Mengenal Teater Broadway John Proctor is the Villain: Adaptasi Kritis dari The Crucible
John Proctor is the Villain.

Teater Broadway saat ini semakin menjadi pusat perhatian. Hal ini berkat para pecinta seni pertunjukan panggung yang tinggi minat atas penampilan Sadie Sink, pemeran Max Mayfield dalam Stranger Things. Sadie Sink mendapat kesempatan besar untuk berperan sebagai Shelby Holcomb pada John Proctor is the Villain, yang menjadi peran Broadway untuk ketiga kalinya.

Kini John Proctor is the Villain menjadi salah satu dari sekian pertunjukan Broadway yang meraih nominasi bergengsi Tony Awards terbanyak. Meningkatnya minat pemirsa, maka periode pertunjukan telah diperpanjang hingga Agustus 2025 mendatang. 

Tentang John Proctor is the Villain

Mengambil alur tahun 2018, John Proctor is the Villain dirancang oleh Kimberly Belflower. Menceritakan SMA Helen County High di sebuah desa di Georgia, Amerika Serikat yang mengeksplorasi karya sastra yang sangat penting, The Crucible oleh Arthur Miller di kala kegiatan belajar-mengajar Bahasa Inggris. Para murid kelas sebelas yang terdiri dari Beth, Nell, Ivy, Mason, Raelynn, dan Lee diberikan tugas oleh Mr. Carter Smith (diperankan Gabriel Ebert) selaku guru Bahasa Inggris untuk memainkan drama The Crucible

The Crucible secara garis besar, diciptakan oleh Arthur Miller pada 1953, bercerita mengenai peristiwa “nyata” perburuan penyihir Salem di Provinsi Teluk Massachusetts dari tahun 1692 sampai 1693. John Proctor berperan sebagai tokoh utama, petani beristri yang berselingkuh dengan pelayan mudanya, Abigail Williams yang berusia tujuh belas tahun. Di masa tersebut, puluhan orang dituduh sebagai penyihir bahkan beberapa dari mereka dieksekusi. 

Miller merancang The Crucible atas kritik terhadap McCarthyism, ketika pemerintah Amerika Serikat menganiaya orang-orang yang dituduh sebagai pengaruh komunis dan Soviet di era 1950-an tanpa adanya bukti konkrit. Perburuan penyihir di Salem dijadikan “alegori” (perumpamaan) atas gambaran bahaya dari histeria massa dan fitnah politik. 

Masing-masing penokohan dalam John Proctor is the Villain memiliki karakter khasnya sendiri. Beth (diperankan oleh Fina Strazza) yang merupakan siswi berprestasi dan perfeksionis. Nell (Morgan Scott), siswi pindahan baru dari Atlanta. Ivy Watkins (Maggie Kuntz), gadis yang kaya-raya. Raelynn (Amalia Yoo), putri dari pendeta yang pendiam. Lalu Lee (Hagan Oliveras) sebagai pacar Raelynn. 

Seiring dengan proyek tugas The Crucible, murid-murid perempuan terdorong membentuk sebuah klub feminis sekolah. Di kala puncak gerakan #MeToo (kampanye untuk melawan segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual melalui sosial media) dengan Mr. Smith sebagai pihak sponsornya selama semester musim semi. Mr. Smith tersandung konfrontasi panas dengan Ms. Bailey Gallagher (Molly Griggs) selaku pembimbing konselor dalam memberikan proposal klub feminis ini. Akhirnya diberlakukan kesepakatan apabila Mr. Smith mendaftar sebagai faculty advisor, maka proposal tersebut bisa diterima. 

Para siswi menyetujui dengan antusias mengenai permintaan dari Ms. Gallagher. Bahkan siswa junior seperti Mason (Nihar Duvvuri) yang berwatak canggung dan gagal dalam kelas Bahasa Inggris diterima dengan tangan terbuka untuk bergabung dalam proyek The Crucible sebagai nilai tambahan. 

Konflik dimulai ketika Shelby Holcomb (diperankan oleh Sadie Sink), siswi yang lama absen selama tiga bulan kembali ke sekolah. Shelby terpaksa absen sekolah karena hubungan persahabatan antara dirinya dengan Raelynn hancur setelah Shelby berhubungan seks dengan Lee. Ketika Shelby kembali menapakkan kakinya di sekolah, Raelynn merasa belum bisa memaafkan mantan sahabatnya itu. 

Ivy Watkins juga menghadapi tekanan saat ayahnya dituduh melakukan pelecehan seksual oleh seorang karyawannya. Kasus ini begitu mencengkam dan memecah belah wilayah Georgia, termasuk para anggota klub feminis. 

Di dalam kasus-kasus tersebut menjadi adanya keterbukaan peluang dalam diskusi kelas yang intens. Mereka mulai bertanya-tanya tentang tindakan John Proctor yang dikatakan sebagai figur heroik. Bukankah John Proctor justru “menghancurkan” kehidupan sang istri, Elizabeth Proctor, serta Abigail Williams? 

Tak hanya itu, gadis-gadis juga membahas selayaknya anak-anak muda seperti gosip, kultur pop, Twilight, dan Taylor Swift. Pada akhirnya, John Proctor is the Villain membawa sebagian besar perihal karakter-karakter tersembunyi seperti ketakutan, keinginan, kecemasan, rasa sakit, dan kesedihan mereka masing-masing. 

Tata panggung John Proctor is the Villain sebenarnya tampak sederhana hanya dengan berlatarkan sebuah ruangan kelas yang dirancang sebagai kelas milik Mr. Smith. Namun, chemistry di antara para pemeran sungguh luar biasa. Drama panggung tersebut tidak hanya rekontekstualisasi modern dari drama aslinya, tetapi juga membawa unsur komedi, feminisme, gerakan #MeToo yang nyata, dan kekuatan persahabatan. 

John Proctor yang “Protagonis” Dipertanyakan oleh Para Remaja Masa Kini

Sadie Sink dan Amalia Yoo dalam penampilan John Proctor is the Villain.
Sumber: newyorktheatreguide.com

John Proctor digambarkan sosok pahlawan tradisional yang menentang hebat tindakan perburuan penyihir di Salem. Namun, seiring berjalannya waktu dengan kerangka berpikir yang semakin berkembang dan kompleks, kedudukan Proctor sebagai peran protagonis dipertanyakan, terkhusus bagi para remaja generasi dewasa ini. 

The Crucible berlatar belakang masa tekanan sosial dan keagamaan yang kuat, di mana tuduhan ilmu sihir dapat mengakibatkan konsekuensi yang mengancam. Menelusuri bagaimana ketidakseimbangan kekuasaan antara orang dewasa dan remaja, khususnya wanita muda, berkontribusi terhadap peristiwa di Salem. 

Dikaji dari sisi peran utama perempuan, Abigail Williams, villain dalam drama, digambarkan sebagai perempuan dengan penilaian negatif. Perempuan manipulatif yang merayu Proctor, berusaha menyakiti Elizabeth dengan menuduh istri Proctor ini sebagai penyihir yang bergaul bersama iblis. Dengan ini pun perburuan penyihir dimulai. 

Jika dapat menentang sisi gambaran Abigail, dia tak sepenuhnya bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa The Crucible. Sebab Abigail dipertimbangkan dari sudut pandangnya akan trauma, pengkhianatan, dan luka dalam banyak hal yang dialaminya.

Hal tersebut tampaknya dapat dikaitkan dengan peran Shelby Holcomb, yang mengidentifikasi dirinya dengan Abigail, sama-sama menyimpan trauma atas tuduhan pencemaran nama baik pria. Menurut pandangan Shelby, Abigail adalah pahlawan, sementara John Proctor adalah sang villain

Karakter Elizabeth, istri Proctor, dapat diamati dari rasa keraguan dalam perannya sebagai istri sah. Elizabeth merasa bersalah sepenuhnya atas retaknya kehidupan rumah tangganya bersama sang suami karena telah menjadi sosok istri yang dingin dan tidak setia. Elizabeth digambarkan sebagai figur wanita suci, sabar, menderita, dan mendorong suaminya untuk menemukan jalan kembali untuk “kebaikannya”. 

Selain itu, Mr. Smith yang membela jiwa kepahlawanan John Proctor, diperdebatkan oleh siswa-siswi, terutama para perempuan. Beth memimpin kelas melalui perdebatan tentang topik ini. Shelby yang menantang Mr. Smith sehingga siswa-siswi lainnya merasa terpengaruh. Raelynn yang menunjukkan perlakuan buruk Proctor terhadap istrinya, Elizabeth, menurut standar modern. 

Karakter dan konflik John Proctor memang menjadi masalah bagi para pembaca modern, terutama ketika seorang tokoh sastra yang telah dianggap pahlawan sastra Barat. Dalam drama tersebut, Proctor memilih kematian daripada mengaku kepalsuan akan ilmu sihir, memilih untuk memberikan hidupnya untuk apa yang dia anggap sebagai kebenaran. Ia yakin bahwa menandatangani pengakuan palsu akan mempermalukan dirinya dan keluarganya, termasuk anak-anaknya. 

Berkat hal itu, John Proctor mengamankan kedudukannya atas pahlawan tradisional sebagai teladan berintegritas dalam standar teks sastra. Namun di sisi lain, Proctor terlibat dalam hubungan seksual gelap, di luar pernikahan, bersama Abigail.  

Di dalam ending pementasan drama tersebut, para gadis yang dipimpin Shelby dan Raelynn melakukan tarian “ritual” semacam “pengusiran setan” dengan alunan lagu Green Light dari Lorde. Bagi Kimberly Belflower, single yang terdapat di album Melodrama ini merupakan coming-of-age anthem terbaik yang mengajarkan tentang keganasan dan keajaiban gadis remaja. 

Pada akhirnya, John Proctor is the Villain mengambil poin utama tentang gadis-gadis SMA yang mampu mengidentifikasi The Crucible dalam mengembangkan argumen kritis dan logis mengenai predasi laki-laki serta kepahlawanan palsu. 

Penggunaan bahasa modern serta referensi terhadap budaya pop dan musik saat ini (seperti Taylor Swift, Lorde, dan Lizzo), Belflower menciptakan John Proctor is the Villain guna pengkajian ulang melalui kedok karakter pada wanita serta pengalaman kontemporer mereka. Belflower mencoba untuk mendekonstruksi asumsi yang telah lama dipegang dan menerangi tokoh-tokoh sejarah, sastra, dan masyarakat kontemporer yang selama ini terabaikan. 

John Proctor is the Villain hingga sekarang masih dipentaskan di Booth Theatre, New York, Amerika Serikat. Semoga teater Broadway seperti John Proctor is the Villain bisa semakin menarik pusat perhatian bagi para khalayak di seluruh dunia! 

Baca Juga: Ketika Orang Tuamu Seorang Serial Killer: Review The Locked Door Karya Freida McFadden

Referensi

https://www.hollywoodreporter.com/lifestyle/arts/john-proctor-is-the-villain-review-sadie-sink-broadway-1236190543
https://ew.com/john-proctor-is-the-villain-sadie-sink-broadway-play-review-11714446
https://www.newyorktheatreguide.com/theatre-news/news/brush-up-on-the-crucible-before-seeing-john-proctor-is-the-villain-on-broadway
https://www.elle.com/culture/music/a65133773/green-light-lorde-song-john-proctor-is-the-villain-kimberly-belflower
https://johnproctoristhevillain.com/new-york-times

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya