Tingkah Menyebalkan Alumni Bootcamp yang Bikin Pembelajar Otodidak Tidak Habis PIkir
Tingkah menyebalkan alumni bootcamp

Belajar itu perjalanan panjang, bukan sekadar lulus dari pelatihan singkat lantas merasa sudah pantas mendapat segalanya.

Bootcamp menjadi jalan ninja bagi banyak orang yang ingin berkarier di dunia digital, seperti programming, desain, hingga digital marketing. Ketika banyak orang merasa kuliah terlalu lama dan belajar otodidak terlalu berliku, bootcamp datang menawarkan solusi instan: pelatihan intensif selama tiga sampai enam bulan, kurikulum kekinian, mentor berpengalaman, dan job connector atau penyaluran kerja.

Banyak alumni yang memulai bootcamp dari nol pengetahuan, tapi berhasil mendapat pekerjaan di perusahaan ternama setelahnya, bahkan ada yang gajinya melejit berkali lipat. Definisi from zero to hero. Siapa yang tidak tergiur?

Sayangnya, tidak semua orang bisa menikmati kemewahan itu. Termasuk saya, karena tidak sanggup membayar biaya bootcamp yang setara satu semester kuliah di universitas swasta. Jalan satu-satunya adalah menjadi pembelajar otodidak dengan sumber gratisan dari YouTube, artikel blog, dan praktik tipis-tipis. Makanya, bootcamp memiliki citra yang baik di mata saya. Sampai akhirnya, saya mendapati beberapa oknum alumni bootcamp yang tingkahnya, maaf, cukup menyebalkan dan ingin saya lempari sandal.

Disclaimer: Tidak semua alumni bootcamp seperti ini. Hanya oknum-oknum tertentu yang pernah saya temui.

Mendadak Jadi Si Paling Expert

Salah satu tingkah menyebalkan yang sering saya temui adalah alumni bootcamp yang baru lulus, bahkan belum kerja di mana-mana, tapi sudah berani menyematkan gelar “expert” di profil LinkedIn.

Mendadak Jadi Si Paling Expert - Tingkah Menyebalkan Alumni Bootcamp
Sumber: unsplash.com/huntersrace

Belum genap tiga bulan belajar digital marketing, langsung menyebut diri sebagai “Growth Marketing Specialist”. Baru selesai project guided class UI/UX, langsung meng-klaim diri sebagai “Product Design Expert”. Ada pula yang menyematkan titel “Mentor” bahkan “Consultant”, padahal belum ada track record mentoring atau konsultasi ke perusahaan manapun.

Semangat mereka memang patut diapresiasi. Tapi, kalau branding-nya kelewatan, justru akan jadi bumerang. Ngakunya Growth Marketing Specialist, tapi begitu diuji rekruter ternyata masih bingung membedakan customer dan consumer. Nah lho? 

Percayalah, menyebut diri sedang belajar dan tertarik pada bidang tertentu itu jauh lebih baik. Nyatanya dunia kerja lebih butuh kerendahan hati untuk terus belajar dibanding embel-embel “expert” instan.

Merasa Overqualified Ketika Ditolak Atau Di-ghosting Rekruter

Proses mencari kerja memang tidak mudah, bahkan lulusan universitas ternama juga mengalaminya. Tapi, ada alumni bootcamp yang begitu lulus langsung kirim CV ke sana-sini, lalu marah-marah ketika ditolak atau di-ghosting.

Merasa Overqualified - Tingkah Menyebalkan Alumni Bootcamp
Sumber: unsplash.com/carlosgil83

“Kayaknya aku overqualified deh, makanya nggak dipanggil.”

Jujur, saya kaget saat tahu ada alumni bootcamp yang berpikir demikian. Hahaha.

Padahal–setahu saya–dalam dunia rekrutmen, overqualified alias dianggap “kegedean ilmu” untuk posisi yang dilamar, bukan berarti akan auto-diterima karena saking canggihnya. Justru, sering jadi lampu merah. Perusahaan khawatir kandidat seperti ini akan menuntut gaji selangit, sulit diarahkan karena merasa sudah tahu segalanya, dan mudah bosan sehingga cepat resign.

Dan hal penting yang sering dilupakan: CV dan portofolio bukan satu-satunya faktor penentu. Sikap, komunikasi, hingga kemampuan kerja tim juga jadi penentu akhir. Jadi, ditolak bukan berarti terlalu hebat, mungkin… ya memang belum berjodoh saja.

Menyalahkan Fasilitas Bootcamp Karena Tidak Kunjung Mendapat Pekerjaan

Salah satu daya jual utama bootcamp adalah fasilitas job connector. Dalam iklannya, fasilitas ini dibingkai seolah-olah peserta cukup lulus dari bootcamp, lalu akan langsung diterima kerja. Di titik ini, wajar jika peserta merasa punya “jaminan masa depan”.

Sayangnya, beberapa oknum jadi terlalu santai. Mereka tidak belajar lebih jauh dan tidak mengasah soft skill karena merasa cukup hanya dengan lulus bootcamp. Akhirnya mereka tidak siap menghadapi realita: tes teknikal yang sulit, interview yang menantang, dan kompetitor yang lebih kuat.

Menyalahkan Fasilitas Bootcamp - Tingkah Menyebalkan Alumni Bootcamp
Sumber: unsplash.com/smalezan

Begitu belum dapat kerja, langsung playing victim. “Katanya ada job connector, kok aku nggak dipanggil-panggil?”

Wahai para oknum, sesungguhnya fasilitas job connector hanyalah penghubung dan alat bantu akses, bukan jaminan lolos. Penyelenggara bootcamp bukan orang dalam perusahaan, bukan juga calo kerja. Kalau hasilnya belum sesuai, mungkin belum rezekinya, atau mungkin memang perlu belajar lagi.

Berkoar-koar Akan Hidup Mapan, Padahal Bootcamp Belum Selesai

Fenomena ini paling sering ditemukan pada orang-orang yang belum memiliki pengalaman kerja, seperti mahasiswa dan fresh graduate. Dan menurut saya, oknum inilah yang paling lucu.

Baru ikut sesi bootcamp dua-tiga minggu, bio Instagram langsung penuh jargon seperti “On my way to financial freedom” atau “Bismillah, Front-End Engineer startup unicorn”. Di X, saya juga pernah menemukan cuitan yang agak kontroversial: “Nggak perlu gelar sarjana, cukup bootcamp biar bisa hidup enak”. Waduh.

Berkoar-koar Akan Hidup Mapan - Tingkah Menyebalkan Alumni Bootcamp
Sumber: unsplash.com/pampouks

Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya pernah bertemu oknum yang berani menjanjikan kehidupan mapan kepada calon pasangannya ketika proses perjodohan. Padahal bootcamp belum selesai dan kondisi oknum saat itu masih belum bekerja. Auto-speechless lah saya..

Tidak ada yang salah dengan optimisme. Tapi kalau terlalu dini diumbar ke mana-mana, jatuhnya jadi lucu sekaligus menyebalkan. Terlebih ketika orang-orang di sekitarnya sedang merangkak meniti karier perlahan. 

Lulus bootcamp bukan tujuan akhir, justru baru awal dari perjalanan karier. Karena yang menentukan kualitas bukan kelas intensif, tapi jam terbang, kemampuan kerjasama tim, menghadapi klien rewel, dan revisi berjilid-jilid. Kalau sudah semangat hidup mapan padahal portofolio masih template, itu namanya bukan optimis, tapi halu.

Kembali ke Disclaimer di Awal..

Tentu saja, tidak semua alumni bootcamp seperti ini. Banyak yang tetap rendah hati, terus belajar, dan membangun karier mereka dengan usaha nyata. Tapi, bagi pembelajar otodidak seperti saya, bertemu dengan oknum-oknum ini adalah pengalaman yang bikin geleng-geleng kepala.

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya