Rumah Bertamankan Pelangi
Foto rumah

Mungkin, banyak orang yang tidak mengerti kenapa ada 25 keluarga bisa tinggal di Kampung Jemur Gayungan 1. Bisa-bisanya mereka hidup setiap hari di tengah jalan protokol Ahmad Yani yang setiap harinya penuh lalu lalang kendaraan. Rumah-rumah sederhana itu berjejer acak di tengah Kota Surabaya yang kini makin banyak gedung tinggi menjulang. Mereka tidak keder, mereka bertahan. Mereka sepertinya orang-orang pilihan Tuhan yang diberi anugerah kebersamaan dalam menghadapi peliknya kehidupan urban. 

Dahulu di sekitaran tahun 1970, Kampung tersebut memang seperti kampung di Surabaya pada umumnya. Masyarakat hidup berdampingan, rukun, saling gotong royong, dan toleransi antar sesama. Kampung itu terbilang cukup besar dan sudah padat penduduk di wilayah Surabaya Selatan. Tapi semua berubah ketika Pemerintah Kota mencoba membuat jalan besar penghubung Kota Satelit bernama Jalan Ahmad Yani. 

Hampir setengah warga di Jemur Gayungan dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggalnya untuk proyek pembangunan jalan ini. Dengan ganti rugi yang konon lumayan, para warga pun akhirnya pasrah untuk meninggalkan kampung halamannya. Para warga harus terima, tempat mereka menanam ari-ari itu telah berubah menjadi aspal. Para warga menjadi harus legowo bahwa lebaran dan hari-hari besar lainnya menjadi tidak seperti biasanya.

Entah apa pikiran Pemerintah Kota yang menyisakan warga RT 001/RW 003. Mereka tidak dipaksa untuk meninggalkan rumahnya. Hanya saja mereka menjadi terpaksa untuk hidup di tengah jalan raya. Tanah seluas lapangan sepakbola disisakan untuk tempat tinggal warga. Mereka harus terus bertahan hidup di tengah polusi kendaraan yang tiap tahun angkanya semakin memprihatinkan. Asap knalpot yang semakin berjibun itu seiring dengan terus meningkatnya suhu panas Kota Surabaya dari tahun ke tahun. 

Tinggal di Jemur Gayungan 1, memang tidak seperti hidup layaknya manusia perumahan pada umumnya. Setiap pagi dan sore hari, mereka akan disambut dengan asap knalpot dan suara klakson kendaraan yang berhambur tak karuan. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk hidup dan tinggal di sana. Semua pancaindera manusia sepertinya menjadi perlu untuk diberi kelebihan. Telinga, mata, hidung, kulit, hingga mulut menjadi seperti harus tebal. Jika tipis mungkin sehari tinggal di sana, serupa hidup di neraka. 

Kakek Wiryo hari itu merayakan ulang tahunnya yang ke-73. Sedari lahir tinggal di Jemur Gayungan 1, ia telah merasakan semua cerita panjang perjalanan hidup bagaimana kampung tersebut bertahan dan terus berdiri di pusat Kota Surabaya. Orang silih berganti datang dan pergi, tetapi Sang Kakek tetap setia hidup dengan keriuhan kendaraan di kanan-kiri.

Tidak ada perayaan istimewa hari itu. Sang Istri telah meninggal 11 tahun lalu dan anak-anaknya telah punya rumah bersama keluarga barunya. Surabaya pagi itu sangat terik. Ia selalu gumun, kenapa pagi di Surabaya datang begitu cepat. Berbeda dengan puluhan tahun lalu ketika Surabaya masih jarang terdapat rumah dan masih ada sawah. Ketika selesai salat subuh di musala, entah kenapa tiba-tiba matahari sudah ada di atas kepalanya.

Pagi itu, ia menatap para tetangga yang sedang akan berangkat kerja. Dengan wajah ramah, ia menyapa satu per satu warga sambil mengucap hati-hati di jalan. Kakek Wiryo sadar bahwa ada yang telah berubah dari tubuhnya. Tubuhnya tak sekuat dulu, nafasnya pun tak sedalam ketika ia masih muda. Untuk berjalan pun sang Kakek membutuhkan tongkat agar jalannya bisa lebih tegap.

Ulang tahunnya seperti tidak diberi mujur karena jatuh di hari Senin. Hari di mana Surabaya menjadi semerawut dengan orang-orang yang berangkat kerja. Namun, hari itu adalah hari spesialnya. Kakek Wiryo perlu membeli kue ulang tahun langganan di Bakeri yang ada di Wonocolo. Sang Kakek merasa perlu membeli kue ulang tahun untuk dibagikan kepada para tetangganya yang senasib sepenanggungan itu.

Sedari pagi, ia mengamati para tetangganya yang hendak dimintanya tolong untuk mengantar membeli kue tersebut. Namun, hari itu semua sedang sibuk. Menjelang akhir tahun, semua sedang bekerja keras untuk mencari rupiah agar bisa bertahan hidup. Pemuda yang paling nganggur di Kampung itu saja, mendadak rajin pagi itu karena mendapat pekerjaan menjadi tukang parkir dari orang asal Madura. 

Kakek Wiryo tidak kepikiran untuk titip kepada tetangganya untuk membeli kue ulang tahunnya itu. Ia ingin menyaksikan dan memilih sendiri kue mana yang terpilih sebagai yang paling spesial. Meskipun sudah tua, Kakek Wiryo ingin menyeleksi dengan matanya sendiri kue mana yang terbaik. Sang Kakek memang tidak ingin melewatkan sedikitpun momen spesial di hari kelahirannya itu.

Tidak mungkin untuk orang setua Kakek Wiryo pergi dari kampung itu sendirian. Bisa-bisa ia dilindas kendaraan yang lalu lalang ugal-ugalan di sepanjang jalan. Tidak sedikit warga Kampung tersebut mengalami kecelakaan gara-gara sekadar beli pulsa, rokok atau mie instan. Meski tidak ada yang fatal sampai meninggal, tapi yang menakutkan adalah yang menjadi lumpuh seumur hidup. Kejadian-kejadian menakutkan tersebut membuat Kakek Wiryo enggan keluar dari kampung itu sendirian.

Sedari pagi hingga sore, Sang Kakek menyaksikan bahwa hari itu tidak ada yang bisa dimintainya tolong. Ia hanya ngider dari barat ke timur lalu timur ke barat, kampung yang hanya punya panjang gang 70 meter saja tersebut. Sedari pagi hanya menoleh ke kanan-kiri rumahnya yang ternyata semua sudah kosong. Hari itu semua orang sedang bekerja atau bersekolah untuk yang masih muda. Di sebelah barat, Sang Kakek pun hanya menatap kantor Bulog sambil bergumam.

 “Kok bisa yah orang-orang dulu menyebutnya Dolog. Padahal seharusnya kan Bulog. Bunderan ini dulu disebut Dolog dari mana yah? Aduh, Orang-orang memang kadang suka menamai tempat seenak udelnya sendiri,” ucap Kakek berbicara sendiri.

Menjelang sore, Sang Kakek memutuskan untuk berjalan kaki ke arah Selatan. Dulunya di sana ada POM Bensin tempat Kakek Wiryo pernah bekerja. Ada sedikit dendam yang membuat Kakek Wiryo tidak pernah ke tempat itu lagi. Tempatnya bekerja saat itu digusur oleh Pemerintah Kota dengan atas nama penghijauan. Kakek Wiryo seperti mempunyai amarah dengan penggusuran. Dulu, Pemangku Kebijakan menggusur para tetangganya dan beberapa tahun kemudian mereka juga meratakan lahannya mencari nafkah. 

Amarah itu sebenarnya sudah lama mengendap di dada Kakek Wiryo. Ia tidak pernah benar-benar marah, tapi juga tidak pernah benar-benar memaafkan. Setiap kali melintas di bekas POM bensin itu, dadanya selalu terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang belum tuntas, tapi ia tak tahu harus mengadu pada siapa.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat sesuatu yang asing di seberang jalan. Lampu-lampu kecil berwarna merah, hijau, kuning, dan biru mulai menyala satu per satu. Bukan kendaraan, bukan reklame. Bukan pula sirine Polisi atau ambulan yang sering membuat bising jalanan. Cahaya itu datang dari sebuah taman kecil yang baru ia sadari keberadaannya: Taman Pelangi.

Kakek Wiryo berdiri lama di pinggir jalan, memegang tongkatnya erat. Ia ingat, tempat itu dulu hanya tanah kosong penuh debu. Kini, anak-anak berlarian, orang-orang duduk di bangku taman, dan lampu warna-warni memantul di wajah mereka yang tampak bahagia. Untuk pertama kalinya hari itu, Kakek Wiryo merasa kota ini tidak sepenuhnya kejam.

Seorang bocah perempuan menghampirinya, menggenggam balon kecil berbentuk bintang. “Kek, kenapa nggak masuk? Bagus loh tamannya,” ucap Sang Bocah dengan wajah polos.

Kakek Wiryo tersenyum kecut. Ia teringat cucunya yang sekarang mungkin seusia dengan Bocah itu. “Kakek sudah terlalu tua buat tempat begituan.”

Bocah itu menggeleng. “Nggak kok. Pelangi kan buat semua orang.”

Kalimat sederhana itu menampar ingatan Kakek Wiryo. Dulu, istrinya pernah berkata hal yang hampir sama—bahwa warna-warni selalu punya cara menyelamatkan manusia dari rasa gelap. Mendengar itu, badan Kakek Wiryo menjadi tegap tapi hatinya malah menjadi ringkih. Selama bertahun-tahun tinggal di dalam Kampung memang membuatnya jarang melihat dunia luas.

Malam itu, Kakek Wiryo pulang tanpa kue ulang tahun. Tapi kepalanya dipenuhi pikiran yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Keesokan harinya, ia mulai menata halaman rumahnya yang sempit. Ia menanam bunga apa saja yang bisa ia dapatkan: bunga kertas, kenikir, telang, dan beberapa pot cat bekas yang ia warnai sendiri.

Hari demi hari, halaman kecil itu berubah. Orang-orang mulai berhenti sejenak di depan rumahnya. Anak-anak menyebutnya Rumah Bertaman Pelangi. Tidak sebesar taman kota, tidak seterang lampu LED, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang lewat merasa ingin pulang.

Di ulang tahunnya yang ke-73 itu, Kakek Wiryo memang tidak meniup lilin. Tapi ia menanam sesuatu yang jauh lebih abadi: harapan. Dan di tengah bisingnya Jalan Ahmad Yani dan panasnya Kota Surabaya, rumah kecil itu berdiri teguh—menjadi pelangi yang tidak pernah digusur.

_

Penulis: Ismail Noer Surendra

Editor: Azkal Azkia Nurrohmat

Foto: Unsplash.com/Redd Francisco

Share Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya