Sekoci Ingatan di Gang Buntu

Matahari Surabaya sama sekali tak pernah punya rasa kasihan. Pukul sepuluh pagi dan aspal di ujung gang sudah tampak bergetar karena uap panas yang keluar dari perut bumi. Arjuna menyeka keringat yang membanjiri keningnya dengan lengan kaos yang sudah mulai berubah warna menjadi kecokelatan akibat debu proyek. Di hadapannya, sebuah pintu kayu yang cat hijaunya sudah mengelupas dimakan usia berdiri kokoh, kontras dengan rumah-rumah di sekelilingnya yang sudah tak beratap, atau setidaknya sudah diberi tanda silang merah berukuran besar dengan cat semprot. 

Kampung ini seperti kerangka raksasa yang sedang dipreteli satu per satu organ tubuhnya. Di kejauhan, bunyi alat berat dari proyek apartemen mewah terdengar seperti detak jantung kota yang sedang terburu-buru menghapus masa lalunya. Suaranya bising, konstan, dan mendominasi udara yang biasanya riuh oleh suara anak-anak bermain bola plastik. 

“Mbah Ijul? Niki Arjuna, Mbah,” panggil Arjuna pelan. 

Tidak ada jawaban langsung. Arjuna mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Bau minyak kayu putih, tembakau, dan kertas lama langsung menyambut di hidungnya. Di dalam, rumah itu lebih mirip gudang barang antik daripada tempat tinggal. Rak-rak kayu penuh dengan tumpukan koran kuning, botol-botol sirup kaca dari zaman entah kapan, dan bingkai-bingkai foto hitam putih yang kacanya sudah buram oleh jamur. 

“Lapo, Jun? Pamit?” sebuah suara serak muncul dari balik tirai lusuh yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah. 

Mbah Ijul keluar dengan sarung kotak-kotak dan kaos dalam putih yang sudah menguning di bagian ketiak. Matanya yang merah menatap Arjuna tajam, tapi ada kehangatan yang tak bisa disembunyikan di balik kerutan wajahnya. Pria tua itu adalah sisa-sisa terakhir dari kejayaan kampung ini, seorang saksi hidup yang menolak untuk dikubur hidup-hidup oleh beton. 

“Inggih, Mbah. Barang-barang di kos sudah saya angkut semua. Besok kontraktor bilang jalannya mau ditutup total buat lewat alat berat. Saya harus pindah sekarang sebelum terjebak,” kata Arjuna, merasa sedikit bersalah. Dia hanyalah perantau dari Jawa Tengah yang baru dua tahun tinggal di sini demi kuliah, tapi rasanya seperti sedang meninggalkan rumah yang telah dia huni puluhan tahun. 

Mbah Ijul mendengus, lalu duduk di kursi rotannya yang mengeluarkan bunyi kriet panjang. “Wong-wong iku aneh, Jun. Jarene pembangunan. Tapi sing dibangun opo? Gedung duwur sing isine wong-wong sing gak tau sapa-sapaan? Sing dirubuhno iki dudu mung tembok, tapi nyowo.” 

Arjuna terdiam. Dia melihat sebuah pigura besar di atas meja jengki di sudut ruangan. Isinya bukan foto keluarga, melainkan sobekan koran tahun 1990-an tentang peresmian jembatan kecil di ujung kampung ini. Di pojok lain, ada sebuah radio tua yang sudah mati, dibungkus kain beludru dengan sangat hati-hati. 

“Kenapa Mbah masih simpan semua ini? Orang-orang lain sudah ambil uang ganti rugi, beli rumah baru di pinggiran yang lebih adem, atau masuk rusun yang katanya modern itu,” tanya Arjuna, mencoba memancing percakapan yang mungkin akan menjadi yang terakhir. 

Mbah Ijul menyalakan rokok klobotnya. Asapnya beraroma cengkeh yang kuat, memenuhi ruangan yang pengap. “Jun, ngrungokno yo. Kota iki koyok manungso. Nek memorine ilang, dheweke dadi edan. Aku dudu bertahan mergo omah iki apik. Aku bertahan mergo nek aku lungo, sopo sing eling nek ning kene tau ono tangisan bayi Bu Sumi sing saiki wis dadi direktur? Sopo sing eling nek ning kene tau ono rapat-rapat rahasia pas zaman penjajahan?” 

Mbah Ijul bangkit, gerakannya lambat tapi pasti. Dia mendekati sebuah lemari kaca besar di pojok ruangan. “Ayo, bantu aku. Iki abot.”

 Arjuna mendekat. Mereka berdua menurunkan sebuah peti kayu tua yang permukaannya sudah kasar. Saat dibuka, isinya membuat Arjuna tertegun. Isinya ribuan kertas kecil, tiket bus lama, bungkus rokok dari merek yang sudah bangkrut, hingga surat-surat cinta yang tulisannya sudah memudar dan kertasnya rapuh.

“Iki dudu sampah, Jun. Iki semacam barter kenangan. Saben wong sing arep pindah, tak jaluk ninggalno siji barang sing paling berkesan nggo dheweke ning kampung iki. Ben gak ilang.” 

Arjuna mengambil selembar foto polaroid yang sudah pucat. Foto seorang anak kecil sedang mandi di pancuran umum kampung dengan tawa lebar. “Ini dari siapa, Mbah?” 

“Iku Cak Dirman. Saiki wis dadi sopir taksi di kota seberang. Dheweke nangis pas masrahno foto iku. Jarene, mung ning pancuran iku dheweke ngeroso dadi cah cilik sing bebas, sakdurunge dadi wong diwasa sing dikejar-kejar setoran.” 

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan pintu depan. Seorang pria dengan kemeja rapi yang disetrika licin dan helm proyek putih turun dari mobil. Dia mengetuk pintu dengan gaya yang terlalu formal, seolah-olah kesopanan bisa menutupi niatnya. 

“Permisi, Pak Ijul. Saya dari pihak pengembang. Sesuai kesepakatan terakhir yang dikirimkan lewat surat resmi…” 

“Kesepakatan sopo? Aku gak tau tanda tangan!” potong Mbah Ijul dengan nada bicara yang tiba-tiba meledak. Suara aslinya sebagai orang Surabaya keluar dengan keras, tegas, dan tanpa basa-basi. “Sampeyan teko mrene nggowo kertas, aku ning kene nggowo nyowo. Gak iso dibayari nganggo duitmu sing sak koper iku!” 

Si pria berhelm putih itu menghela napas, menatap Arjuna seolah meminta bantuan untuk membujuk kakek tua yang keras kepala itu. Arjuna hanya membuang muka, pura-pura sibuk memeriksa kamera di tangannya. 

“Pak, daerah ini akan jadi pusat ekonomi baru. Kampung ini… ya, maaf, sudah tidak layak. Kumuh. Listrik sering mati kalau hujan. Kalau Pak Ijul pindah ke rusun, fasilitasnya lebih baik, ada petugas kebersihan, ada lift,” kata si petugas dengan nada tenang yang justru terasa menjadi menyakitkan. 

Mbah Ijul tertawa miris. “Kumuh jaremu? Pancen kumuh mergo gak tau diperhatikno. Jalanan dibarno rusak, got dibarno mampet ben wargane gak betah. Tapi ning kene, aku nek luwe mung perlu thothok pintu omah sebelah. Ning rusunmu sing resik iku, aku mati seminggu pun gak bakal ono sing weruh!” 

Setelah perdebatan sengit yang berujung pada pengusiran halus si petugas proyek, suasana rumah kembali sunyi. Hanya suara detak jam dinding kuno yang menemani mereka. Mbah Ijul tampak lelah. Bahunya merosot, beban tahun-tahun yang dia pikul seolah menumpuk seketika. 

“Jun,” panggilnya pelan. “Sampeyan cah pinter. Sampeyan kuliah desain, kan?”

 Arjuna mengangguk pelan. 

“Aku ngerti, omah iki bakalan rubuh. Mungkin sesuk, mungkin minggu ngarep. Aku wis tuwo, gak kuat nek kudu gelut terus karo buldozer. Tapi aku emoh kenangan iki dadi abu.” Mbah Ijul menatap peti kayunya. 

“Aku pengen nggawe barter karo sampeyan.” 

“Barter apa, Mbah?” 

“Aku kek’i kabeh cerito ning peti iki. Sampeyan fotoi, sampeyan tulis, sampeyan dadekno opo wae sing wong enom saiki seneng ndelok. Dadino barang digital, jarene ngono? Ben pas apartemen iku dadi, wong-wong sing manggon ning kono ngerti, nek ning ngisor kasur empuke, tau ono keringat karo air moto warga kampung sing luwih urip tinimbang tembok beton.” 

Arjuna merasakan tenggorokannya tercekat. Dia melihat ponsel pintarnya di saku. Selama ini dia hanya menggunakannya untuk memotret makanan atau tugas kuliah yang membosankan. Sekarang, benda kecil itu punya tugas yang jauh lebih mulia, menjadi sekoci bagi sejarah yang tidak tahu pastinya akan tenggelam. 

“Boleh, Mbah. Saya bantu. Semalam ini, kita selesaikan semuanya.” 

Malam itu, di bawah temaram lampu 15 watt yang bergoyang ditiup angin malam Surabaya yang lembap, Arjuna mulai bekerja. Dia mengatur cahaya menggunakan lampu belajar, meletakkan benda-benda itu satu per satu di atas kain putih polos, dan memotretnya dengan detail makro. Mbah Ijul duduk di sampingnya, menjadi narator bagi setiap benda yang difoto.

“Iki kancing klambine Pak RT sing ucul pas tawuran karo maling tahun ’95. Pak RT sing itu sing paling berani, saiki anake dadi polisi,” Mbah Ijul berkisah, matanya menerawang. 

“Iki bungkus permen soko cah wedok sing dadi rebutan pemuda se-kampung. Jenenge Sari. Saiki omahe wis dadi lapangan parkir ning sebelah kono.”

 Sambil Mbah Ijul cerita, saat itu pun Arjuna menyadari satu hal penting.

Masa lalu adalah hantu yang tidak mau mati, tapi kita sering lupa memberinya makan dengan cara menceritakannya kembali. Jika tidak ada yang mendengar, hantu itu akan benar-benar lenyap. 

Keesokan harinya, fajar menyingsing dengan warna jingga yang tampak kotor oleh debu konstruksi. Arjuna tidak langsung pergi setelah berpamitan dengan Mbah Ijul. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari kampung untuk terakhir kalinya. Tas punggungnya yang berat terasa seperti beban sejarah yang kini dia pikul. 

Dia melewati gang sempit yang dulunya adalah tempat favorit para bapak-bapak cangkrukan sambil minum kopi pahit. Kini, warung kopi itu tinggal lantai semen yang retak. Dia melihat sebuah dinding yang tersisa dari sebuah rumah, di sana masih ada gantungan baju yang menempel, seolah sang pemilik baru saja pergi beberapa menit yang lalu. 

Arjuna teringat kampung sebelah yang dijadikan “Kampung Wisata”. Di sana, dinding-dindingnya dicat warna-warni, ada lampu hias, dan banyak turis berfoto. Sementara di kampung ini, yang letaknya hanya terpisah beberapa blok, tidak ada cat warna-warni. Hanya ada debu dan kesepian. Arjuna merasa ini tidak adil. Mengapa sebuah kampung harus menjadi cantik dulu agar dianggap layak dipertahankan? Mengapa kampung yang menyimpan suara-suara marginal harus selalu kalah oleh derap kemajuan? 

Dia berhenti di depan sebuah pos kamling yang sudah reyot. Di sana ada coretan pilox “Tanah ini Milik Warga“. Coretan itu tampak seperti teriakan yang sudah serak. Arjuna mengambil ponselnya, memotret tulisan itu. Dia ingin setiap retakan di aspal, setiap sisa-sisa jemuran yang tertinggal, dan setiap bayangan bangunan yang hilang terekam dalam ingatannya. 

Dia melihat seorang ibu tua yang sedang mengumpulkan sisa-sisa kayu dari reruntuhan rumahnya. Matanya kosong. Arjuna mendekat, memberikan botol air minum yang dia bawa. 

“Pindah ke mana, Bu?” tanya Arjuna pelan. 

“Gak tau, Nak. Katanya ada rusun, tapi jauh dari tempat saya jualan kerupuk. Kalau di sini, semuanya dekat,” jawab ibu itu tanpa menoleh. 

Jawaban itu memukul Arjuna. Baginya dan pengembang, ini adalah soal perpindahan lokasi. Tapi bagi warga, ini adalah soal pemutusan urat nadi kehidupan. 

Arjuna kembali ke rumah Mbah Ijul untuk mengambil sisa barangnya yang tertinggal. Mbah Ijul sudah berdiri di ambang pintu. Di tangannya, dia memegang sebuah batu kecil yang halus. 

“Iki nggo sampeyan, Jun,” kata Mbah Ijul sambil menyerahkan batu itu. 

“Iki dudu sembarang watu. Iki watu soko pondasi omah iki sing paling jero. Gowoen. Ben sampeyan eling, nek adoh soko omah, sampeyan kudu duwe pondasi sing kuat.” 

Arjuna menerima batu itu, merasakannya di telapak tangannya. Dingin namun terasa padat. 

“Suwun yo, Le. Ati-ati ning dalan,” seru Mbah Ijul saat Arjuna mulai melangkah menjauh. 

Arjuna berjalan menembus debu proyek yang beterbangan ditiup angin kencang. Dia melewati papan iklan besar di ujung jalan yang menampilkan gambar apartemen mewah dengan slogan bercetak tebal “Hunian Modern untuk Masa Depan yang Cerah.” Di bawah papan itu, seorang anak kecil duduk beralaskan kardus, menatap buldozer yang mulai meraung. 

Arjuna tersenyum kecut. Dia tahu, di bawah kemewahan yang akan dibangun itu, ada sebuah kampung bayangan yang akan terus hidup dalam memorinya, dalam foto-fotonya, dan dalam setiap kata yang akan dia tulis nanti. 

Surabaya tetap panas, tetap berisik, dan tetap keras kepala. Sama seperti Mbah Ijul yang tetap memilih duduk di kursi rotannya saat alat berat mulai menyentuh pagar depannya. Dan Arjuna sadar, menjadi bagian dari kota ini bukan berarti kamu harus memiliki akta kelahiran di sini, tapi sejauh mana kamu mau ikut menjaga denyut nadinya yang sering kali terabaikan oleh mereka yang hanya melihat dari balik jendela mobil ber-AC. 

Satu minggu kemudian, di kamar kos barunya yang sempit di pinggiran kota, Arjuna mengunggah tulisan pertamanya. Dia tidak menyebut nama kampungnya secara spesifik. Dia membiarkannya menjadi fiksi yang bisa terjadi di mana saja, di sudut kota mana pun yang sedang lapar akan lahan. 

Dia menutup tulisannya dengan sebuah kutipan yang dia pelajari dari hari-hari terakhirnya di sana,

Kota yang hebat bukan kota yang punya gedung paling tinggi, tapi kota yang paling jujur menjaga cerita setiap warganya, sekecil dan sehitam apapun itu di balik debu pembangunan.”

Rumah hijau itu mungkin sudah rata dengan tanah sekarang, tapi di tangan Arjuna, Mbah Ijul dan ‘Barter Kenangan’-nya telah menemukan cara untuk hidup selamanya agar abadi di dalam dunia yang tak akan pernah bisa digusur oleh buldozer mana pun.

_

Penulis: Nadiya Firdaus,  Penulis asal Jawa Tengah yang menaruh perhatian besar pada dinamika sosial dan isu-isu kerakyatan. Meski bukan warga asli Surabaya, ia percaya bahwa setiap sudut kampung memiliki jiwa dan sejarah yang layak untuk tetap disuarakan agar tidak hilang ditelan pembangunan.

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Dave Robinson

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya