Hasrat Selangkangan Semata

Reva, perempuan yang mencoba mengejar mimpinya menjadi role model perempuan-perempuan hebat dan sangat tertarik mengenai isu sosial terutama permasalahan kasus perempuan ia percaya dengan menulis dapat menularkan suara-suara yang terkubur dari rasa sakit yang ter bungkam oleh stigma sosial.

Di dunia yang kian terbuka, isu kekerasan kini bukan lagi sekadar desas-desus yang terpendam, melainkan realita yang meledak di depan mata. Kemajuan informasi yang melejit memang membuat mata kita terbuka akan kasus-kasus yang selama ini terabaikan. Namun, di balik terbukanya akses informasi tersebut, muncul ironi baru: kita kini tahu banyak hal, tetapi sering kali gagal memahami esensi kemanusiaan di dalamnya. Kita sadar bahwa kejahatan terjadi tepat di lingkungan terdekat, namun kita belum cukup sadar untuk berhenti melukai mereka yang telah menjadi korban.

Kondisi ini memaksa kita untuk melangkah dengan hati yang lebih waspada. Betapa tidak? Ketika seorang korban memberanikan diri untuk bersuara, masyarakat sering kali justru melabeli mereka sebagai “penikmat” atau “pemicu” tanpa pernah mau menelaah bagaimana trauma bekerja. Stigma sosial ini adalah pedang bermata dua; ia tidak hanya membunuh mental korban, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku untuk terus berkeliaran mencari mangsa baru dengan rasa aman yang semu.

Bagi sang korban, dunia seakan kehilangan warnanya. Mereka tidak lagi bisa melihat pelangi atau keindahan hidup karena lensa mereka telah tertutup oleh asap trauma yang pekat. Dunia mereka berubah menjadi ruang yang asing dan menakutkan. Di tengah kondisi yang rapuh itu, alih-alih menjadi tempat bernaung, masyarakat justru sering kali menambah badai dalam hidup mereka. Kalimat-kalimat tajam seperti, “Dia sudah tidak perawan,” atau tuduhan keji mengenai “suara desahan” dan “kenikmatan semu,” menjadi hantaman yang jauh lebih mematikan daripada luka fisik itu sendiri. Kalimat-kalimat tersebut mungkin hanya terdiri dari beberapa kata, namun bagi korban, itu adalah petir yang menyambar habis sisa-sisa keberanian dalam dirinya.

Sering kali, orang-orang menjadikan pakaian atau ekspresi biologis sebagai tameng untuk membenarkan tindakan mereka. Opini busuk yang menempatkan “pakaian” atau “respons tubuh” sebagai penyebab pelecehan adalah cara bagi individu-individu untuk lepas tanggung jawab dari kebodohan dan ego mereka sendiri. Mari kita cermati lebih dalam: pelecehan seksual bukanlah masalah busana. Kita telah melihat banyak kasus di mana perempuan yang tertutup rapat pun tetap menjadi sasaran catcalling hingga pelecehan fisik lainnya. Ini membuktikan bahwa masalahnya bukan terletak pada apa yang dikenakan, melainkan pada bagaimana pelaku memandang tubuh manusia sebagai objek untuk memuaskan hasratnya.

Bahkan, penjelasan medis pun sering disalahartikan dengan brutal. Respons biologis tubuh perempuan seperti pelumasan alami atau reaksi suara yang muncul karena kepasrahan atau ketakutan dijadikan senjata oleh pelaku untuk menuduh bahwa korban “menginginkannya.” Padahal, desahan itu bukanlah simbol kenikmatan, melainkan bisa jadi teriakan permohonan tolong yang tak terucapkan, sebuah pertahanan diri terakhir dalam ketakutan yang luar biasa saat berhadapan dengan manusia yang telah kehilangan rasa kemanusiaannya.

Yang lebih memilukan, kejahatan ini sering dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, para petinggi, hingga aparat yang seharusnya menjadi pelindung. Ketika orang-orang yang seharusnya menegakkan keadilan justru menjadi predator, di mana lagi korban bisa mengadu? Lebih menyakitkan lagi adalah peran lingkungan sekitar, bahkan keluarga pelaku sendiri. Ketika seorang istri mengetahui perilaku suaminya, sering kali yang keluar bukanlah permintaan maaf kepada korban, melainkan cercaan. Pertanyaan retoris seperti, “Mengapa kamu tidak melawan?”atau tatapan penuh kebencian yang menganggap korban sebagai sosok yang menjijikkan, hanyalah cerminan dari kegagalan empati yang kronis.

Bagi perempuan yang sangat menjunjung kehormatannya, pelecehan ini adalah kiamat kecil yang menghancurkan dunianya. Sementara sang pelaku mungkin bisa kembali menjalani rutinitas dengan tawa dan tanpa rasa bersalah, sang korban harus berjuang setiap detik untuk menata kembali kepingan-kepingan dirinya yang hancur.

Kita sering kali terlalu naif hingga tidak menyadari bahwa kehidupan para penyintas kekerasan sering kali berujung pada tragedi yang lebih dalam. Realitasnya, banyak pasangan mereka di masa depan yang tidak mampu atau tidak mau menerima kenyataan bahwa pasangannya adalah seorang korban pelecehan. Penolakan atau stigma dari orang terdekat inilah yang perlahan menghancurkan sisa-sisa pertahanan psikologis korban. Akibatnya, mereka merasa terasing dan akhirnya mencari “ruang aman” di tempat yang paling salah  sebuah pelarian yang justru menjerumuskan mereka ke dalam dunia hitam.

Banyak korban yang akhirnya terjebak dalam lingkaran prostitusi. Mereka terpaksa menjual diri, ibarat sepotong umpan yang dilemparkan kepada ikan-ikan lapar yang tidak memiliki empati. Mengapa mereka memilih jalan itu? Bukan karena mereka menikmatinya, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat. Mereka takut jika harus menempuh jalan hidup yang benar, memori kelam masa lalu akan terus membayangi, muncul ke permukaan publik, dan memicu penghakiman baru. Dunia prostitusi, bagi mereka, menjadi bentuk “perlindungan” yang keliru tempat di mana identitas mereka yang lama seolah-olah hilang tertelan gelapnya malam.

Mereka terus bergulat dengan sejuta harapan yang kian pudar. Mereka meyakini bahwa dunia yang penuh kerlap-kerlip lampu, dentuman musik yang memecah gendang telinga, hingga riuhnya percakapan di bar, adalah satu-satunya ranah yang paling aman. Bahkan, ketika mereka sampai pada titik terendah dalam perdagangan manusia, mereka tetap menganggapnya sebagai tempat persembunyian yang paling “nyaman” untuk melarikan diri dari ingatan.

Sungguh dosa besar bagi kita semua, masyarakat yang diam, karena telah membiarkan para korban terjerumus hingga sejauh itu. Bau harum nektar bunga yang seharusnya menjadi bagian dari masa muda mereka, kini telah tergantikan sepenuhnya oleh aroma alkohol yang memabukkan. Hangatnya sinar matahari yang menyapu kulit di pagi hari telah berganti dengan dinginnya angin malam yang mencekam. Doa-doa yang dulu khusyuk terucap, kini telah berganti dengan jeritan rintihan panjang sebagai satu-satunya pelampiasan atas stres, rasa hampa, dan frustrasi yang tak tertahankan.

Di sana, tidak ada yang menolong. Mereka diperlakukan layaknya anjing buruan yang tidak punya pilihan selain menuruti apa pun perintah dari orang yang menyewanya. Dan di tengah penderitaan itu, kita sering kali melontarkan pertanyaan yang sinis dan memojokkan: “Mengapa tidak melapor saja kepada penegak hukum? Bukankah negeri ini adalah negara hukum?” Namun, bagi mereka yang berada di dalam sana, pertanyaan itu terdengar sangat menyakitkan. Tanpa perlu dijelaskan pun, mereka sudah tahu siapa pelakunya.

Sering kali, justru aparat penegak hukum sendiri sosok yang berseragam dan memegang amanah negara adalah orang yang setiap malam datang mengunjungi mereka. Sambil meneguk alkohol, mulut yang sama yang sering digunakan untuk mendeklarasikan keadilan dan menyuarakan hak-hak rakyat, justru menjadi sumber ketakutan mereka. Aparat tersebut dengan pongah mencumbu minuman keras dan menikmati setiap lekukan tubuh yang beraroma manis, tanpa secuil pun rasa bersalah.

Bukan berarti di negara ini tidak ada orang baik kita tahu bahwa orang baik itu ada. Namun, jika kita melihat dengan mata telanjang dan kejujuran nurani, hanya segelintir orang dari populasi kita yang benar-benar memiliki keberanian dan empati untuk menolong korban terbebas dari dunia kelam dan trauma tersebut. Kebanyakan dari kita lebih memilih menutup mata agar tidak perlu menanggung beban moral.

Di sinilah letak krisis kemanusiaan yang sesungguhnya. Pertolongan dari kitalah bukan dari aparat yang korup atau masyarakat yang menghakimi yang sebenarnya bisa memutus rantai belenggu neraka tersebut. Kita harus berhenti menjadi penonton dan mulai menyadari bahwa setiap jiwa yang terbelenggu dalam dunia hitam itu layak mendapatkan kesempatan untuk kembali melihat cahaya, terbebas dari trauma, dan diakui kembali sebagai manusia yang utuh.

Mungkin, jika kita mau menolong, berani bersuara untuk membela, dan mencoba merasakan rasa sakit yang mereka derita, kita dapat membantu memudarkan lingkaran setan yang selama ini mencengkeram. Langkah kecil berupa keberanian untuk berdiri di sisi korban adalah kunci. Seiring berjalannya waktu, lingkaran kelam itu akan terus menipis hingga akhirnya menghilang, menjadikan seluruh sudut dunia ini sebagai ruang aman bagi perempuan. Kita harus secara kolektif meruntuhkan kekuasaan palsu kekuasaan yang selama ini hanya digunakan oleh segelintir orang demi memuaskan ego dan nafsu pribadi untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar aman bagi para penerus bangsa kita.

Kita perlu menyadari satu kebenaran fundamental: perempuan-perempuan hebat adalah arsitek utama yang akan melahirkan dan membentuk generasi yang berkualitas bagi negara ini. Jika perempuan dihargai dan dilindungi, maka bangsa itu akan tumbuh dengan kokoh. Namun, mari kita renungkan secara kritis: jika saat ini perempuan di negeri ini masih terus direndahkan dan dianggap sekadar objek pemuas nafsu, bagaimana mungkin kita mengharapkan masa depan yang cerah bagi anak-anak kita yang kelak akan menggantikan posisi kita? Bayangkan sebuah transformasi radikal di masa depan.

Bayangkan jika bangunan-bangunan diskotek yang selama ini menjadi pusat kemaksiatan dialihfungsikan menjadi institusi pendidikan yang mencerdaskan. Bayangkan jika toko-toko alkohol yang menjajakan candu diganti menjadi pusat penyedia nutrisi sehat dan ruang kolaborasi bagi inovasi-inovasi yang membanggakan negara. Ini bukan utopia; ini adalah potensi yang bisa kita raih jika kita berani bertindak.

Sebenarnya, kita adalah generasi yang memiliki potensi nalar dan kemampuan berpikir yang sangat logis. Namun, kapasitas luar biasa ini sering kali tersumbat dan tertutup oleh rasa takut yang diciptakan oleh kekuasaan palsu. Kita terlalu sering tunduk pada para penjahat kelamin mereka yang menempati posisi strategis namun pikirannya hanya tertuju pada hasrat selangkangan semata. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi penghambat utama kemajuan nalar bangsa.

Sudah saatnya kita memutus rantai ketundukan ini. Sudah saatnya kita menggunakan nalar logis kita untuk menantang mereka yang menyalahgunakan kekuasaan. Dengan berani menyuarakan kebenaran dan menolak segala bentuk objektifikasi terhadap perempuan, kita tidak hanya sedang menyelamatkan para korban, tetapi kita sedang membangun fondasi bagi peradaban yang jauh lebih beradab, berintelektual, dan bermartabat. Masa depan bangsa ada di tangan mereka yang berani berpikir, berani bersuara, dan berani bertindak demi kemanusiaan.

Penulis: Reva Aulia

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya