Minggu, 8 Maret 2026 pada siang hari tepatnya di Kampung Dupak Bangunrejo, Surabaya telah diselenggarakan sebuah kegiatan yang berhasil menarik perhatian dari para masyarakat Kota Surabaya.
Kegiatan tersebut adalah Mbangunredjo Art Festival, sebuah pagelaran seni budaya yang sudah berdiri sejak tahun 2014 yang berlokasi di Kampung Dupak Bangunrejo. Festival ini diprakarsai oleh Sanggar Omah Nduwur sebagai upaya untuk memberikan citra yang positif dari Kampung Dupak Bangunrejo kepada seluruh masyarakat Surabaya.

Dengan tema festival pada tahun ini yaitu Berakar Untuk Tumbuh membuat Mbangunredjo Art Festival sukses besar dalam mengajak masyarakat untuk menyaksikan berbagai penampilan kreasi yang kreatif dan menarik yang disajikan oleh para performer dari berbagai kalangan usia dan daerah yang berbeda – beda.
Salah satu performer tersebut adalah seorang pemuda bernama Muhammad Shofi Wahyudi yang berasal dari Kota Gresik, Jawa Timur. Berbekal keahliannya dalam bidang seni teater, Shofi berhasil menampilkan sebuah drama monolog dengan judul Sesudahmu Sesudahku.

Dengan berbagai aksi memukau yang ditampilkan melalui dramanya, Shofi membuat dirinya menjadi pusat perhatian penonton dan para warga yang berlalu lalang melewati festival tersebut. Terutama ketika Shofi memasukkan 2 ekor burung pipit ke dalam mulutnya, sontak membuat penonton pun terkejut sekaligus kagum dengan apa yang telah Shofi lakukan.
“Saya menempatkan diri sebagai sosok anak kecil dan orang dewasa, nah burung sendiri itu saya menempatkan sebagai kebebasan, stigma yang mengikat itu harus dibebaskan saat (burung) keluar dari mulut itu harus dibebaskan. Seperti kita bebas memilih jalan yang kita pilih sendiri seperti burung – burung.”
Mohammad Shofi Wahyudi salah satu performer yang pertama kali tampil sepanjang karirnya pada Mbangunredjo Art Festival menyatakan makna yang tersirat dalam drama monolognya kepada seluruh penonton tentang keberlanjutan hidup masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik dan berkreasi, dengan meninggalkan stigma yang sudah terikat lama dalam ruang lingkup Kampung Dupak Bangunredjo.
Penulis: Risky Ardian
*Artikel ini ditulis oleh Risky Ardian anggota Ekstrakurikuler Jurnalistik SMKN 1 Surabaya dalam rangka pelatihan liputan ruang publik bersama tim MenulisID.
Baca Juga: Lewat Performance Art, Mbangunredjo Art Festival Hidupkan Ruang Ekspresi Masyarakat
