Pangku (Reza Rahadian, 2025): Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Menu di Warung Orang Lain

Ada sebuah momen dalam film pangku yang terasa seperti tamparan : seorang anak kecil bernama bayu bukan karena ia bodoh, bukan karena ia nakal, tapikarena ia tidak bisa menuliskan nama ayah kandungnya di fomulir pendaftaran. Formulir itu sederhana, selembar kertas tipis . tetapi di tangan sistem yang tidak pernah dirancang untuk merangkul perempuan yang sendirian,kertas itu menjadi tembok.

Film Pangku, debut penyutradaraan aktor Reza Rahadian yang tayang di bioskop Indonesia pada 6 November 2025, adalah sebuah karya yang berani mengangkat realitas sosial yang selama ini tersembunyi di balik gelapnya jalur Pantura. Berlatar di kawasan pesisir Eretan Kulon, Jawa Barat, film ini mengisahkan Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan muda hamil besar yang meninggalkan kota asalnya sendirian, bertahan hidup di warung kopi milik Maya (Christine Hakim), dan terpaksa menjalani pekerjaan sebagai pelayan “kopi pangku”, yakni praktik di mana perempuan menemani pelanggan laki-laki sambil duduk di pangkuan mereka.

Antara Tradisi dan Ekploitasi. “Kopi pangku” adalah praktik yang lazim ditemukan di warung-warung tepi jalan di sepanjang jalur Pantura, di mana pelanggan, umumnya supir truk, menikmati kopi sambil memangku perempuan yang bekerja sebagai pelayan. Praktik ini berada dalam zona abu-abu: bukan prostitusi secara hukum, tetapi jelas bukan sekadar hubungan jual-beli kopi biasa.

Dalam kajian budaya, sebuah praktik sosial tidak pernah netral. Ia selalu membawa di dalamnya relasi kuasa, norma gender, dan kepentingan ekonomi tertentu (Hall, 1997). Kopi pangku adalah praktik yang lahir dari pertemuan antara kebutuhan ekonomi perempuan miskin yang tidak memiliki pilihan lain, dan kebiasaan konsumtif laki-laki yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bagian dari layanan yang mereka beli. Dalam konteks ini, tubuh perempuan bukan milik perempuan itu sendiri; ia adalah komoditas yang dipertukarkan di pasar yang tidak pernah ia rancang dan tidak pernah ia pilih untuk masuki.

Perempuan yang tidak pernah diberi pilihan. Dari perspektif gender, narasi Sartika adalah narasi yang sangat familiar: perempuan yang dipaksa menanggung konsekuensi dari pilihan yang melibatkan laki-laki, tetapi tanpa dukungan dari laki-laki tersebut. Kehamilan Sartika adalah bukti nyata dari ketidaksetaraan biologis dan sosial yang saling memperkuat. Secara biologis, perempuanlah yang menanggung kehamilan. Secara sosial, stigma, tanggung jawab, dan biaya ekonomis dari kehamilan tersebut juga ditimpakan sepenuhnya kepada perempuan, sementara laki-laki yang terlibat dapat pergi tanpa konsekuensi yang setara.

Ketika Sartika pada akhirnya menerima pekerjaan sebagai pelayan kopi pangku, keputusan itu bukan cerminan dari keinginan atau nilai-nilainya. Ia adalah cerminan dari sempitnya ruang yang diberikan oleh sistem kepada perempuan miskin tanpa pendidikan formal, tanpa jaringan sosial, dan tanpa laki-laki yang melindunginya. Dalam kajian feminisme, kondisi ini disebut sebagai ketidakberdayaan terstruktur: situasi di mana perempuan tidak bebas memilih bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena sistem tidak menyediakan pilihan yang layak (Walby, 1990).

Patriarki yang Tersembunyi di Balik Tradisi. Salah satu lapisan analisis yang paling kaya dalam film Pangku adalah cara ia memperlihatkan bagaimana budaya Jawa, dengan segala keindahan dan kekayaannya, juga menyimpan struktur yang mengikat perempuan. Tiga peran yang dikenal dalam budaya Jawa tradisional, manak (melahirkan), macak (berhias), dan masak (memasak), hadir dalam film ini bukan sebagai nilai yang dirayakan, melainkan sebagai beban yang diam-diam diletakkan di pundak perempuan.

Sartika melahirkan tanpa suami, dalam kondisi yang jauh dari ideal. Maya, yang lebih tua dan tampaknya berkuasa, berhias bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk mempertahankan operasional bisnis yang menggantungkan hidupnya pada laki-laki yang datang dan pergi. Semua perempuan di warung itu memasak kopi untuk orang lain, dalam arti yang paling harfiah sekaligus paling simbolis. Di sinilah film memperlihatkan wajah patriarki yang paling berbahaya: bukan yang muncul dalam bentuk kekerasan fisik yang kasar dan mudah diidentifikasi, melainkan yang bekerja melalui rasa bersalah, ketundukan, dan normalisasi terhadap situasi yang seharusnya tidak normal.

Relasi kuasa antar perempuan. Dari perspektif gender, Maya adalah representasi dari fenomena yang disebut sebagai internalized patriarchy atau patriarki yang terinternalisasi: kondisi di mana seseorang yang sendirinya pernah menjadi korban sistem yang tidak adil, kemudian mereproduksi sistem yang sama terhadap orang lain yang lebih lemah (Manne, 2018). Maya kemungkinan besar pernah berada di posisi Sartika. Kini, dengan posisinya sebagai pemilik warung, ia menggunakan kekuasaan kecil yang ia miliki untuk mempertahankan bisnisnya, meskipun dengan cara yang menempatkan perempuan lain dalam posisi yang tidak bermartabat.

Ini adalah gambaran yang sangat jujur tentang bagaimana patriarki tidak selalu diwakili oleh laki-laki. Sistem yang tidak adil bisa direproduksi oleh siapa pun yang berada di dalamnya, terlepas dari jenis kelaminnya, ketika mereka tidak memiliki atau tidak menggunakan kesadaran kritis untuk mempertanyakannya. Film Pangku tidak menghakimi Maya sebagai sosok jahat ia memperlihatkannya sebagai produk dari sistem yang membuatnya tidak punya banyak pilihan lain pula.

stigma sosial dan fatherless : hukuman yang dijatuhkan kepada yang salah. Salah satu momen paling menghantam dalam Pangku adalah ketika Bayu, putra Sartika, ditolak mendaftar sekolah karena tidak bisa mencantumkan nama ayah kandungnya. Adegan ini adalah kritik sosial yang tidak memerlukan kata-kata panjang untuk menyampaikan pesannya: sistem yang seharusnya melindungi dan mendidik anak justru menghukum anak atas kondisi yang tidak pernah ia pilih.

Lebih dari itu, adegan ini memperlihatkan bagaimana stigma sosial terhadap ibu tunggal tidak hanya menimpa si ibu, tetapi juga diwariskan kepada anak-anaknya. Sartika bukan hanya menanggung konsekuensi dari ketidakhadiran laki-laki dalam hidupnya; anaknya pun ikut menanggungnya. Ini adalah bentuk ketidakadilan berlapis yang sangat relevan dengan realitas banyak perempuan Indonesia: mereka dihukum atas keputusan atau keadaan yang melibatkan laki-laki, sementara laki-laki tersebut bisa melanjutkan hidupnya tanpa konsekuensi yang setara.

Fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah ini bukan hanya persoalan pribadi ia adala persoalan struktural yang memerlukan respons kebijakan yang serius. Ketika sebuah sistem pendidikan masih memerlukan nama ayah sebagai syarat administrasi, ia sedang mengkodifikasi ketimpangan gender ke dalam birokrasi.

Film Pangku adalah karya yang tidak memberikan kita kemewahan untuk merasa nyaman. Ia memaksa kita menatap realitas yang terlalu sering kita lewati begitu saja di jalan-jalan Pantura, atau di kota-kota manapun yang menyimpan perempuan seperti Sartika: perempuan yang bekerja keras, yang bertahan dengan segala yang ia punya, yang mencintai anaknya dengan cara yang menguras semua yang ia miliki, dan yang tidak mendapat pengakuan atas semua itu.

Reza Rahadian, yang terinspirasi dari kisah ibunya sendiri sebagai ibu tunggal, membuat film ini sebagai sebuah penghormatan. Dan dalam penghormatan itu, ia berhasil mengajak kita untuk tidak hanya merasa iba, tetapi untuk bertanya: sistem seperti apa yang menciptakan Sartika? Kebijakan apa yang gagal melindunginya? Dan apa yang harus berubah agar perempuan seperti Sartika tidak harus memilih antara bertahan dengan cara yang tidak bermartabat dan menyerah sama sekali?

Sartika tidak punya suara yang lantang. Tetapi setiap langkahnya, setiap keputusannya untuk terus bangun di pagi hari dan memastikan Bayu makan, adalah bentuk perlawanan itu sendiri. Dan film Pangku memastikan bahwa perlawanan itu tidak berlalu tanpa diakui.

REFERENSI

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.

Manne, K. (2018). Down Girl: The Logic of Misogyny. Oxford University Press.

Rahadian, R. (Sutradara). (2025). Pangku [Film]. Gambar Gerak.

Sadriani, A. (2026). Analisis Feminisme dalam Film Pangku: Tubuh Perempuan sebagai Ruang Perlawanan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 12(4.A), 320-339.

Walby, S. (1990). Theorizing Patriarchy. Blackwell.

Bionarasi Penulis

Marsya Ulya Nabila adalah mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Padang. saya percaya bahwa film adalah teks budaya yang membentuk cara kita memandang dunia, dan bahwa mempertanyakan apa yang kita tonton adalah langkah pertama untuk mempertanyakan dunia yang membentuk tontonan itu. Saya menulis karena diam terasa terlalu mahal.

Editor: Zidan As’ad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya