Menembus Industri Penyiaran: Kisah Pramono Hari Susanto Menjadi Pilar Penting Metro TV

Sering kali muncul stereotip bahwa lulusan sastra hanya berkutat di perpustakaan atau ruang kelas. Namun, Pramono Hari Susanto, alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, berhasil memecahkan anggapan tersebut. Saat ini, ia menduduki posisi strategis sebagai Produser Eksekutif di Metro TV, salah satu stasiun televisi berita terkemuka di Indonesia.

Bagi Pramono, ilmu budaya dan sastra bukanlah disiplin ilmu yang kaku. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa latar belakang akademisnya sangat relevan dengan dunia jurnalistik. Memahami bahasa bukan sekedar urusan tata bahasa, melainkan melibatkan kepekaan rasa, pemilihan kata (diksi), serta keterampilan penceritaan (storytelling).

“Memahami sastra dengan segala kekayaan gaya bahasa dan diksi tentunya sangat bermanfaat bagi industri yang mengutamakan interaksi dengan orang lain, termasuk industri pers,” ujarnya.

Kesuksesan Pramono tidak datang secara instan. Pada tahun 1997, ia sudah merancang road map kariernya dengan aktif di organisasi pers kampus, Suara Airlangga. Baginya, jurnalisme adalah disiplin ilmu yang bersifat open source, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang jurusan.

“Saya memulainya dengan mengikuti pelatihan jurnalistik di media besar seperti Jawa Pos dan Kompas saat masih mahasiswa. Jadi, jalurnya memang sudah saya bangun sejak dini,” tambahnya.

Sebagai pemangku program tertinggi (Executive Producer), Pramono memegang tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara idealisme jurnalisme dan kepentingan komersial. Ia menekankan bahwa selama sebuah media menyajikan fakta, maka prinsip jurnalisme tetap terjaga.

“Pilihan fakta atau durasi mungkin bisa dipengaruhi kebijakan media, tapi yang tidak boleh dilakukan adalah menyajikan berita bohong (fake news). Idealisme jurnalisme akan tetap melekat sampai kita menanggalkan profesi ini,” tegasnya.

Pramono memberikan pesan motivasi bagi mahasiswa FIB UNAIR yang mungkin merasa ragu dengan masa depan mereka di dunia kerja praktis. Ia menganalogikan mahasiswa berkualitas seperti “sebongkah emas”.

“Sebongkah emas akan selalu menjadi emas dan tetap bersinar, baik ditaruh di etalase mewah bersama emas yang lain, maupun ditaruh di baskom bersama kerikil,” ungkap Pramono

Ia mendorong mahasiswa untuk terus mengasah soft skill, terutama kemampuan komunikasi dan adaptasi teknologi digital. Di era sekarang, jurnalis dituntut menjadi multi-platform, mampu menjadi reporter sekaligus juru kamera dan presenter.

“Jangan memusingkan label akademik. Miliki daya dobrak dan daya saing agar kompetitif. Tentukan road map kalian, lalu mulailah menapaki anak tangga menuju kesuksesan,” pungkasnya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Ragil Kukuh Imanto

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya