Biru Laut: Suara yang Hilang, Tapi Tak Pernah Mati
Biru Laut, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori

“Orang-orang yang menghilang, mereka tak benar-benar pergi. Mereka hidup dalam
ingatan, dalam mimpi.” — Asmara jati

Kutipan di atas menggambarkan makna perjuangan yang meski dibungkam dan dihapus dari permukaan, tak akan pernah benar-benar hilang. Selalu ada kebenaran yang menjadi fondasinya. Kalimat itu berasal dari karya Leila S. Chudori—sastrawan yang dikenal lihai membalut realitas pahit sejarah dengan untaian fiksi yang menyentuh.

Sejak saya berusia empat tahun, saya sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia politik. Ketertarikan saya semakin berkembang ketika saya menginjak bangku SMP. Saya mulai membaca buku-buku yang mengandung unsur sejarah dan pemikiran politik, terutama dari sudut pandang kiri, seperti Madilog dan Bumi Manusia.

Bagi saya, selama sebuah bacaan mengandung unsur faktual dan sejarah, maka saya akan dengan senang hati melahapnya. Hal inilah yang kemudian mendorong saya untuk memilih novel ini, karena saya merasa ia mampu menjembatani antara dunia sastra dan ketertarikan saya terhadap politik dan sejarah.

Hingga saya membaca Laut Bercerita. Yang mengubah sudut pandang saya akan sejarah, Laut Bercerita benar-benar mengubah cara berpikir saya. Saya sering kali mendiskusikan hal-hal yg terkandung pada novel ini bersama dengan ayah saya. Novel ini juga yang membuat saya dan ayah saya lebih banyak mengobrol.

Sastra ini bukan sekadar pelarian dari kenyataan, melainkan ruang penyimpanan dari ribuan fakta yang selama ini dikaburkan. Lewat karya-karya seperti Laut Bercerita, sastra menjadi ruang pengingat, sekaligus saksi atas luka-luka sejarah yang belum kering.

Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut, seorang mahasiswa sastra yang memilih jalan perjuangan melawan ketidakadilan di masa Orde Baru. Bersama kawan-kawannya dalam organisasi bawah tanah bernama Winatra dan Watu, mereka berjuang diam-diam melawan represi. Namun perjuangan itu harus dibayar mahal—satu per satu dari mereka ditangkap, diculik, lalu menghilang tanpa jejak di tangan aparat.

Lewat narasi yang lirih dan penuh empati, novel ini menyuarakan luka kolektif bangsa—tentang hilangnya para aktivis reformasi 1998, tentang suara yang dibungkam, dan tentang sejarah yang belum selesai. Luka itu masih terasa hingga kini. Dan Laut Bercerita hadir sebagai pengingat bahwa kebenaran tak bisa dibungkam selamanya. Dan keadilan akan selalu terlahir kembali.

Baca juga: Review Novel Laut Bercerita: Tentang Mereka yang Ditinggalkan

Suara yang Sengaja Dibungkam

Mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa idealis bernama Biru Laut, yang aktif dalam gerakan organisasi bawah tanah. Bersama teman-temannya, ia melawan ketidakadilan sosial dan minimnya demokrasi di masa Orde Baru. Mereka memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dan kebebasan berpendapat.

Sampul Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori (Pinterest)

Namun, perjuangan itu membuat mereka menjadi incaran aparat. Pada masa itu, perbedaan pendapat dianggap sebagai tindakan melawan negara. Akibatnya, Biru Laut dan rekan-rekannya mengalami penyiksaan, penculikan, dan sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali. Cerita ini dibawakan dari dua sudut pandang sebagai berikut.

1. Sudut Pandang Biru Laut

Sudut pandang Biru Laut yang menggambarkan aktivitas perlawanan hingga momen terakhir penculikan, termasuk adegan tragis ketika ia ditenggelamkan secara kejam dengan tangan dan kaki diikat batu besar, dimasukkan ke dalam gentong biru, lalu dibuang ke dasar laut.

2. Sudut Pandang Asmara Jati

Sudut pandang Asmara Jati, adik Biru, yang berjuang mati-matian mencari sang kakak sambil menghadapi kenyataan pahit bahwa negara tidak memberi kejelasan akan nasib para korban penghilangan paksa, termasuk kakaknya tercinta.

Meskipun bergenre fiksi, kisah ini berdasar pada fakta sejarah nyata. Antara tahun 1997–1998, puluhan aktivis pro-demokrasi mengalami penculikan dan penghilangan paksa.

Menurut Komnas HAM, setidaknya 13 orang masih dinyatakan hilang hingga kini. Penyelidikan menunjukkan adanya dugaan kuat pelanggaran HAM berat, berdasarkan kesaksian 58 korban dan masyarakat, serta keterangan dari aparat keamanan dan purnawirawan.

    Salah satu tokoh nyata yang menjadi inspirasi kuat dalam novel ini adalah Wiji Thukul, seorang penyair yang dikenal lantang melawan ketidakadilan melalui puisi-puisiny dan kawan-kawan. Suaranya yang tajam membuat para penguasa takut, dan hingga kini mereka masih dinyatakan hilang.

    Dari sudut pandang Wiji thukul ”Aku bukan orang penting. Aku hanya penyair, seorang ayah, dan seorang rakyat. Tapi kekuasaan menganggap kata-kataku terlalu berbahaya. Padahal yang kutulis hanya suara dari lorong-lorong kampung, dari rakyat yang kelaparan, dari mahasiswa yang diancam, dari ibu-ibu yang menggugat keadilan.”

    Sastrawan Widji Thukul (Wikipedia)

    Wiji Thukul hanyalah rakyat biasa, namun ia diburu dan dihilangkan secara misterius—bukan tanpa alasan. Kekuasaan takut, karena suara kebenaran yang ia bawa mampu mengguncang tembok penindasan.

    Laut Bercerita bukan hanya kisah tentang kehilangan, melainkan bentuk perlawanan terhadap lupa. Lewat novel ini, pembaca diajak untuk mengingat, memahami, dan berani bersuara terhadap ketidakadilan yang tidak boleh dianggap wajar.

    Dari cerita Laut Bercerita kita harus lebih berani akan bersuara, dan mengikuti gerakan-gerakan yang sekiranya memang berada di jalan yang benar menuju keadilan dan kebenaran. Dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

    Dari segi tema, novel ini mengangkat isu-isu penting seperti keadilan, kebebasan berpendapat, dan hak asasi manusia. Perjuangan Biru Laut dan teman-temannya melawan ketidakadilan menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

    Latar cerita yang kuat sangat mendukung tema-tema tersebut dan membuat narasi terasa relevan dengan sejarah bangsa.

    Secara keseluruhan, novel ini sangat bagus karena mampu membangkitkan kesadaran akan pentingnya demokrasi dan sejarah. Laut Bercerita menyampaikan kritik sosial dan keluh kesah generasi muda dengan cara yang halus namun tajam.

    Novel ini juga berhasil membuat saya semakin tertarik pada sejarah, terutama mengenai penderitaan dan perjuangan aktivis pada masa lalu.

    Karya ini tidak hanya layak dibaca, tetapi juga penting sebagai pengingat sejarah yang kerap dilupakan. Bahkan, kisah nyata mengenai tragedi tersebut nyaris terhapus dari ingatan kolektif bangsa. Meski bergenre fiksi, Laut Bercerita didasarkan pada fakta sejarah nyata.

    Pada tahun 1998, setidaknya 13 aktivis pro-demokrasi diculik dan tidak pernah kembali. Tragedi inilah yang menjadi inspirasi utama dalam penulisan novel ini.

    Baca juga: Review Novel Risalah Teh dan Tiga Keluarga Karya Artie Ahmad

    Laut Bercerita Menolak Lupa

    Novelis Leila S. Chudori (Wikipedia)

    Saat saya mulai membaca novel ini, saya ikut merasakan kesedihan yang dialami olehAsmara Jati. Saya seolah dibawa ke dimensi waktu yang berbeda dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh Asmara jati, sakit yang entah apa obatnya dan rindu yang kian menusuk jantung.

    Laut Bercerita bukan sekadar karya fiksi, tapi sebuah karya sastra yang seolah berteriak: “Kita bukan anak yang buta akan sejarah.” Novel ini sangat layak dibaca oleh siapa saja, karena mampu membuka mata pembaca tentang sisi kelam sejarah Indonesia yang jarang diajarkan di bangku sekolah.

    “Matilah engkau, mati, kau akan lahir berkali-kali.”

    Kutipan di atas merupakan kutipan dari Leila S. Chudori yang berhasil membuat pembaca ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Biru. Kalimat tersebut seolah mengartikan perjuangan untuk mendapat keadilan yang tidak akan pernah mati dan akan terus terlahir kembali.

    Leila S. Chudori sangat hebat dalam membawakan isu yang berat, seperti pelanggaran hak asasi manusia, dengan cara yang menyentuh dan mendalam. Dengan penggunaan bahasa Indonesia yang rapi dan terstruktur, ia berhasil membuat pembaca larut dalam kisah, merenung, bahkan tersentuh secara emosional.

    Dampak yang saya rasakan secara pribadi adalah tumbuhnya rasa penasaran yang semakin besar terhadap sejarah. Rasanya seperti membuka pintu ke dunia yang selama ini tersembunyi. Saya ingin menyelami lebih dalam, memahami kisah-kisah yang belum pernah saya pelajari, karena sejarah itu luas seperti samudra—penuh misteri dan makna yang menunggu untuk ditemukan.

    Leila S. Chudori tidak hanya menulis Laut Bercerita, tapi juga banyak karya lain yang tak kalah populer di kalangan remaja, seperti Namaku Alam, Pulang, Malam Terakhir, dan lainnya. Novel-novel yang ditulis olehnya memiliki detail yang menarik dan riset yang sangat teliti.

    Menurut Wikipedia, sejak tahun 1989 hingga kini, Leila s. choudori bekerja sebagai wartawan majalah Tempo. Hal itu pula yang membuat karya-karyanya berdasar pada riset yang kuat dan mendalam. Novel Laut Bercerita juga berhasil memenangkan penghargaan sebagai karya sastra berbahasa Indonesia yang memiliki mutu tinggi Pada penghargaan Prose Fiction 2018 dari Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA).

    Share Artikel Ini

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Artikel Lainnya