Kemurnian Wanita

Obsesi aneh akan kesempurnaan membuatku bertanya, apa yang disebut sempurna? Indikator dari kesempurnaan juga abstrak. Apa maksudmu tergantung nilai yang disepakati? Nilai seperti apa yang layak menilai. Setiap ujung dunia memiliki sisi yang berbeda dan disetiap ujungnya aku menemukan kesamaan. Sesosok manusia yang entah mengapa memiliki rantai di pergelangan kakinya yang mengikat, ikut menjadi bagian dirinya yang dipaksakan.

Semua kulit terdiri dari lapisan epidermis, pigmen yang berbeda hanya mempengaruhi warna dan kekuatannya. Perbedaan yang tidak merusak nilai sebagai manusia. Namun, entah mengapa hal tersebut dibuat bagai penentuan kelayakkkan kehidupan. Hanya karena cahaya memantulkan warna putih pada pupil mata, dunia mengartikan kemurniaan darinya. Merah dan biru sebagai warna dasar tidak memiliki arti lebih darinya, tidak murni, terlalu mencolok, keindahan tidak terlihat darinya. Lalu, mengapa kita melukis di kanvas putih? Kenapa terobsesi memercikkan warna lain pada kemurniaan itu?

Bawang merah dan bawang putih contohnya. Cerita klise yang menggambarkan dua wanita yang memiliki dua sifat berbeda. Dua sifat yang sama-sama dimiliki manusia, Si merah yang licik dan egois sedangkan Si putih yang baik dan lembut. Si merah yang dibenci dan Si putih yang disayangi, kisah yang membangun citra akan membebani seorang perempuan. Kelembutan dan kasih ialah perempuan, amarah dan ketegasan bukanlah perempuan. Perempuan yang tidak memiliki nilai-nilai Si putih, bukanlah perempuan yang layak.

Kemudian, setiap kelahiran makhluk kesuciaan menyertainya, bagai pemberian yang diturunkan langsung dari tangan Tuhan ke dunia. Namun, entah mengapa ada saja keinginan untuk lebih memurnikannya. Bayi yang bahkan tidak mengerti arti dari kemurnian dipaksa untuk dimurnikan, ada bagian dari dirinya yang kotor dan layak untuk dihilangkan. Bagian dari tubuhnya yang berkembang bersamanya di dalam ari-ari, entah bagaimana harus dihilangkan. Silet yang menggores tidak terhenti oleh tangisnya, pengalaman khitan bayi perempuan pertama kali ku alami saat mengumpulkan data tentang khitan perempuan.

Bayi-bayi itu tidak memahami maksud rasa perih yang mereka tanggung, mereka tidak bisa menolak dan bahkan mereka tidak mengerti. Setelah mewawancarai seorang dukun anak tentang khitan pada bayi perempuan, jawabannya terasa tidak benar dipikiranku. “saya tidak mau sunat anak bayi, sebab bisa saja tumbuh lagi” jadi bukan tangis bayi yang menghentikan jemarinya mengiris daging yang mereka sebut kotoran. Pikiran akan kembalinya bagian yang hilang itu yang mereka khawatirkan, tetesan darah bukan perkara serius pada bayi perempuan. Toh, kelak mereka akan berdarah setiap bulannya.

Meski begitu, aku tetap ingin memilih warna apa yang akan ku lukiskan pada kavasku, apakah merah atau biru atau ungu atau hitam sekalipun semua atas pilihanku. Aku bisa saja menjadi Si merah dan besoknya menjadi Si putih, apa masalahnya? Aku ingin anak perempuan bisa memilih terlebih saat mereka yang akan menanggung sakit dan konsekuesinya. Tidak ada yang lebih berhak melainkan dirinya sendiri, tubuhnya ataupun pilihannya.

BIONARASI: 

Hi, saya Nurhidayah. Lulusan dari Universitas Sultan Syarif Kasim Riau, dari bangku perkuliahan inilah saya mulai menyadari terkait isu-isu gender yang dulu saat saya berusia 10 tahun pertanyaan. Kenapa dapur menjadi tempat para perempuan dan ruang tengah menjadi tempat jamuan para pria. Sederhana namun membuat saya tidak menyukai peran perempuan. Namun, ternyata itu hanyalah kontrsuksi yang bisa kita pilih. Terserah gender mu apa, fakta bahwa kita bisa memilih itu yang membuatku lanjut menulis jurnal-jurnalku.

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya