Menulis berarti terlibat. Tak ada tulisan sejati yang lahir di luar keterlibatan. Kata Nizar Qabbani, penyair romantik Suriah, dalam satu kumpulan esainya, al-kitabah ‘amal inqilaby (Menulis Adalah Tindakan Revolusioner). Dalam menemukan kesegaran ide, terutama terkait kepenulisan kreatif perkotaan, salah satu metode diuarkan Cheng Yi’En dalam jurnalnya Telling Stories of the City: Walking Ethnography, Affective Materialities, and Mobile Encounters.
Menurutnya, metode etnografi berjalan (walking ethnography) mampu melatih kepekaan seorang pengarang melihat rinci-rinci ruang perkotaan, dengan fokus pada pengalaman tubuh dan materialitas kota. Berjalan dipandang sebagai praktik yang mewujudkan pengalaman (embodied practice), tindakan performatif, dan gerakan relasional. Proses ini tak sekadar perjalanan dari titik A ke titik B, lebih dari itu, bergerak sirkular dalam menghadapi berbagai tarikan dan distraksi di lapangan.
Berjalan memungkinkan pengamat untuk merasakan ritme kota dan menghubungkan narasi ruang-waktu yang beragam. Hematnya, memimjam istilah Bordieu, kita menjadi seorang pengamat yang terlibat (The Stranger), kerja melantur, mengasah smell scape (lanskap aroma), food scape (lanskap makanan) yang dapat pula diperas menjadi kesadaran fisik, sosial dan budaya.
Kesungguhan kerja cipta pengarang di dalam mengerahkan seluruh konsentrasi dan kemampuan akal-rasa menghayati, merasuki seluk-beluk fakta, mengembangkan dan mengalurkannya ke dalam dunia fiksi serta menemukan diksi penciptaan disebut Iwan Simatupang dengan “T” dari “Tanggung Jawab”. Chairil Anwar menyebutkan kesuntukan disiplin olah estetik kepengarangan yang sama dengan istilah: menimbang, mengupas, menembus bagai sinar röntgen ke dalam putih tulang, memilih tanpa segan-segan membuang yang tidak perlu. Untuk hasil karya yang terlahir dari disiplin proses cipta seperti itu, tidak ada istilah “eksperimental” lagi, sebab produk yang jadi bukan hanya hasil “coba-coba”, melainkan benar-benar kehadiran karya seni yang berbicara sendiri.[1]
Modernisme bernafas dengan udara industrialisasi tiada habis. Terus-menerus memanjakan diri pada kemelekatan benda-benda, begitu pesat, tak segan-segan menumbalkan hunian manusia perkotaan, juga lingkungan biotik pada skala luas. Maka, tak heran, selang beberapa tahun saja kita tak mengunjungi kota A, perubahan terjadi besar-besaran secara simultan, kita kembali asing, tercengan, silau oleh sulap zaman. Demikian simpulan saya membaca 20 cerpen dalam antologi “Di Atas Peta, Kampung Itu Tak Ada dan cerita lainnya”.
Masalah yang hendak ditampilkan dalam cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi ini, sependek amatan saya, antara lain dibangun atas keterlibatan penulis-penulisnya dalam mengamati, memberi jarak pada objek amatan (as the stanger) mengenai “kiamat kecil” pecah di area pesisir Surabaya; proyek reklamasi pemerintah, aktivitas pertambangan, pencemaran kawasan pantai, dan kehendak “memumikan” lahan strategis menjadi cagar budaya atau kampung wisata demi merengkuh estetika tata ruang perkotaan yang ideal seturut detak modernisme.
Mengutip (paragraf utuh) Afrizal Malna[2], kota membangun dirinya dari modernisme yang merepresentasi dirinya tidak lagi sebagai bagian dari masa lalu, juga tidak lagi sebagai cerminan alam. Peninggalan-peninggalan sejarah pun banyak yang tergusur lewat tata ruang kota seperti ini. Ruang yang didominasi oleh kolusi antarpenguasa dan antarpengu-saha membangkrutkan pengelolalaan kota, rakyat semakin tersingkir, lingkungan kota yang rusak dan sebe-narnya sudah tergadai oleh timbunan utang terhadap lembaga-lembaga keuangan internasional. Dunia agraris lenyap begitu saja dari wajah kota yang berganti wajah industri. Sama seperti gambaran puisi lama yang lenyap dari puisi modern. Puisi Chairil Anwar berikut bisa dianggap sebagai representasi dari kehidupan kota demikian: “Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa. Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka, pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda: kenyataan-kenyataan yang didapatnya. (bioskop Capitol putar film Amerika, lagu-lagu baru irama mereka berdansa […] Semoga sypilis dan segala kusta (sedikit lagi bertambah derita bom atom pula). Ini buktikan tanda kedaulatan bersama.”
Sastra Indonesia pun tumbuh sebagai “sastra kota” Sebuah konsekuensi politis dan linguitis yang besar dari proses pembentukan nasionalisme sastra. Sastra Malaysia tumbuh sebagai “sastra kampung” karena banyak penduduknya meninggalkan kota yang dianggap sebagai pusat penghancuran budaya Melayu, sedangkan sastra Indonesia justru tumbuh sebagai “sastra kota” sejalan dengan pertumbuhan elite-elite baru yang berjuang di kota-kota besar. Sastra kota menjadi elitis, terutama karena ia dikonsumsi oleh dan untuk masyarakat terdidik yang menguasai bahasa Indonesia; mereka membaca media massa koran dan majalah, serta buku yang memuat karya sastra. Gejala ini berlangsung di tengah sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam budaya lisan, dan sedikit yang bisa mengikuti sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Di daerah, orang relatif besar masih menggunakan bahasa ibu untuk pergaulan sehari-hari mereka.[3]
Misalnya dalam cerpen Peta Nirjiwa, tokoh Arga, mahasiswa muda yang tak cuma mengunyah bejibun diktat kampus, tetapi juga ikut terlibat dalam upaya menolak penghapusan nama tempat (terindikasi identik wilayah pecinan). Penghapusan nama yang secara historis turut membentuk ingatan kolektif, artinya tak lain simbol penindasan, kekerasan budaya non material. Dalih efisiensi, penyesuaian, adalah eufimisme khas pemerintah secara tak langsung memompakan pada alam bawah sadar kita, psikologi masyarakat akar rumput (grassroot), untuk dengan suka rela mendukung program-program yang purna dimufakati dalam sidang tertutup. Akhirnya, nasib warga selaras suasana batin tokoh Arga, ia merasa seperti boneka ventriloquist.
Tawaran solutif dari masalah-masalah itu dapat pula dibaca dalam cerpen Gema Tawa di Lorong Bambu, dimana ancaman penggusuran Kampung Pulo disiasati pemudanya dengan melestarikan kembali tradisi dan budaya lokal, seperti (dalam cerpen dimisalkan) tarian remo dan jula-juli yang dikemas dalam suatu festival. Kampung Pulo akhirnya terbebas dari lindasan traktor dan monster panser-panser lantaran upaya defensif melalui budaya. Juga kampung Sawah Pulo dalam cerpen Karena Perjuangan Selalu Membutuhkan Pengorbanan yang kembali kondusif setelah arek-arek kampungnya mendirikan rumah baca (meskipun cerpen ini terkesan utopis jika dineracakan dalam sastra realisme).
Cerpen Utang Lumpur agaknya lebih realistis, tokoh Dursin mati-matian mengupayakan kebersihan pantai dan mendermakan diri memungut sampah-sampah yang berserak sekitar pantai, menanaminya dengan tumbuhan mangrove tetapi kemudian dieksploitasi menjadi Mangrov Conservation Park. Menurut tokoh Dursin, kita semua penoda lingkungan dan berutang besar padanya atas kedurhakaan kita pada terra mater (Ibu bumi). Paus Fransiskus dalam Ensikliknya “Laudato Si'” turut menyeru pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam, mencakup pertobatan ekologis dalam berbagai aspek kehidupan.
Saya dibayang-bayangi sajak Jokpin, Seribu Kunang-Kunang di Jakarta, saat membaca cerpen Kami Tidak Pernah Mencuri Bintang-Bintang, Menuju Muara, Kampung RT. 03, dimana landas tumpu (setting) dalam tiga cerpen ini bersinggungan, antara lain menyoal kerusuhan menimpa etnis Tionghoa dan rebaknya premanisme kota sekitar tahun 1960. Orang-orang komunis desa bermigrasi ke Surabaya dan mereka tak mudah mencari lapang kerja terutama profesi seniman.
Konflik mengenai tegangan dan sentimen tribalisme (fanatisme kesukuan, ashabiyah) tampak dalam cerpen Surga Jamaah di Nyamplungan. Surabaya, landas tumpu cerpen ini, selain dihuni pendatang dari Madura dan dataran China, juga ditempati pula keturunan Arab. Pertentangan seorang habib (cicit lelaki dari garis keturunan Nabi Muhammad) melawan tokoh kita, Anas, yang saling taksir dengan putrinya, Anisa. Tetapi tak mendapat restu karena Anas orang biasa, tak ada setetes pun darah keningratan mengalir dalam dirinya. Cerpen ini, sekilas, mengingatkan saya pada roman Buya Hamka Dalam Lindungan Ka’bah dengan kemiripan resolusi; jika Hamid yang (dalam roman itu) tak diizinkan menikahi Zainab, seorang putri minang bermartabat, putus asa lalu meninggalkan Zainab dan mencari perlindungan ke tanah suci Mekah, dalam cerpen ini resolusinya; Anas dan Anisa berlindung di bawah kemegahan pola arsitektur Jawa kuno berasimilasi gaya Hindu-Budha-Arab masjid Sunan Ampel.
Seperti umpatan cerpen Hari-hari Yang Penuh Gonggongan, menghadapi sistem heterogen yang seenak udelnya, yang menindas, yang mengeskploitasi kewajaran hidup demi membebek laju zaman yang biadab yang tak usai-usai direngkuh, hanya satu kalimat mendinginkan hati, “Hidup demikianlah asu, dan hanya itu yang harus aku jalani.”
Sekian.
Peresensi: Hamimie, menyelesaikan studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir di UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis. Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Harian Rakyat Sultra, Bangka Pos, Radar Banyuwangi, Sastra Berita Jatim, Ngewiyak dan media lain. Terpilih mengikuti Lokakarya Festival Sastra Kota Malang 2025 “Membaca Kota, Menulis Puisi”.
[1] Dami N. Toda, Apakah Sastra?, hal 26-27.
[2] Afrizal Malna, kumpulan esai Sesuatu Indonesia (Ruang Kota dan Teks-Teks Modernisme), hal 274-275.
[3] Afrizal Malna, kumpulan esai Sesuatu Indonesia (Geografi Sastra dari Peluru D’Alfonso, hal 230).

