Menembus Industri Kreatif: Kisah Sukses Levina Letisia, Alumnus FIB UNAIR

Banyak orang mengira bahwa latar belakang pendidikan sastra hanya memiliki prospek karir yang terbatas. Namun, anggapan miring tersebut berhasil ditepis oleh Levina Letisia, alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR). Lulus dengan predikat cumlaude dan IPK 3,70, ia membuktikan bahwa ilmu humaniora dapat menjadi fondasi kokoh untuk berkarier di ranah komunikasi pemasaran sebuah bidang yang fokus pada strategi komunikasi pemasaran, mulai dari pengelolaan pesan, penguatan citra (branding), hingga kristalisasi media digital. Selain menyelami dunia pemasaran, Levina juga aktif menekuni bidang fotografi profesional.

Levina memulai perkuliahan di Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR pada tahun 2013. Kepada Humas Muda, Selasa (24/2/2026), Levina menjelaskan, “Berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya itu menyenangkan karena banyak pengetahuan yang didapat saat kita memahami dan terjun langsung ‘membaca’ lingkungan, bukan menghafal. Sehingga kita dituntut aktif dan peka untuk peduli.”

Di luar akademik, Levina aktif mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia (HMD Basasindo). Ia bergabung sebagai staf Divisi Minat dan Bakat (2014–2015) dan menjabat Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat (2015–2016). Pengalaman tersebut membentuk kepekaan sosial, kemampuan adaptasi, dan kedisiplinan yang mendukung profesionalitasnya di dunia kerja saat ini.

Levina menumbuhkan minat pada dunia marketing communicationsmelalui mata kuliah Analisis Wacana. Diskusi mengenai strategi iklan seperti cara membangun pesan tanpa hard selling memperluas wawasannya tentang komunikasi kreatif. Rasa penasaran itu mendorongnya menjalani magang sebagai copywriter di Skawan, konsultan merek lokal Surabaya.

Magang yang saat itu belum menjadi kewajiban akademik justru membuka peluang penting untuknya. Dari pengalaman tersebut, Levina memperoleh tawaran bekerja di bidang kreatif dan mulai mendalami dunia pemasaran berbasis komunitas serta tren digital. “Marketing lebih luas dari sekadar sales. Ia lebih dinamis dan terus berkembang. Dibutuhkan orang yang kreatif untuk mau mengikuti perkembangannya,” tuturnya

Levina menghadapi tantangan terbesar di dunia marketing communication, yakni berupa perkembangan teknologi dan algoritma yang bergerak begitu cepat. Ia harus menyesuaikan diri secara berkelanjutan agar tetap selaras di tengah ekspektasi industri.

Di sisi lain, Levina mengembangkan hobi fotografi yang telah ia tekuni sejak bangku SMA dan kemudian berkembang menjadi peluang profesional. Dengan memanfaatkan portofolio dan pemahaman tentang marketing, ia membuka vendor foto secara mandiri. Kesempatan ini kemudian membawanya merantau ke Jakarta dan berkarier sebagai fotografer persalinan.

“Fotografi persalinan berbeda dari fotografi komersial. Kita memotret dan merangkum momen seumur hidup sekali yang tidak bisa diulang,” jelasnya.

Menurut Levina, refleksi diri dan keberanian mengambil peluang menjadi langkah penting bagi para mahasiswa. Ia pun mengingatkan agar mahasiswa FIB UNAIR terus menggali potensi, meningkatkan pengetahuan, dan memantapkan pilihan.

“Belajar adalah proses seumur hidup. Jalani dengan percaya diri. Jika merasa tidak cocok, tak mengapa memulai kembali,” tutupnya.

Capaian ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yakni Quality Education.

Penulis: Kaisa Anindya Fitri

Editor: Gustyosih Chesta Pramesti

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya