondisi semacam ini, pengetahuan bergeser dari sarana memahami menjadi manual untuk memprediksi dan mengendalikan. Pergeseran tersebut selaras dengan kritik Belenky dkk. (1997) terhadap received knowledge, ketika pengetahuan diperlakukan sebagai otoritas yang cukup diterima tanpa perlu dibangun kembali melalui refleksi. Pada saat yang sama, temuan Rippon (2019) mengenai otak yang bersifat prediktif membantu menjelaskan mengapa daftar, pola, dan “aturan” semacam itu terasa begitu meyakinkan: ia menyediakan jalan pintas kognitif yang mengurangi ketidakpastian, tetapi sekaligus mengurangi kebutuhan untuk benar-benar mengenali manusia sebagai individu.

Kalimat, “ih, ternyata kita memang begitu ya,” mungkin terdengar sepele. Bagiku, ia justru memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: seseorang mulai lebih percaya pada ringkasan tentang dirinya daripada pengalaman yang telah ia jalani sendiri. Penelitian tidak lagi menjadi teman berdialog dengan pengalaman, melainkan hakim yang menentukan apakah pengalaman itu layak dipercaya atau tidak.

Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah cara masyarakat memahami perempuan, tetapi juga mengubah siapa yang dianggap berhak menjelaskan perempuan. Ketika satu penjelasan ilmiah diperlakukan sebagai rujukan utama, pengalaman hidup perlahan kehilangan daya tawarnya sebagai sumber pengetahuan. Perempuan tetap dapat berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi kesaksiannya semakin sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dibuktikan, dilengkapi, atau bahkan dikoreksi oleh penelitian.

Dalam kondisi semacam ini, pengalaman personal tidak lagi diposisikan sebagai cara mengetahui yang sah, melainkan sekadar ilustrasi yang bernilai sejauh sesuai dengan temuan ilmiah. Kritik McDonald (2019), Davidson (2019), dan Fricker (2007) membantu menjelaskan mengapa hierarki tersebut merupakan bentuk ketidakadilan epistemik: saintifikasi memberi kredibilitas yang berlebih pada data empiris sekaligus mengurangi kepercayaan terhadap kesaksian perempuan, sehingga mereka perlahan kehilangan otoritas sebagai penafsir atas pengalaman hidupnya sendiri.

Persoalan tersebut pada akhirnya tidak berhenti di media sosial, tetapi juga menyentuh cara kita membayangkan pendidikan. Jika pembelajaran hanya melatih peserta didik mencari jawaban yang paling otoritatif, mereka akan tumbuh menjadi pembaca yang piawai mengutip, tetapi enggan mempertanyakan bagaimana pengetahuan dibangun dan kepada siapa pengetahuan itu memberi otoritas.

Pendidikan kehilangan fungsinya sebagai ruang penyelidikan ketika pengalaman hidup dipisahkan dari proses berpikir, seolah-olah pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui suara yang telah lebih dulu dianggap sah. Sebaliknya, pendidikan yang berpijak pada epistemic care (mengakui pengalaman pembelajar sebagai sumber pengetahuan) memulihkan pengalaman sebagai bagian dari pencarian pengetahuan bersama, mengajak peserta didik tetap tinggal bersama kerumitan alih-alih tergesa-gesa mencari kepastian, serta menjadikan pengalaman hidup sebagai titik berangkat untuk membaca dunia secara kritis.

Dengan demikian, literasi kritis tidak berhenti pada kemampuan memverifikasi informasi, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk terus bertanya, mendengarkan, dan mengakui bahwa tidak ada satu pun penjelasan yang sanggup merangkum seluruh pengalaman manusia (Johnson, 2019; Ayim, 1996; Janks et al., 2026; Skerrett & Smagorinsky, 2022).

Sains membantu kita memahami dunia, tetapi ia tidak pernah berhak merampas otoritasmu untuk menjelaskan hidupmu sendiri.

Menurut sains…”

Betapa sering frasa itu dijadikan pembuka untuk menjelaskan perempuan, seolah satu-dua penelitian mampu merangkum pengalaman yang dibangun sepanjang hidup. Jangan buru-buru kau buang kisahmu. Sebab pada akhirnya, tak seorang pun lebih mengenal pengalamanmu selain dirimu.

Referensi

Ayim, M. (1996). Political correctness: The debate continues. Dalam The gender question in education: Theory, pedagogy, and politics (pp. 199–214). Westview Press.

Belenky, M. F., Clinchy, B. M., Goldberger, N. R., & Tarule, J. M. (1997). Women’s Ways of Knowing: The Development of Self, Voice, and Mind 10th Anniversary Edition. Basic Books.

Cope, B., & Kalantzis, M. (1993). The powers of literacy: A Genre Approach to Teaching Writing.

Davidson, L. J. (2019). When testimony isn’t enough: implicit bias research as epistemic exclusion. Dalam B. R. Sherman & S. Goguen (Eds.), Overcoming epistemic injustice: Social and psychological perspectives (pp. 269–284). Rowman & Littlefield International, Ltd.

Fricker, M. (2007). Epistemic injustice: Power and the Ethics of Knowing. Clarendon Press.

Janks, H., Comber, B., & Vasquez, V. (2026). Challenges to critical literacies in troubled times. In Edward Elgar Publishing eBooks (pp. 4–16). https://doi.org/10.4337/9781035341504.00008

Johnson, C. R. (2019). Teaching as epistemic care. Dalam B. R. Sherman & S. Goguen (Eds.), Overcoming epistemic injustice: Social and psychological perspectives (pp. 255–268). Rowman & Littlefield International, Ltd.

McDonald, M. (2019). Returning to the ‘There Is’: PTSD, Phenomenology, and Systems of Knowing. Dalam B. R. Sherman & S. Goguen (Eds.), Overcoming epistemic injustice: Social and psychological perspectives (pp. 269–284). Rowman & Littlefield International, Ltd.

Morgan, K. P. (1996). Describing the Emperor’s new clothes: Three myths of Educational (in-)equity. Dalam The gender question in education: Theory, pedagogy, and politics (pp. 105–122). Westview Press.

Rippon, G. (2019). The gendered brain: The new neuroscience that shatters the myth of the female brain. Random House.

Skerrett, A., & Smagorinsky, P. (2022). Teaching literacy in troubled times: Identity, Inquiry, and Social Action at the Heart of Instruction. Corwin Publishers.

Penulis: Larissa Ramadhan Fausta Salma ialah mahasiswi yang sedang menempuh studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia. Ketertarikannya pada isu kesetaraan gender dan pendidikan yang peka terhadap keberagaman ia eksplorasi melalui riset, esai, dan tulisan reflektif, sembari bekerja sebagai ilustrator lepas. Karya dan ilustrasinya dapat dilihat di Instagram @rmdhn_larissa

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya