Orang-orang bilang “Traveling itu membuka wawasan”. Saya pikir maksudnya membuka wawasan soal budaya dan tempat wisata, tapi ternyata juga membuka dompet, koper, dan hati.
Gambaran itu saya dapat setelah mendengarkan curhatan seorang teman, sebut saja Vero, tentang pengalamannya mengikuti group traveling ke Singapura dan Malaysia. Perjalanan ini mengusung tema educational trip dan Vero mendapatkan beasiswa dari penyelenggara yang meng-cover sebagian besar biaya perjalanan. Semua juga sudah diatur sedemikian rupa—mulai dari itinerary, konsumsi, akomodasi, hingga tour guide. Benefit yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa, seperti Vero.
Meski begitu, benefit yang ada tidak menjamin perjalanan menjadi mulus. Nyatanya, masalah tetap ada. Beberapa kesalahan yang Vero lakukan juga membuat perjalanan menjadi lebih menarik, walaupun sedikit memalukan. Berikut hal-hal yang saya petik dari pengalaman Vero.
Barang Esensial Jangan Ditinggal
Vero sendiri memiliki pekerjaan freelance yang tidak bisa ditinggalkan. Meski begitu, ia sempat berpikir untuk meninggalkan laptop karena tidak ingin menambah beban bagasi. Masih bisa bekerja dengan handphone, katanya. Tapi untungnya, Vero mengurungkan niat tersebut, karena ternyata pekerjaannya hari itu tidak bisa dikerjakan hanya dengan handphone.
Belum sempat saya mengomel, Vero sudah keburu menceritakan peserta lain yang situasinya lebih kacau. Si peserta ini memiliki jadwal presentasi online selama perjalanan, bukan jadwal dadakan, dan si peserta tidak lupa dengan jadwalnya. Tapi, entah kenapa ia tidak membawa laptop, earphone, bahkan handphone-nya mati sejak tiba di Singapura. Akibatnya, si peserta harus meminjam berbagai perangkat dari peserta lain agar tetap bisa mengikuti presentasi.
“Pinjam barang pas traveling itu ide buruk. Mending ketambahan beban bagasi daripada menyusahkan diri sendiri dan orang lain.” ungkap Vero.
Baca juga: 7 Destinasi Tempat Kota Tua Surabaya dalam Sejarah Indonesia
Koper Kecil Tidak Menjamin Bobotnya Ringan

Vero tidak membawa banyak barang, semuanya muat dalam satu koper kabin ukuran standar dan satu tas laptop. Makanya, ia yakin semuanya akan aman.
Tapi setelah koper ditimbang di bandara, ternyata bobotnya melewati batas maksimum bagasi kabin. Ia sempat panik karena tidak bisa memesan bagasi tambahan akibat keterbatasan budget. Untungnya, petugas bandara memberikan solusi.
“Disuruh pakai sisa kapasitas bagasi punya salah satu peserta rombongan, jadi koperku masuk bagasi atas nama dia. Sebenernya aku nggak enak, tapi mau gimana lagi.”
Dari sini, akhirnya saya mengerti mengapa para traveler selalu menyiapkan dan menimbang barang bawaan jauh sebelum keberangkatan. Jika beban melebihi batas, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan: Kurangi barang bawaan atau pesan bagasi tambahan.
Tapi, sepertinya lebih baik mengeluarkan uang ekstra sejak awal daripada harus repot membongkar koper–dan menahan rasa malu–di bandara. Toh biaya bagasi tambahan juga lebih murah jika dipesan lebih awal.
Baca juga: 7 Restoran Ramah Muslim di Korea Selatan, Turis Wajib Tahu!
Uang Bisa Cepat Habis Meski Semua Sudah Diatur
Pihak penyelenggara sudah meng-cover sebagian besar kebutuhan. Jadi seharusnya, dengan uang saku tambahan yang Vero bawa, semuanya akan aman terkendali. Tapi, di hari kedua, ia mulai panik saat menyadari uang sakunya mulai menipis.
“Sebenernya salahku, sih. Iya-iya aja setiap ditawari temen buat belanja oleh-oleh sama souvenir kembaran.” kata Vero dengan penuh sesal.
Benar, rasa tidak enakan bisa jadi jebakan dalam perjalanan seperti ini. Vero pikir uang-nya tidak akan habis terlalu banyak karena souvenir yang dibeli hanya benda-benda kecil nan murah, seperti gantungan kunci dan magnet kulkas. Jadi, ia menyanggupinya tanpa berpikir.
Sayangnya, keputusan tersebut perlahan menggerogoti anggaran. Syukurlah, Vero segera sadar dan masih bisa menyisihkan uang untuk membeli tiket pulang ke daerah—yang tidak di-cover oleh penyelenggara.
Teman Perjalanan Adalah Ujian
Dari sekian hikmah yang saya dapat, ada satu yang paling melekat, yaitu persiapan mental itu wajib karena selalu ada karakter manusia yang tidak terduga.
Dalam perjalanan ini, mayoritas peserta lebih muda dari Vero. Ia kira para peserta muda ini akan menyebarkan semangat jiwa muda dan energi positif. Tapi ternyata, tidak juga.

Selama perjalanan berlangsung, Vero ‘ketempelan’ seorang peserta muda yang tingkahnya cukup menguji kesabaran. Awalnya, Vero berusaha berpikir positif, mungkin rasa jengkel ini muncul karena mood-nya sedang tidak stabil.
Tapi ternyata, baru beberapa jam mendarat di Singapura, peserta muda ini sudah banyak tingkah. Ia membuat janji temu dadakan dengan kerabat tanpa mempertimbangkan itinerary, terlambat bangun pagi hingga harus dibangunkan oleh tour guide, bahkan merengek karena kebingungan dengan barang bawaannya sendiri. Jelas saja ia langsung menjadi “pusat perhatian” karena tingkahnya mempengaruhi jadwal dan situasi perjalanan.
Puncaknya terjadi di bandara. Peserta muda tersebut menawarkan sharing bagasi kepada banyak peserta rombongan tanpa perhitungan yang matang. Akibatnya, salah satu peserta yang awalnya sudah dia tawari harus didepak dari daftar sharing bagasi karena kapasitas sudah penuh. Dan, ya, Vero-lah orangnya.
“Padahal aku yang pertama diajak sharing bagasi, namaku juga yang masuk list-nya tour guide. Tapi ya gitulah, ngajak orang lain nggak bilang-bilang, eh malah aku yang hilang dari daftar.” Vero bercerita dengan tawa satir.
Situasi tersebut membuat peserta lain ikut kesal, terlebih karena si peserta muda tidak bertanggung jawab. Ironisnya, Vero harus mencari solusi sendiri, beruntung ia akhirnya mendapat bantuan dari peserta lain.
Kesimpulan
Traveling bukan hanya soal destinasi, tetapi juga adaptasi. Terlebih ketika group traveling, nyatanya memang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi mereka yang lebih muda atau kurang terorganisir.
Meski begitu, saya yakin para peserta—termasuk teman yang merepotkan dan menjengkelkan tadi—sedang dalam proses belajar. Status mereka masih pelajar, jadi saya rasa cukup wajar jika mereka sedikit bertingkah karena belum banyak pengalaman di luar kelas. Mungkin, di perjalanan berikutnya, teman tersebut akan lebih siap dan bertanggung jawab.Perjalanan pertama Vero memang penuh tantangan, tetapi justru itulah yang membuatnya berkesan. Bagi Vero, group traveling ini membuatnya lebih memahami diri sendiri, lebih peka terhadap dinamika rombongan, dan… belajar packing dengan lebih baik.
