Tak Kuteteskan Air Mataku di Keningmu

“Awas …”

“Lari …. Lari ….. Lari ….”

“Ibu … Ayah …”

Aku terbangun karena bisingnya suara teriakan warga kampung yang memekakkan telinga dan seketika kulihat Ibu lari menuju kamarku. “Adam! Ayo cepat keluar rumah” ujar Ibuku dengan tergopoh menarik lenganku agar segera beranjak dari kasur.

Ketika di luar rumah aku melihat air bercampur lumpur mulai menggenangi jalanan diiringi hujan yang sangat lebat terlihat pula kayu gelondongan terseret arus air lumpur. Aku baru menyadari sedang terjadi longsor dan banjir bandang di kampungku. “Ayah sama Tasya di mana?” Sembari berlari aku menanyakan keberadaan Ayah dan adik perempuanku kepada Ibu. Ibu tak terlalu memperhatikan pertanyaanku dan terus berlari mencari tempat aman.

Aku dan Ibu sudah sampai di rumah Pak Suryo tetanggaku yang memiliki dua lantai, kami menyelamatkan diri di lantai dua rumah. Banjir sudah hampir memenuhi lantai satu, ada enam orang yang mengungsi di rumah ini, Ibu, aku, Pak Suryo, Bu Surti—istri Pak Suryo, Dani dan adiknya Dinda.

Aku mengulang pertanyaanku kepada ibu—Ayah sempat berpamitan denganku saat ingin menjemput Tasya dari kerja kelompok. Ibu mengatakan “Enggak tahu, Dam, semoga mereka selamat,” dengan terbata-bata dan seketika memelukku. Tubuhnya bergetar hebat. Terlihat mata indahnya kini telah dipenuhi air mata. Aku membalas pelukan Ibu dan mencium keningnya.

Tiga hari sudah kami terjebak banjir lumpur yang dihiasi gelondongan kayu. Listrik mati selama tiga hari ini, setiap malam kami hanya melihat kegelapan total. Kami makan dan minum dari persediaan rumah Pak Suryo. Namun aku melihat persediaan minuman tidak akan cukup untuk satu hari ke depan.

Aku bingung harus berbuat apa, yang aku bisa hanyalah berdoa meminta keselamatan kepada Tuhan. Ibu selalu saja menangis dan aku hanya bisa memeluknya. Malam itu aku menatap langit indah penuh bintang seolah menghiburku yang penuh kesedihan.

Tiba-tiba awan menutupi seluruh bintang. Hujan lebat kembali mengguyur. Sempat aku berpikir untuk menghanyutkan diri saja bersama gelondongan kayu yang terbawa arus. Tapi bagaimana dengan Ibu? Apakah Ibu bisa bertahan tanpa diriku? Ayah dan Tasya? Kuharap mereka baik-baik saja.

Satu hari berlalu dan kami mulai mengambil air banjir menggunakan ember yang dikaitkan tali “rumput jepang”. Kami meminum air banjir yang keruh agar tetap terhidrasi. Persediaan makanan masih ada meskipun sedikit. Kami selalu membaginya sedikit-sedikit, seperti satu bungkus roti dibagi untuk tiga orang.

Setiap malam yang sangat gelap itu aku merenungi di mana Ayah dan adikku. Ibu yang tak kuasa menahan rindu dan takut kehilangan selalu menangis setiap hari. Dani menenangkan adiknya yang menangis karena kehilangan jejak ayah dan ibunya. Bu Surti tampak trauma dan selalu ingin di samping Pak Suryo. Semuanya terpukul akan bencana hebat ini.

Aku mencoba menghibur si kecil Dinda dengan memberi tebak-tebakan yang asyik. Namun tetap saja Dinda tampak tidak terhibur dan trauma. Aku mencoba berbincang dengan Pak Suryo. ”Bagaimana bila kita terjebak sampai tak bisa bertahan lagi, Pak?” kataku dengan menatap mata Pak Suryo. “Kita bisa bertahan! Berdoalah agar semua terselamatkan” Pak Suryo berkata dengan suara beratnya sembari menepuk pundakku.

“Tolong … Tolong …”

“Abang … Tolong …”

Aku terbangun karena mimpiku yang sungguh mengerikkan. Samar-samar suara yah dan Tasya yang berteriak meminta tolong dan menyebut namaku. Kuharap suara itu bukan suara mereka.

Kulihat ibu sepertinya kedinginan karena hawa dingin malam ini sungguh menusuk tulang ditambah hujan lebat yang tak menunjukkan keinginannya untuk berhenti. Aku mengambil kantong plastik merah di atas lemari, merobeknya agar menjadi lebar untuk menyelimuti kaki ibu.

Kembali aku menatap ke arah luar. “Wahai alam, apakah kau bisa melihat betapa kami merasa tersiksa? Siapakah yang membuatmu murka hingga meleburkan ketenangan kami?” ucapku dalam hati. “Tuhan, beri kami keselamatan dan kumohon turunkan curah hujan yang sangat lebat ini.” Tak lama aku mengucapkan permohonanku, hujan perlahan mereda.

Siang harinya aku lihat dari balkon tim evakuasi menyusuri kampung yang terendam banjir dengan perahu karet. Aku melambaikan tangan dan berteriak sekencang yang aku bisa. Mereka melihat ke arah rumah kami dan mulai menghampiri. Ternyata perahu karet itu sudah penuh dengan korban bencana seperti kami, hanya tersisa sedikit ruang. Pak Suryo menyarankan agar aku dan ibu untuk diselamatkan terlebih dahulu, namun aku menolak dan menyuruh Dani dan Dinda untuk menaiki perahu karet itu. Setelah Dani dan Dinda menaiki perahu itu, tim evakuasi mengatakan bahwa sore nanti akan ada tim evakuasi lain datang untuk menjemput kami.

Sinar senja pun tiba. Kami menanti di balkon dan bersiap. Kami telah diberi sedikit harapan dan merasa sedikit tenang dengan kabar akan datang tim evakuasi. Namun, setelah lama kami menunggu, tak ada tanda-tanda tim evakuasi yang datang menjemput kami.

Dan hingga malam datang hujan kembali turun, aku pun kembali merasa putus asa. Kembali aku teringat mimpiku, apakah ayah dan Tasya telah ditelan arus banjir yang sangat deras itu? Sungguh aku tak ingin hal itu terjadi. Aku melihat ibu yang kini telah tidur meringkuk. Betapa hancur hati ibu. Aku menghampiri ibu dan tidur di sampingnya lalu memeluk tubuh yang sedang hancur ini.

Pagi hari aku merasa haus dan meminum air yang tak layak minum. Satu bungkus roti kini bisa dibagi untuk dua orang, aku dan ibu berbagi roti coklat sembari menanti tim evakuasi di atas balkon. Pak Suryo dan Bu Surti menyiapkan kain dan tongkat jemuran untuk dikibarkan agar terlihat para tim evakuasi.

Kami bertanya-tanya apakah mereka akan datang atau tidak. Kami sudah letih menanti ketidakpastian ini. Harapan kami masih tinggi untuk selamat, karena mendapat kabar akan ada tim evakuasi menjemput. Namun hingga sore hari pertolongan itu tak kunjung tiba lagi.

Kini satu minggu sudah kami menunggu. Persediaan makanan telah habis tiga hari lalu, kami hanya bertahan dengan meminum air keruh ini. Ibu sudah mulai lemas karena tidak makan selama tiga hari ini dan hanya minum air banjir. Aku kembali merasa putus asa. “Adam, jangan pernah kamu sesekali merasa putus asa.” Tiba-tiba dari belakangku Pak Suryo menepuk pundakku. “Siapa yang akan menguatkan ibumu bila kamu sendiri tidak cukup kuat? Kamu harus percaya dengan keajaiban di kondisi seperti ini” aku melihat ke arah Pak Suryo dan seketika air mataku tumpah. Pak Suryo memelukku selaik anak sendiri. Aku membalas pelukan Pak Suryo dan tubuhku bergetar hebat.

Ibu masih tertidur di sudut ruangan. Langit kini sudah mulai cerah. Bu Surti tampak sangat lelah menyenderkan kepalanya di pundak Pak Suryo. Kembali aku melihat ke luar balkon dan menanti keajaiban.

Kini langit memberiku secercah harapan akan keajaiban yang akan datang. Ibu sudah terbangun dari tidurnya. Pak Suryo bersiap denganku di atas balkon. Tampak ibu dan Bu Surti berbincang di belakang kami.

Sore hari akhirnya kulihat perahu karet yang sangat kami nantikan. Aku mengibarkan kain yang dirakit Pak Suryo dan istrinya. Akhirnya mereka melihat ke arah kami dan melajukan perahunya. Kami bersyukur atas kedatangan mereka. Dan kini aku telah sedikit percaya keajaiban itu. Namun bagaimana kabar ayah dan Tasya?

Di perjalanan menuju pos pengungsian aku melihat di sela-sela kayu yang mengambang ada sesosok tubuh yang memucat. Bau busuk bangkai berbaur dengan udara. Sungguh penuh pilu perjalanan ini.

Sesampainya di pos pengungsian aku dan ibu berpisah dengan Pak Suryo dan Bu Surti seraya mengatakan terima kasih kepada mereka berdua yang telah menampung aku dan ibu.

Aku berlari menuju anggota tim evakuasi dan menanyakan apakah mereka telah menemukan Ayah dan adikku. Mereka bilang tunggu dan sabar. Bagaimana aku bisa sabar dengan ketidakpastian ini?

Ibu yang tak sabar menarik-narik tangan pria evakuasi itu. Dengan tangisan yang deras ia mengatakan, “Di mana Suami dan anak gadisku?” Sungguh aku tak kuasa melihat ibuku yang sangat histeris menarik-narik lengan pria itu. Aku memeluk ibu yang masih saja menangis. Merasakan tangis ibu di pelukanku sungguh menyayat hati.

“Aji Cholil Anwar, dan adikku Tasya Elia Syafira” ujarku setelah ditanya nama Ayah dan adikku. Mereka mencatatnya di berkas korban yang belum ditemukan. Ibu telah kuantar ke tenda buatan warga yang dari alat seadanya seperti terpal dan besi jemuran.

Tampak olehku begitu banyak korban di penampungan darurat ini. Namun aku melihat tim evakuasi yang jumlahnya hanya segelintir orang. Mungkin ini penyebab lambatnya penyelamatan kami berempat. Terlihat juga korban yang ikut serta menjadi relawan. Sungguh ada apa yang terjadi di dunia ini? Negeri ini?

Satu minggu sudah aku dan Ibu berada di tempat pengungsian, dan tetap saja aku belum mendengar kabar Ayah dan adikku. Ibuku mulai batuk-batuk karena meminum air banjir yang dicampur serbuk teh agar wangi. “Pak, kapan kita mendapat bantuan? Setidaknya air bersih,” ucapku kepada relawan. “Sabar ya, akses jalan terputus karena jembatan hancur, logistik bantuan belum bisa sampai sini,” balasnya.

Mengapa bantuan begitu lambat? Bila tidak bisa jalur darat, mengapa tidak jalur udara saja? Apakah mereka tahu bahwa kami terjebak selama ini? Apakah mereka peduli dengan keadaan kami?

Kembali aku melihat Pak Suryo. “Sabar, berdoa saja agar bantuan cepat datang,” ia menepuk pelan pundakku. “Iya, Pak, semoga saja cepat datang, biar ibu tidak batuk-batuk lagi,” jawabku murung. Aku mengajak Pak Suryo untuk mengunjungi tendaku. Pak Suryo mengiyakan ajakanku dan mulai berjalan menuju tenda.

Saat aku kembali ke tenda, aku melihat ibu sedang batuk parah. Aku melihat dahaknya bercampur darah. “PAKKKK! TOLONG …”, teriakku panik. Tim medis gegas mendatangi ibu. Aku mendengar batuk ibu yang sungguh menyiksa itu, air mataku sudah tak bisa terbendung lagi. Pak Suryo merangkul pundakku dan menyuruhku untuk berdoa meminta hasil yang terbaik kepada Tuhan. Setelah suara batuk itu menghilang melihat ibu sudah mulai tidur tenang, perlahan aku mendekat pada ibu yang terbaring dan berlumur darah. Aku mencium keningnya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mata di wajahnya.

Penulis: Gading Firdaus Ola

Editor& Ilustrator: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya