Sepucuk Surat di Bawah Pohon Jati

Berlarian diantara jalan sempit dengan kaki polosnya, menghantam kasarnya jalanan hingga tawanya mengudara tanpa beban. Jio masih menyukainya. Hanya sapu sang ibu yang menjadi penghalangnya. Namun, Jio masih menyukainya. Menikmati kue-kue pasar yang masih diperdagangkan saat masih hangat-hangatnya pada pagi buta. Jio masih menyukai segalanya.

“Satu…. Dua…. Tiga…,” bibir mungil itu gemetaran. Berjalan sempoyongan tak tau tujuan. Kaki mungilnya tetap berjalan. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Layang-layang nyaris koyak ia peluk teramat eratnya bagai satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki sekarang. Bibir mungilnya tak berhenti asal merapal selah sedang memanjatkan doa. Jio membencinya sekarang. Memikul segudang kekecewaan dipunggung mungilnya.

“Sepuluh… Sebelas… Dua belas…” Jari-jarinya terkepal, amarahnya yang tak bisa ia salurkan. Bibirnya bungkam, perasaanya terpendam, tak bisa ia ungkapkan. Telapak kakinnya membawa harap yang tak tersampaikan dengan benar. 

“Buk! Jio kalau sudah dewasa mau seperti Bang Haryo, ya!”  Begitu panggilannya pada abang kesayangannya. Panutannya. Super hero-nya. Impian kecilnya yang selalu bangga ia ceritakan pada banyak orang. “Bang Haryo ini,” “Bang Haryo itu,” begitu rapalnya untuk sang kebanggaanya. Pun semua orang turut membanggakannya. Pria berseragam dengan pistol dipinggangnya, yang nyaris dibicarakan hangat setiap harinya.

Semua orang datang, memeluk hangat, memberikan perhatian asing yang tidak banyak disadari sebelumnya. Berkata manis dan diagungkan setinggi mungkin bagai Pangeran istana. Dan Jio menyukainya.

“Jio kalau sudah besar ingin sekeren Abang. Biar banyak yang sayang sama.”

Pada setiap ulang tahunnya, doa yang sama ia langitkan. Laki-laki bertubuh mungil itu selalu merayu Tuhannya dalam setiap keinginannya.

Satu.

“Berapa kali Ibukmu bilang!”

Satu cambukan melayang pada tubuh mungilnya, teriakan-teriakan dan segala makian kasar lainnya seolah tak cukup untuk melampiaskan amarah sang Ibu. Bahakan ketika bocah mungil itu berkali-kali memohon ampun, cambukan itu tak lekas dihentikan. Tubuh mungil Jio bergetar ketakukan. Namun kakinya berperan bagai penyangga kokoh yang tak lekas pula tumbang.

Dua.

“Jangan bermimpi seperti Abang-mu. Kamu berbeda! Tidak usah berandai-andai! Ibukmu tidak sudi membiayaimu! Bantu Ibukmu! Tidak perlu Sekolah”

Tiga.

Bocah mungil itu sadar, ini bukan kali pertama sang Ibu mencambuknya. Mencacinya. Namun ia merasakan sesuatu hal asing menembus hatinya. Jio dihukum jika ia nakal. Jika ia pulang terlalu malam atau ketika ia tak membantu Ibunya bekerja. Namun kali ini, bocah itu dihukum karena mimpinya. Karena terlalu cepat bermimpi juga kesalahan untuknya.

Empat.

Hitungannya yang terakhir meleset. “Persetan!” Bocah mungil itu ambruk. Memeluk kaki sang Ibu dengan lara yang tak kunjung mereda. Wajahnya pias, pucat pasi menatap pemandangan dihadapannya. Ia yakini, inilah akhir hidupnya setelah ini. Namun umpatan kosong itu terus menggema tanpa beban ditelinganya. Persetan juga pikirnya.  Bagaimanapun ini terlalu mengerikan. Hitungan terakhirnya kembali meleset. Pukulan itu kembali membabi buta. Bukan. Bukan untuknya.

Terkutuklah kau! Penjaja cinta yang kotor! Tubuhmu jijik untuk dikasihani. Tak ada harga kau hidup, penipu ulung!”

Kejut bocah itu setengah mati. Tangan mungilnya masih berusaha merengkuh sang Ibu. Seolah ialah penyelamat utusan Tuhan untuk menyelamatkan. “Matilah kalian! Taka ada harga kau hidup”

Itu teriakan Surinem. Wanita berkilau emas, sebutannya. Manusia setengah setan juga, katanya. “Anak haram, manusia hasil menjalang” begitu panggilannya. Caciannya meninggi membawa agama bagai orang paling suci yang pernah ada. Jio tersedu. Petangnya membawa sakit yang luar biasa. Rengkuhannya kian mengerat, seolah rengkuhannya bisa tetap menjaga ibunya disini.

Lima.

Semua orang membuta, mencaci, dan membodohi diri. Tangan-tangan hangat mereka yang dulu amat bocah itu sukai, kini bagai rantai yang menjerat habis bagai dipaksa mati. Menjerat sosok yang paling ia rengkuh, mengadili sesuka hati.

“Dia berselingkuh dengan suami saya! Dia penjaja cinta sesungguhnya.”

Jio tak mengerti hal disekelilingya. Namun ia mengerti satu hal, ia membenci semuanya. Suara-suara yang selalu berusaha ia hapal setiap harinya. Suara-suara menyenangkan banyak orang yang mengenalkannya untuk berani bermimpi seperti abangnya. Yang selalu memuja dengan lidah manis mereka, sedang mengadili seorang wanita paruh baya. Satu-satunya hartanya.

Ampun!… Ampun! Saya tidak melakukan apapun!”

Ibunya berteriak bagai kesurupan. Meminta adanya sedikit ampunan yang ia yakini tak kan pernah diberikan. “Ibuk! Ibuk!” Langkah mungilnya ia kayuh secepat mungkin, mencoba satu kali lagi peruntungannya. “Jangan pukuli ibuku! Lepaskan!”

Bocah itu berteriak sekuat tenaga. Ketakutannya semakin termakan oleh gelapnya rembulan. Laranya terlalu menyakitkan. “Bang Haryo, Bang Haryo”

Ibu, jika aku menukar nyawaku dengan segenggam permen gula oleh Tuhan apakah terlalu berlebihan?”  Itu katanya dulu namun sekarang ia bersumpah menukar nyawanya demi keselamatan sang Ibu.

“Dia berselingkuh dengan suami saya untuk membiyayai anaknya!”

Jegalan itu membuat tubuh kecilnya ambruk. Ia hancur dalam raungannya. Menatap hancur para manusia yang membawa jauh Ibunya. Kini, ia membenci segalanya. Para manusia bedebah dengan segala kepalsuan mereka. Dengan segala rumahnya yang dihancurkan, juga impiannya. Ia melebur, jauh, jatuh di bawah rindangnya pohon sepertiga malam. Meraung meminta adanya keadilan pada Tuhannya.

Bukankah ini  juga bentuk rayuan?

Penulis: Gisela Maharani
Editor: Zidansad
Gambar: Pinterest

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya