Standar Cantik di Media Sosial dan Dampaknya bagi Perempuan Muda

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari saya membuka Instagram, TikTok, atau platform lainnya untuk melihat informasi, hiburan, maupun aktivitas orang lain. Namun, tanpa disadari, media sosial juga membuat saya sering membandingkan diri dengan perempuan lain yang terlihat cantik dan sempurna di layar.

Saya sebenarnya tidak merasa memiliki kekurangan yang besar pada penampilan saya. Akan tetapi, ketika melihat banyak perempuan di media sosial dengan kulit putih, wajah mulus, dan penampilan yang dianggap ideal, saya mulai merasa ingin menjadi seperti mereka. Tanpa sadar, saya mulai berpikir bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang memiliki penampilan seperti yang sering muncul di media sosial.

Saya pernah menggunakan filter ketika mengambil foto atau mengunggah cerita di media sosial. Awalnya saya merasa lebih percaya diri karena wajah terlihat lebih cerah dan halus. Namun, lama-kelamaan saya justru merasa tidak nyaman karena penampilan di layar berbeda dengan diri saya yang sebenarnya. Saya merasa seolah-olah harus menjadi orang lain agar terlihat cantik di media sosial.

Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap cara perempuan muda memandang dirinya sendiri. Banyak perempuan akhirnya membandingkan diri mereka dengan standar kecantikan yang terus ditampilkan setiap hari. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan karena banyak foto yang menggunakan filter, editan, atau pencahayaan tertentu.

Menurut saya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat memandang perempuan. Sejak lama perempuan sering dinilai dari wajah, warna kulit, bentuk tubuh, dan penampilannya. Sementara itu, kemampuan, prestasi, dan kepribadian terkadang kurang mendapatkan perhatian yang sama. Akibatnya, banyak perempuan merasa harus memenuhi standar tertentu agar diterima dan dianggap menarik.

Standar kecantikan yang berkembang di media sosial juga menunjukkan adanya tekanan yang lebih besar kepada perempuan. Kulit putih, tubuh ideal, dan wajah yang dianggap sempurna sering dijadikan ukuran kecantikan. Padahal setiap perempuan memiliki warna kulit, bentuk tubuh, dan karakter yang berbeda. Ketika hanya satu standar yang dianggap ideal, banyak perempuan muda yang akhirnya merasa kurang percaya diri terhadap dirinya sendiri.

Dalam sudut pandang gender, perempuan sering mendapatkan tuntutan untuk selalu tampil menarik dan menjaga penampilan. Tekanan tersebut tidak selalu dirasakan sama oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa standar kecantikan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus memenuhi harapan tertentu.

Pengalaman yang saya alami membuat saya belajar bahwa cantik tidak seharusnya ditentukan oleh media sosial. Keinginan untuk memiliki kulit yang lebih putih atau penampilan yang sempurna muncul karena saya terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kecantikannya masing-masing.

Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, bukan tempat yang membuat seseorang merasa kurang berharga. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak menjadikan standar kecantikan di internet sebagai ukuran nilai diri seseorang. Saya berharap semakin banyak perempuan yang berani menerima dirinya sendiri dan menyadari bahwa cantik tidak hanya memiliki satu bentuk atau satu warna kulit saja.

Daftar Pustaka

Dewi Indriani, A. R., Aini, D. K., & Ikhrom. (2025). Pengaruh Influencer Kecantikan terhadap Ketidakpuasan Citra Tubuh pada Perempuan. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(4), 5113–5120.

Millenia, Z., & Hidayat, T. W. (2025). Dampak Penggunaan Filter Instagram dan Tiktok terhadap Citra Diri, Terutama bagi Wanita. Jurnal Ilmu Pemerintahan, Administrasi Publik, Ilmu Komunikasi (JIPIKOM), 7(2), 144–150.

Purwaningtyas, F. D., Putri, F. O. M., & Arifah, Z. (2025). Dampak standar kecantikan terhadap kepercayaan diri remaja di Indonesia. Journal of Gender Equality and Social Inclusion (GESI), 4(2).

Musyarrifani, N. I. (2022). Pengaruh citra tubuh terhadap budaya konsumsi pada perempuan. SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities, 6(1), 67–79.

Putri, N. U., & Ayriza, Y. (2026). Negosiasi citra diri dan standar kecantikan: Dinamika sosial dalam pertemanan remaja. Psyche: Jurnal Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, 8(1), 140–155. 

Penulis: Khairani Elaysi

Editor: Hamimie

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya