Tak Ada Yang Bisa Menyembuhkanmu Selain Dirimu

Bisa jadi, penyebab seseorang keras tekad untuk bunuh diri tidak melulu hal negatif. Kadang sebab positifnya pun ada. Misal, seseorang menginginkan jadi A, hendak punya A dan sebagainya. Tetapi sejurus ia merasa sulit mencapainya kemudian merasa tak berharga, useless, potong kompas dengan potong nadi, nge-barcode; singkatnya, karena dalam gambar imajinatifnya ia bahagia memuncak kalau berhasil merengkuhnya. Faktanya tidak. Dia terbunuh oleh standarnya sendiri, dalam bahasa Habel (dalam Surat-Surat Veronica dan Habel) “ideal diri” nya muluk-muluk.

Lalu ia mulai melakukan penyangkalan. Suicide dianggapnya solusi. Padahal kekalahan itu alami. Dalam hidup, nyatanya, kita lebih sering kalah dari pada menang. Anak kecil dalam diri mati-bangun berulang kali, tapi tetap saja kita tega menyakitinya dengan bertaruh beban di luar kadarnya.

Menurut Adler, masa lalu tidak pernah membentuk kepribadian seseorang; makna yang kau berikan pada pengalaman masa lalu itu yang membentuk kepribadianmu. Masalah muncul karena ideal diri seseorang terlalu perfeksionis dan berfokus pada hal-hal duniawi.

Jangan terlalu termakan stereotip tentang sesuatu; menyamakan seseorang karena pandangan umum itu merupakan hal yang paling tidak adil. Setiap manusia unik dengan ciri khas masing-masing. Duh, betapa brengseknya manusia! Aku rasa, Tuhan menghadiahi kita akal sebagai hukuman dan kutukan.

Kita selalu membutuhkan orang lain terutama untuk hal paling dasar; menjalani hidup (bodily life). Yaitu, dimensi eksistensi manusia yang terfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar biologis (makan, tidur, bertahan hidup). Kita tidak akan menghadapi dunia yang penuh dengan jiwa yang setengah penuh, tidak bisa tidak kita mengandalkan orang lain. Bahkan sejak dalam kandung ibu, kita sudah mengalami fase pra-oedipal, ketergantungan terhadap subjek di luar diri.

Bayi terlahir menangis sebab khawatir asupan yang terberi secara gratis dalam perut ibu terkorupsi, terjeda, ia mendambakan derma ilahi kedua. Naluri setiap bayi, hatta “primata jenius” dewasa, pragmatis saja. Dalam teori Freud, ditulis ulang Terry Eegleton, memandang bahwa motivasi fundamental dari semua perilaku manusia adalah menghindari rasa sakit dan memperoleh kenikmatan. Bentuk ini secara filosofis dikenal sebagai hedonisme.

Mari renungi pikiran Otto Rank ini, bahwa manusia memang memiliki kesadaran yang membuatnya jadi merdeka tapi juga membuatnya terlempar menjadi seorang pengembara yatim piatu di dalam hidupnya. Dia ingin kembali “ke dalam badan ibunya di mana segala sesuatu diberikan tanpa diminta”, demikian uraian psikolog Austria, Otto Rank.

Lahir ke dunia berarti “dikeluarkan dari taman firdaus itu”. Karena itulah, menurut Otto Rank, kelahiran adalah suatu pengalaman pedih pertama (the trauma of birth) yang menjadi dasar bagi kecemasan-kecemasan manusia sepanjang hidupnya. Sebab itulah Sartre berkata: “manusia dihukum untuk merdeka”,

mengutip dari Arif Budiman “Chairil Anwar Sebuah Pertemuan,” dengan beberapa tambahan.

Begitulah hidup bekerja. kau perlu bernafas untuk menyambung nyawa. Tetapi oksigen menguras umurmu. Jadi, oksigen itu menghidupkan atau mematikan?

Seharusnya impian juga begitu, ia dengan keoptimisannya menawarkan keharmonisan pada segala. Bukan justru menjajah. Apapun, impian yang tidak teraih memintamu agar kau memeluknya lebih sering. Ia tak ingin kau tinggalkan, karenanya tidak ingin terburu menemuimu. Berterima kasihlah untuk pikiran buruk itu dan berjanji pada dirimu kau akan baik-baik saja!

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya