“Perempuan Minangkabau dijuluki sebagai limpapeh rumah nan gadang. Tapi, ketika kepergian ayahku, aku memahami bahwa tiang rumah yang paling kokoh pun bisa merasakan lelah.”
Aku lahir sebagai perempuan Minangkabau. Sejak kecil, telingaku akrab dengan petuah – petuah yang membahas tentang Bundo Kanduang. Dalam budaya Minangkabau, perempuan dihormati sebagai penjaga garis keturunan, pemilik harta pusaka, sekaligus penjaga nilai dan kehormatan keluarga, Gelar itu terdengar begitu mulia dan agung. Sebagai anak, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa perempuan memang memiliki tempat yang istimewa. Namun, kehidupanku mengajarkan bahwa di balik penghormatan itu, ada tanggung jawab yang sering kali jauh lebih berat daripada yang terlihat.
Semua itu berubah Ketika ayahku jatuh sakit. Perlahan, laki – laki yang selama ini menjadi tempat kami bersandar mulai kehilangan kekuatannya. Rumah yang dulu dipenuhi senyum tawa hangat itu berubah menjadi ruang doa, harapan, dan kecemasan. Hingga akhirnya, hari yang paling kami takutkan dating. Ayah meninggalkan kami untuk selamanya.
Sejak saat itu, aku melihat ibuku menjalani kehidupan yang berbeda. Beliau tidak hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi juga harus mengambil alih berbagai tanggung jawab yang sebelumnya dipikul bersama. Mengurus usaha keluarga, mengatur keuangan, memastikan anak – anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan, sekaligus menghadapi kesedihan yang bahkan mungkin belum sempat benar – benar dirasakan.
Di hadapan anak – anaknya, ibu selalu berusaha tampak kuat. Tetapi, sebagai anak, aku tahu bahwa senyum itu sering kali lahir di tengah rasa lelah yang disembunyikannya. Saat merantau untuk kuliah, pikiranku sering tertinggal dirumah. Aku selalu bertanya – tanya, apakah ibuku sudah makan? Apakah ibu sudah istirahat? Apakah ibu sedang menangis ketika tidak ada orang yang melihatnya?
Pengalaman itu membuatku paham bahwa perempuan sering kali tidak hanya memikul beban fisik, tetapi juga beban emosional yang jarang dibicarakan.
Selama ini, aku mengira penghormatan kepada perempuan cukup diwujudkan melalui gelar – gelar yang indah. Tetapi, kini aku sudah mengerti bahwa penghormatan yang sesungguhnya adalah menghadirkan dukungan ketika mereka sedang rapuh.
Sebagai masyarakat Minangkabau, kami mengenal sistem kekerabatan matrilineal yang menempatkan perempuan pada posisi yang penting dalam keluarga dan adat. Akan tetapi, berbagai kajian menunjukkan bahwa penghormatan secara simbolik tidak selalu berarti perempuan terbebas dari ketimpangan dalam kehidupan sehari – hari. Perempuan masih menghadapi beban ganda, yakni menjalankan peran domestik sekaligus berkontribusi dalam ruang publik.
Aku melihat kenyataan itu dirumahku sendiri.
Ibuku tidak pernah meminta dipuji karena ketangguhannya. Beliau hanya berusaha memastikan kehidupan anak – anaknya tetap berjalan. Aku membantu semampuku, mulai dari mengurus berbagai keperluan keluarga hingga menerima pekerjaan design dan percetakan untuk menambah pemasukan. Di tengah kuliah dengan berbagai kegiatan, aku belajar bahwa bertahan bukan berarti harus memikul semuanya sendirian.
Dari pengalaman itu, aku mulai mempertanyakan sesuatu. Mengapa perempuan yang mampu menjalankan banyak peran sering kali dianggap “biasa saja”? Mengapa ketika mereka kuat, masyarakat menganggap mereka memang sudah seharusnya demikian? Bukankah menjadi kuat adalah pilihan yang sering kali lahir karena keadaan, bukan karena perempuan tidak pernah merasa lelah?
Di sinilah aku mulai paham apa itu makna kesetaraan gender. Kesetaraan bukan berarti perempuan harus menggantikan peran laki – laki. Kesetaraan juga bukan perlombaan tentang siapa yang lebih kuat. Kesetaraan berarti laki – laki dan perempuan sama – sama memiliki kesempatan, dihargai, didengar, dan saling menopang ketika menghadapi tantangan kehidupan. Gender sendiri merupakan konstruksi sosial mengenai peran laki – laki dan perempuan, sehingga pembagian tanggung jawab dapat dibangun secara lebih adil tanpa membatasi potensi salah satu pihak.
Aku juga semakin paham bahwa konsep Bundo Kanduang tidak seharusnya berhenti sebagai simbol budaya. Dalam berbagai kajian terbaru, Bundo Kanduang tidak seharusnya berhenti sebagai simbol budaya. Dalam berbagai kajian terbaru, Bundo Kanduang dipandang sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam menjaga nilai adat sekaligus mendorong terwujudnya kesetaraan gender melalui partisipasi aktif perempuan di berbagai bidang kehidupan. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan di Sumatera Barat masih menghadapi berbagai bentuk ketimpangan dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan partisipasi publik. Artinya, budaya yang menghormati perempuan perlu terus dihidupkan melalui tindakan nyata.
Bagiku, menghormati perempuan bukan hanya sekadar menyebut mereka Bundo Kanduang. Menghormati perempuan berarti memastikan mereka tidak memikul seluruh beban seorang diri. Memberi ruang bagi mereka untuk beristirahat. Mendengar ketika mereka ingin bercerita. Menghargai keputusan yang mereka ambil. Dan menyadari bahwa perempuan, sekuat apa pun mereka terlihat, tetaplah manusia yang berhak merasa sedih, takut, dan lelah.
Hari ini, setiap kali aku pulang ke rumah dan melihat ibuku tersenyum, aku tidak lagi hanya melihat sosok perempuan yang tangguh dan kuat. Aku melihat seorang ibu yang memilih terus berdiri demi keluarganya, meskipun hidup pernah merenggus pasangan yang paling dicintainya.
Dari ibuku, aku belajar bahwa kekuatan perempuan bukanlah alasan untuk membebankan segalanya kepada mereka. Justru karena perempuan begitu berharga, mereka layak mendapatkan ruang untuk didengar, didampingi, dan diperlakukan setara.
Ketika ayah pergi, aku memang melihat perempuan menjadi penyangga kehidupan. Namun, yang lebih penting, aku belajar bahwa bahkan penyangga kehidupan pun membutuhkan tempat untuk bersandar.
Referensi:
- Rahayu, W.K., & Bariklana, M. N. (2026). Bundo Kanduang dan Kebijakan Inklusif: Sinergi Pemerintah Daerah dan Tokoh Adat Perempuan dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender. Jurnal Sosial dan Teknologi, 6(5), 1829-1839.
- Valentina, T. R., & Putera, R. E. (2008). Posisi Perempuan Etnis Minangkabau dalam Dunia Patriarki di Sumatera Barat dalam Perspektif Agama, Keluarga, dan Budaya. Jurnal Demokrasi, 7(1).
- Efendy, R. (2014). Kesetaraan Gender dalam Pendidikan. Jurnal Al-Maiyyah, 7(2).
- Badan Pusat Statistik. (2025). Indeks Ketimpangan Gender (IKG) 2025.
Penulis: Frisya Zahra adalah mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Padang yang menekuni kepenulisan dan desain kreatif. Ketertarikannya pada budaya Minangkabau, isu perempuan, serta keadilan sosial mendorongnya menghadirkan gagasan yang reflektif melalui tulisan maupun karya visual. Instagram: @frisyasyzr @craftbyfrisya. Wattpad: @nonacecan21.
Editor: Hamimie
