Bahaya Terlalu Banyak Konsumsi Konten, Bikin Tulisan Mandek?
Banyak Konsumsi Konten

Setiap ada konten viral di media sosial langsung gerak cepat dibaca dan dicari tahu saat itu. Konsumsi konten dengan beragam topik juga jadi santapan mata setiap hari. Mulai dari buku sampai konsumsi konten tips menulis nggak pernah ketinggalan untuk dilewati. Tapi sayang, ujung-ujungnya tulisan cuma jadi ide dan konsep semata.

Tenaga dan pikiran cuma habis buat nyari inspirasi dan ide konten tapi minim eksekusi. Padahal terlalu banyak baca mentah-mentah konten tanpa filter nggak selalu bikin kamu produktif. Malah bikin kondisi otak sulit memproses dan mengambil keputusan karena banyaknya konten yang masuk.

Untuk itu, penting bagi kamu untuk mengenali situasi ini. Jangan sampai ingin produktif tapi akhirnya malah bikin otak kelebihan informasi. Yuk, kenali dampak masalah ini dalam proses menulis. Simak ulasan di bawah ini, ya!

Baca juga: 5 Alasan Harus Segera Mulai Menulis, Sampai Nyesel!

Hilang Fokus Saat Mulai Menulis

Konten yang sudah terlalu banyak masuk ke otak bukan menjadi inspirasi malah bikin pikiran bercabang. Padahal, awalnya kita mengira kalau semakin banyak bahan bacaan semakin banyak inspirasi yang didapat. Tapi ternyata salah, saat mulai menulis ide malah sulit untuk dikembangkan karena pikiran sudah terlanjur kemana-mana.

Pertama mulai menulis satu paragraf tapi langsung ingat tips menulis dari kreator A, tips menulis dari kreator B. Dampaknya? Pikiran langsung bercabang dan bingung mau mulai perbaiki tulisan dari mana. Akhirnya tulisan mandek dan merasa tulisan masih salah terus karena kepikiran tips dari beberapa kreator.

Lebih Banyak Riset, Tapi Minim Aksi

Riset ide dan isi konten secara mendalam nggak ada salahnya. Tapi terlalu mendalami peran saat riset justru bikin waktu kamu semakin terbuang. Saat baca topik tertentu untuk isi tulisan selalu merasa risetnya belum cukup.

Ujung-ujungnya waktu terbuang sia-sia. Waktu berjam-jam habis hanya untuk mencari informasi daripada mulai menulis meskipun hanya satu kalimat. Coba ubah caranya, setelah baca satu topik langsung saja mulai menulis meskipun cuma satu kalimat. Hilangkan sumber bacaan lain dan fokus terlebih dahulu ke satu sumber.

Perfeksionis: Selalu Merasa Tulisan Kurang dari Segi Apapun

Baru selesai menulis satu paragraf langsung overthinking, “Tulisanku udah bagus belum, ya?”. Kadang juga muncul pikiran, “Kok tulisan si A lebih bagus, ya, dibanding tulisanku sendiri”?. Meskipun terlihat seperti bahan evaluasi tapi kalau terjadi secara terus menerus justru bakal jadi bom waktu untuk kamu sendiri. Selalu merasa tulisan sendiri nggak sempurna akhirnya malah bikin kamu terjebak dalam situasi buntu.

Membandingkan tulisan sendiri dengan karya orang lain pasti nggak akan ada habisnya. Akhirnya malah takut hasil karya terlihat jelek, nggak layak dan malah bikin nggak jadi menulis. Sisi emosional pun terkena imbasnya, rasa percaya diri berkurang dan semangat menulis semakin menurun.

Langsung Bosan, Padahal Tulisan Masih Sebatas Draft

Otak rasanya sudah mulai lelah karena banyaknya konten yang masuk. Energi dan emosi sudah habis duluan sebelum karya rampung. Rasa bosan menghantui padahal baru selesai menulis satu paragraf. Terkadang baru nulis satu kalimat sudah mulai kepikiran topik lain. Padahal satu ide belum terlihat hasilnya tapi ide lain sudah terlanjur bermunculan.

Akibatnya ritme tulisan terganggu, rasa semangat menulis satu topik jadi kabur. Terlintas ide topik lain malah merasa kalau topik selain yang ditulis saat ini lebih bagus. Akhirnya tulisan terbengkalai padahal sudah setengah jalan. Draft hasil tulisan banyak tapi yang selesai sangat sedikit.

Yuk, saatnya saring semua konten yang berseliweran biar kita tetap fokus. Memang nggak ada salahnya banyak membaca terlebih lewat media digital yang semakin memudahkan.

Tapi alangkah baiknya kalau kita dapat mengelola semua konten yang muncul dengan lebih bijak. Jagalah keseimbangan antara menulis dan membaca. Meskipun rasanya sulit, justru ini menjadi tantangan buat para penulis.

Sekarang mari kita mulai secara perlahan-lahan dengan membatasi konten yang masuk. Mari kita pilah dan pilih mana yang perlu dibaca dan mana yang perlu dilewati.

Referensi:

Munawaroh, M. (2021). DIGITAL FATIGUE BAGI KESEHATAN FISIK DAN MENTAL (Studi Fenomenologi pada Guru di Kabupaten Lamongan). Dar El-Ilmi : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora, 8(2), 79-95. https://doi.org/https://doi.org/10.52166/darelilmi.v8i2.2827

Lesley University. Why brain overload happens. Diakses dari https://lesley.edu/article/why-brain-overload-happens/

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya